Kesepakatan AS-Iran untuk Mengakhiri Perang
Draf yang diperoleh oleh media menyebutkan bahwa Amerika Serikat (AS), Iran, dan sekutunya sepakat untuk menghentikan perang, tidak melakukan tindakan permusuhan, serta memulai negosiasi menuju perjanjian final dalam waktu 60 hari. Dalam kesepakatan tersebut, Iran tetap mempertahankan program nuklir sipilnya dan berjanji tidak mengembangkan senjata nuklir.
Beberapa poin penting dari draf tersebut mencakup:
- Amerika akan mencabut blokade laut terhadap Iran segera setelah penandatanganan nota kesepahaman.
- Pasukan AS akan ditarik secara bertahap dalam waktu 30 hari sejak tanggal kesepakatan final.
- Iran akan berupaya melanjutkan lalu lintas pengiriman dalam waktu 30 hari dengan mempertimbangkan kebutuhannya untuk menghilangkan hambatan.
- Washington akan bekerja sama dengan mitra regionalnya dalam rehabilitasi dan pembangunan ekonomi Iran.
- Sanksi terhadap Iran akan diakhiri sesuai jadwal yang disepakati sebagai bagian dari perjanjian.
- Iran menegaskan kembali bahwa mereka tidak akan pernah memproduksi senjata nuklir.
- Teheran dan Washington sepakat untuk membahas nasib bahan yang diperkaya dan masalah nuklir dalam kesepakatan final.
- Status quo akan dipertahankan hingga kesepakatan akhir tercapai.
- Iran akan mempertahankan program nuklirnya saat ini tanpa adanya sanksi tambahan dari AS.
- Washington akan melepaskan dana dan aset Iran yang dibekukan.
- Minyak Iran dan layanan perbankan terkait akan dikeluarkan dari sanksi.
Penolakan AS untuk Membagikan Teks Kesepakatan Kepada Israel
Saluran TV Israel, Channel12, melaporkan bahwa Israel meminta AS untuk membagikan teks nota kesepahaman dengan Iran, namun permintaan itu ditolak. Salah satu alasan penolakan adalah kekhawatiran pemerintahan Presiden AS Donald Trump bahwa Perdana Menteri Israel Netanyahu akan membocorkan perjanjian itu sebelum dirilis. Israel masih belum mengetahui rincian lengkap dari perjanjian tersebut, dan penolakan AS mencegah para pejabat Israel mengetahui ketentuan dari kesepahaman terbaru sebelum ditandatangani.
Isu-isu yang Mengkhawatirkan Israel
Sebelumnya, The Wall Street Journal mengungkapkan kekhawatiran Israel tentang kesepakatan Washington dan Teheran. Menurut laporan tersebut, Netanyahu berupaya mengadakan pertemuan mendesak dengan Trump untuk menyelesaikan “isu-isu yang bertentangan” dalam perjanjian itu. Kekhawatiran diperparah dengan kurangnya kejelasan mengenai beberapa ketentuan perjanjian, termasuk tentang program rudal balistik, pembatasan pengaruh Iran di kawasan, dan isu lainnya menurut Israel.
Latar Belakang Perang AS-Israel Vs Iran
Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran meletus pada 28 Februari 2026 setelah Washington dan Tel Aviv melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas strategis Iran menyusul kegagalan perundingan nuklir di Jenewa. AS dan Israel menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir, sedangkan Teheran menegaskan program nuklirnya hanya untuk kepentingan sipil.
Perang semakin memanas setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan wafat dan posisinya digantikan oleh Mojtaba Khamenei. Sebagai balasan, Iran menyerang sejumlah target di Israel dan pangkalan militer AS di kawasan Teluk serta memperketat pengawasan di Selat Hormuz.
Setelah hampir 40 hari pertempuran, gencatan senjata sementara berhasil dicapai melalui mediasi Pakistan pada 8 April 2026. Kemudian, pada 15 Juni 2026, Presiden AS Donald Trump mengumumkan tercapainya nota kesepahaman antara Washington dan Teheran sebagai landasan negosiasi selama 60 hari. Berdasarkan kesepakatan tersebut, Iran tetap diperbolehkan memperkaya uranium untuk kebutuhan sipil di bawah pengawasan internasional dan berjanji tidak mengembangkan senjata nuklir.
Sebagai imbalannya, Iran berharap memperoleh pelonggaran sanksi, pencairan aset yang dibekukan, serta pembukaan kembali Selat Hormuz, meski sejumlah perbedaan dengan Israel masih membayangi menjelang penandatanganan perjanjian resmi pada 19 Juni 2026 di Swiss.






