Guru Besar FPK UNAIR Soroti Kunci Masa Depan Perikanan ASEAN di IFS 2026 Filipina

Teks Foto : Prof. Mochammad Amin Alamsjah menyampaikan sambutan dalam The 14th International Fisheries Symposium (IFS 2026) yang mengangkat tema “One Blue ASEAN Fisheries for the Future” pada 12–15 Oktober 2026. (Dok : FPK UNAIR)

LOILO, Filipina – Penguatan kerja sama antarnegara dinilai menjadi salah satu kunci untuk menjawab tantangan sektor perikanan dan kelautan di masa depan. Hal tersebut disampaikan Guru Besar Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Mochammad Amin Alamsjah, dalam The 14th International Fisheries Symposium (IFS 2026) yang digelar pada 12–15 Oktober 2026 di Iloilo City, Filipina.

Dalam forum internasional tersebut, Prof. Amin hadir sebagai Ketua ASEAN Fisheries Education Network (ASEAN-FEN) periode 2025–2026. Ia mendorong penguatan kolaborasi pendidikan, penelitian, dan inovasi agar perguruan tinggi serta para pemangku kepentingan di kawasan ASEAN dapat bersama-sama mengembangkan sektor perikanan dan kelautan.

IFS 2026 mengangkat tema “One Blue ASEAN Fisheries for the Future”. Forum ini mempertemukan akademisi, peneliti, pelaku industri, dan pembuat kebijakan untuk bertukar gagasan mengenai perkembangan ilmu perikanan dan kelautan, sekaligus membahas berbagai tantangan yang dihadapi sektor tersebut.

Penyelenggaraan simposium edisi ke-14 ini dipercayakan kepada University of the Philippines Visayas (UPV), dengan Iloilo Convention Center sebagai lokasi kegiatan.

Dalam sambutannya, Prof. Amin menilai IFS 2026 memiliki posisi strategis sebagai ruang pertemuan berbagai kalangan untuk berbagi hasil penelitian, membahas perkembangan keilmuan, serta memperluas peluang kerja sama internasional.

“The 14th International Fisheries Conference (IFS 2026) is a prestigious academic forum that brings together researchers, academicians, industry practitioners, and policymakers to discuss the latest advancements and challenges in the fields of fisheries and marine sciences,” ujar Prof. Amin.

Menurut dia, manfaat konferensi tidak sebatas pada penyampaian hasil penelitian. Forum tersebut juga dapat menjadi sarana membangun jejaring antarlembaga dan mendorong lahirnya inovasi melalui kolaborasi yang lebih luas, termasuk lewat ASEAN-FEN.

Semangat itu selaras dengan tema “One Blue ASEAN Fisheries for the Future”, yang menempatkan sinergi regional sebagai bagian penting dalam mempersiapkan masa depan sektor perikanan dan kelautan.

Prof. Amin berharap pertemuan tersebut mampu membuka lebih banyak ruang kerja sama, terutama dalam memperlancar pertukaran pengetahuan antara perguruan tinggi, peneliti, dan berbagai pemangku kepentingan di ASEAN maupun negara mitra.

“I hope that today’s event will serve as a catalyst for strengthening international cooperation on the transfer of knowledge,” tuturnya.

IFS 2026 diikuti beragam unsur, mulai dari perwakilan pemerintah dan lembaga perikanan, pimpinan perguruan tinggi, akademisi, peneliti, hingga pembicara internasional.

Delegasi universitas anggota ASEAN-FEN turut hadir dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina, dan negara anggota lainnya. Partisipasi juga datang dari perwakilan China dan Jepang.

Keberagaman peserta tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan perikanan membutuhkan kontribusi banyak pihak. Persoalan keberlanjutan sumber daya, pemanfaatan teknologi, hingga pengembangan inovasi tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu pendekatan, melainkan memerlukan pertukaran pengalaman dan kerja bersama antara dunia akademik, pemerintah, serta industri.

Dalam kesempatan itu, Prof. Amin menyampaikan penghargaan kepada pimpinan University of the Philippines Visayas, Dekan College of Fisheries and Ocean Sciences (CFOS) Prof. Harold M. Monteclaro, ketua pelaksana IFS ke-14, dan seluruh panitia yang telah menyukseskan penyelenggaraan kegiatan.

Ia menegaskan, upaya memajukan sektor perikanan akan lebih efektif apabila mendapat dukungan berkelanjutan dari berbagai pemangku kepentingan.

“Our interest can succeed only with continued interest and support from diverse parties including university, industries, government, and sponsors,” ungkapnya.

Dukungan tersebut menjadi salah satu unsur penting dalam membangun ekosistem perikanan yang adaptif, mendorong pemanfaatan hasil penelitian, serta merespons kebutuhan sektor perikanan dan kelautan pada masa mendatang.

Kehadiran Prof. Mochammad Amin Alamsjah dalam kapasitasnya sebagai Ketua ASEAN-FEN periode 2025–2026 sekaligus memperkuat peran akademisi UNAIR dalam membangun jejaring pendidikan dan penelitian perikanan di kawasan Asia Tenggara.

Melalui ASEAN-FEN, kolaborasi antarperguruan tinggi diharapkan semakin terbuka, baik dalam pelaksanaan riset bersama, pertukaran pengetahuan, maupun pengembangan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan sektor perikanan dan kelautan.

Kerja sama regional tersebut juga berpotensi memperluas kesempatan bagi akademisi dan peneliti untuk menghasilkan solusi berbasis ilmu pengetahuan, terutama dalam menjawab tantangan pengelolaan sumber daya perikanan secara berkelanjutan.

Melalui partisipasi dalam forum internasional seperti IFS 2026, UNAIR turut mengambil bagian dalam mendorong penguatan kapasitas akademik dan kolaborasi lintas negara demi mendukung masa depan sektor perikanan yang lebih inovatif dan berkelanjutan.