film  

Marshanda Berani Melawan Kekerasan Seksual Dengan Film Saat Aku Bersuara

Film “Saat Aku Bersuara” Menyuarakan Suara yang Tenggelam

Film layar lebar “Saat Aku Bersuara” hadir sebagai karya yang mengangkat isu penting tentang kekerasan seksual dan bagaimana suara para korban sering kali terdengar hanya dalam ketakutan. Dalam film ini, Marshanda memerankan karakter Nadia, seorang pengacara muda yang mengalami perubahan hidup drastis setelah menjadi korban kekerasan seksual saat mencoba melindungi sahabatnya.

Selama proses pemeranannya, Marshanda melakukan riset mendalam dengan berbincang langsung dengan sejumlah penyintas. Ia menemukan bahwa setiap orang memiliki cerita dan luka yang berbeda. Namun, satu hal yang sering dialami oleh para korban adalah rasa takut untuk menyampaikan apa yang terjadi karena takut disalahkan atau dianggap tidak percaya.

Marshanda mengatakan bahwa karakter Nadia sangat menantang untuk diperankan. Proses perjalanan Nadia dari keadaan yang sangat rendah hingga akhirnya bangkit membutuhkan pemahaman yang mendalam tentang emosi penyintas. Ia menjelaskan bahwa tantangan terbesar bukanlah menggambarkan kesedihan atau kemarahan, tetapi bagaimana tokoh tersebut memutuskan untuk bangkit dan percaya bahwa perjuangannya memiliki arti.

Di dalam film, Nadia bertemu dengan penyintas lain yang mengalami nasib serupa. Mereka bersama-sama membentuk gerakan #NoMoreSilence, sebuah perlawanan terhadap budaya diam yang sering kali lebih melindungi pelaku daripada mendengarkan korban. Melalui gerakan ini, Nadia belajar bahwa kemenangan tidak selalu harus dirasakan secara personal, tetapi bisa menjadi harapan bagi orang lain.

Harapan itu menjadi emosi utama dalam film yang berdurasi 85 menit ini. Bukan sekadar amarah terhadap ketidakadilan, melainkan keyakinan bahwa keberanian untuk bersuara dapat mengubah keadaan. Penulis naskah, Tisa TS, menyampaikan pandangan serupa. Ia mengatakan bahwa film ini dibuat sebagai ajakan untuk menghentikan budaya diam yang selama ini menguntungkan pelaku.

“Kita tidak cuma menonton film sebagai hiburan, tetapi juga menyaksikan sebuah gerakan untuk membuat orang-orang berhenti bungkam,” ujar Tisa. Ia menambahkan bahwa segala sesuatu yang selama ini dibungkam, tidak boleh terjadi lagi.

Sonu Samtani, salah satu produser film, meyakini bahwa keberanian perempuan untuk bangkit dan berbicara akan membawa perubahan yang lebih luas. Ia mengatakan bahwa ketika perempuan berani bersuara dan bangkit, itu akan menjadi fenomena yang mengubah segalanya.

Keyakinan tersebut terasa menjadi denyut utama “Saat Aku Bersuara.” Di balik drama hukum dan konflik yang ditampilkan, film ini mengingatkan bahwa kekerasan seksual bukan hanya soal satu korban dan satu pelaku. Ada budaya yang perlu dihadapi bersama, dan ada keheningan yang perlu diakhiri dalam masalah tersebut.

Melalui Nadia, Marshanda menghadirkan wajah para penyintas yang selama ini berjuang dalam sunyi. Dan lewat film ini, suara mereka diajak keluar dari bayang-bayang ketakutan untuk didengar lebih lantang daripada sebelumnya.

Film drama hukum “Saat Aku Bersuara” sudah resmi tayang di bioskop Indonesia mulai hari ini, Kamis (18/6/2026).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *