Fortinet Security Summit Indonesia 2026 Hadir di Surabaya, Fokus Keamanan Era AI

Teks Foto : Fortinet Security Summit Indonesia 2026, Surabaya Edition di Sheraton Surabaya Hotel & Towers, Kamis (20/8/2026), mempertemukan pemimpin bisnis, pengambil keputusan TI, pemerintah, pelanggan, mitra, dan pakar keamanan siber untuk membahas strategi menghadapi tantangan keamanan digital di era AI. (ist)

SURABAYA – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membawa peluang besar bagi transformasi digital, namun di sisi lain juga membuat tantangan keamanan siber semakin kompleks. Kondisi tersebut mendorong organisasi untuk memperkuat sistem keamanan sekaligus memastikan pemanfaatan teknologi AI berjalan secara aman dan bertanggung jawab.

Persoalan itu menjadi salah satu fokus dalam Fortinet Security Summit Indonesia 2026, Surabaya Edition yang digelar Fortinet di Sheraton Surabaya Hotel & Towers, Surabaya, Kamis (20/8/2026).

Kegiatan tersebut mempertemukan para pemimpin bisnis, pengambil keputusan teknologi informasi (TI), pelanggan, mitra, serta pakar keamanan siber untuk membahas strategi menghadapi berbagai risiko keamanan di tengah percepatan transformasi digital berbasis AI.

Berlangsung selama satu hari, Fortinet Security Summit menghadirkan presentasi utama, kisah sukses pelanggan, sesi teknis, hingga laboratorium pembelajaran langsung. Berbagai topik yang dibahas mencakup AI Security, Cloud Security, Secure Networking, Security Operations (SecOps), Secure Access Service Edge (SASE), Operational Technology (OT) Security, hingga ketahanan siber perusahaan.

Melalui berbagai sesi tersebut, peserta mendapatkan wawasan mengenai penerapan pendekatan keamanan terpadu untuk meningkatkan visibilitas, menyederhanakan operasional, sekaligus memberikan perlindungan yang konsisten di tengah lingkungan digital yang semakin kompleks.

Country Director Fortinet Indonesia, Edwin Lim, menjelaskan adopsi AI membuka peluang bagi organisasi di Indonesia untuk meningkatkan inovasi dan produktivitas. Namun, teknologi tersebut juga turut mengubah lanskap ancaman siber.

“AI menciptakan berbagai peluang baru bagi organisasi di Indonesia untuk berinovasi dan meningkatkan produktivitas, tetapi pada saat yang sama juga mengubah lanskap keamanan siber dengan memungkinkan ancaman bergerak lebih cepat dan menjadi semakin meyakinkan,” ujarnya.

Menurut Edwin, organisasi membutuhkan strategi keamanan yang memungkinkan pemanfaatan AI dilakukan dengan percaya diri, sekaligus meningkatkan visibilitas dan ketahanan di berbagai lingkungan digital.

“Fortinet Security Summit di Surabaya mempertemukan pelanggan, mitra, dan para pemimpin industri untuk berbagi wawasan praktis serta mengeksplorasi bagaimana pendekatan terpadu terhadap jaringan dan keamanan dapat mendukung pertumbuhan digital yang aman,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Pemerintah Kota Surabaya, Dr. Drs. Eddy Christijanto, M.Si., menilai penguatan keamanan siber menjadi bagian penting seiring semakin luasnya pemanfaatan layanan publik digital dan infrastruktur data di Surabaya.

“Seiring Surabaya terus memperluas layanan publik digital dan infrastruktur datanya, menjaga keamanan dan ketahanan sistem-sistem tersebut tetap menjadi prioritas penting,” katanya.

Ia menyebut penguatan tersebut mencakup manajemen keamanan informasi, perlindungan data dan aplikasi pemerintah, hingga kesiapan dalam merespons potensi insiden siber.

“Diskusi seperti yang berlangsung dalam Fortinet Security Summit Indonesia 2026 relevan untuk berbagi perspektif mengenai bagaimana pemerintah dan industri dapat terus memperkuat kapabilitas keamanan siber seiring berkembangnya layanan digital,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Direktur Kebijakan Tata Kelola Keamanan Siber dan Sandi Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Agus Prasetyo, S.Kom., M.M. Ia menilai meningkatnya penggunaan AI tidak hanya menghadirkan peluang bagi perkembangan ekonomi digital Indonesia, tetapi juga memunculkan tantangan baru dalam keamanan siber.

“Meningkatnya adopsi kecerdasan buatan menciptakan berbagai peluang baru bagi ekonomi digital Indonesia, sekaligus menghadirkan tantangan keamanan siber baru,” katanya.

Menurut Agus, ketika AI semakin terintegrasi ke dalam berbagai sistem dan layanan digital, aspek keamanan, tata kelola, ketahanan, dan kepercayaan perlu berjalan beriringan dengan inovasi.

“Fortinet Security Summit Indonesia 2026 menyediakan forum bagi para pemangku kepentingan untuk mendiskusikan perkembangan ini serta pentingnya memastikan AI digunakan secara aman, bertanggung jawab, dan dengan perlindungan yang tepat,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Fortinet kembali menegaskan komitmennya untuk mendukung organisasi di Indonesia melalui pengembangan solusi keamanan siber, penyediaan intelijen ancaman yang dapat ditindaklanjuti, serta investasi berkelanjutan dalam pendidikan dan pengembangan keterampilan di bidang keamanan siber.