SURABAYA – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital yang mengubah cara anak-anak mengakses informasi, kebutuhan akan bacaan berkualitas tetap menjadi fondasi penting dalam proses tumbuh kembang mereka.
Di balik hadirnya berbagai buku edukatif yang menemani masa kanak-kanak, terdapat sosok Solikhatul Fatonah Kurniawati, S.Psi., alumnus Fakultas Psikologi Universitas Airlangga angkatan 2000 yang dikenal luas sebagai penulis buku anak produktif di Indonesia.
Perempuan yang akrab disapa Kak Watiek tersebut telah menghasilkan ratusan karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat nilai pendidikan dan pembentukan karakter.
Bekal ilmu psikologi yang diperolehnya selama menempuh pendidikan menjadi landasan dalam merancang cerita yang mampu menyampaikan pesan moral secara dekat dengan dunia anak.
Dedikasi panjangnya di bidang literasi anak mendapat pengakuan nasional ketika pada 2023 ia menerima Anugerah Kebudayaan Indonesia kategori Pelopor dan Pembaru dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Penghargaan tersebut diberikan atas kontribusinya dalam menghadirkan inovasi di bidang literasi anak sekaligus kemampuannya menjawab tantangan zaman melalui pendekatan yang kreatif dan relevan.
Komitmen itu juga terlihat saat Indonesia menghadapi pandemi beberapa tahun lalu. Ketika kebutuhan edukasi kesehatan bagi anak meningkat, Kak Watiek bergerak cepat menyusun sejumlah buku sederhana yang menjelaskan pentingnya protokol kesehatan dengan bahasa yang mudah dipahami.
Tidak hanya menerbitkan dalam bentuk cetak, ia juga menyediakan versi digital secara gratis agar informasi dapat diakses lebih luas oleh masyarakat.
Semangat untuk memperluas manfaat literasi kemudian diwujudkan melalui pendirian PT Semesta Raya Ideo atau yang dikenal dengan nama Ideokids.
Melalui perusahaan tersebut, ia mengembangkan berbagai produk edukatif yang menggabungkan unsur visual, aktivitas interaktif, dan pendekatan psikologi perkembangan anak.
Dalam beberapa tahun terakhir, Kak Watiek juga aktif mengembangkan konsep Motion Book atau buku bergerak yang dirancang untuk meningkatkan keterlibatan anak saat membaca.
Menariknya, proyek tersebut melibatkan mahasiswa magang dari Fakultas Psikologi Universitas Airlangga. Para mahasiswa diajak berkontribusi dalam penyusunan aktivitas interaktif yang mengacu pada teori perkembangan kognitif Jean Piaget serta teori psikososial Erik Erikson.
Kolaborasi tersebut menghasilkan berbagai materi pembelajaran yang tidak hanya bermanfaat bagi anak-anak, tetapi juga membantu orang tua memahami cara mendukung perkembangan kognitif dan sosial emosional putra-putri mereka secara optimal.
Kepedulian Kak Watiek terhadap isu sosial juga tercermin dalam seri buku “Aku Anak Berani”. Melalui karya tersebut, ia mengangkat berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan anak, termasuk perundungan atau bullying yang masih menjadi tantangan di lingkungan sekolah dan pergaulan.
Penyusunan buku dilakukan melalui proses riset yang melibatkan sejumlah ahli, mulai dari psikolog hingga lembaga terkait perlindungan anak.
Karya tersebut bahkan memperoleh rekomendasi dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI), sehingga materi yang disampaikan dapat diterima secara aman dan tepat oleh anak maupun orang tua.
Bagi Kak Watiek, buku bukan sekadar media membaca, melainkan sarana membangun komunikasi antara orang tua dan anak. Ia meyakini bahwa pendidikan karakter yang kuat berawal dari keluarga, sementara cerita menjadi jembatan efektif untuk menyampaikan berbagai nilai kehidupan.
“Kalau disampaikan di dalam cerita secara halus, nilai-nilai itu bisa lebih mengena ke hati mereka,” ujarnya, (25/06/26) Kamis.
Sebagai alumnus Universitas Airlangga, Kak Watiek terus membawa semangat keberanian, kreativitas, dan integritas dalam setiap langkah pengabdiannya.
Lewat berbagai program seperti Kelas Impian hingga pertunjukan Wayang Kota, ia membuktikan bahwa alumni tidak hanya mampu menghasilkan karya yang berdampak luas, tetapi juga berperan aktif dalam memberdayakan masyarakat melalui pendidikan yang menyenangkan dan bermakna.
Perjalanan panjang Solikhatul Fatonah Kurniawati menjadi bukti bahwa literasi memiliki kekuatan besar membentuk generasi masa depan. Dengan konsistensi dan inovasi yang terus dikembangkan, ia menghadirkan ruang belajar yang lebih dekat, hangat, dan relevan bagi anak-anak Indonesia.





