SURABAYA – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Prof. Dr. H. Abdul Mu’ti, M.Ed., mengapresiasi SD Muhammadiyah 4 (Mudipat) Surabaya yang dinilai berhasil menjadi salah satu sekolah model di tingkat nasional.
Ia berharap sekolah tersebut terus menjadi rujukan dalam penerapan kebijakan pendidikan, termasuk pendekatan pembelajaran mendalam atau deep learning.
Menurut Abdul Mu’ti, penerapan deep learning di Mudipat telah berjalan sesuai dengan konsep yang dikembangkan pemerintah. Praktik tersebut diharapkan dapat menjadi contoh bagi sekolah lain sehingga pendekatan pembelajaran ini bisa diterapkan secara lebih luas di seluruh Indonesia.
Pemerintah pun berencana memperluas implementasi deep learning pada 2027. Abdul Mu’ti menargetkan pendekatan tersebut dapat diterapkan di seluruh sekolah di Indonesia dalam kurun waktu kurang dari lima tahun.
Selain penguatan metode pembelajaran, pemerintah juga menyiapkan pengembangan sekitar 10 ribu guru master, khususnya di bidang science, technology, engineering, and mathematics (STEM).
Para guru tersebut direncanakan mengikuti pelatihan di luar negeri secara bertahap untuk meningkatkan kompetensi sekaligus mendukung pengembangan sekolah unggulan berbasis STEM.
Meski demikian, pengembangan pendidikan nasional tidak hanya berorientasi pada penguasaan sains dan teknologi. Pemerintah turut mendorong penguatan seni dan olahraga sebagai bagian dari pembangunan sekolah nasional terintegrasi.
Hal itu disampaikan Abdul Mu’ti saat meresmikan Mudipat Sport Center (MSC) di SD Muhammadiyah 4 Surabaya, Senin (12/10/2026). Ia berharap kehadiran fasilitas olahraga tersebut dapat mendukung pembentukan generasi muda yang sehat dan tangguh.
“Ketika sekarang dibangun sarana olahraga di Mudipat ini, mudah-mudahan bisa menjadi bagian dari upaya kita bersama membangun generasi yang sehat dan kuat,” kata Abdul Mu’ti, (12/10/26) Senin sore.
Olahraga Jadi Bagian Penguatan Karakter
Abdul Mu’ti menegaskan, pendidikan karakter perlu dikembangkan melalui empat aspek utama, yakni olahraga, seni, olah pikir, serta olah hati dan rasa. Keempatnya harus berjalan seimbang agar peserta didik tumbuh dengan kesehatan jasmani dan rohani, kecerdasan intelektual, serta moralitas yang baik.

Untuk memperkuat pentingnya membangun pribadi yang tangguh, ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW, al-mu’minul qawiyyu khairun wa ahabbu ilallah minal mu’minidh dha’i, yang berarti mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.
Menurutnya, makna kekuatan dalam hadis tersebut tidak terbatas pada kemampuan fisik. Kekuatan juga mencakup keimanan, spiritualitas, dan moralitas yang menjadi fondasi pembentukan karakter seseorang.
Ia turut mengangkat kisah Nabi Musa dalam Al-Qur’an mengenai kriteria pekerja yang baik, yakni memiliki kekuatan dan dapat dipercaya. Kisah Thalut yang diangkat sebagai pemimpin Bani Israil juga menjadi pengingat bahwa kepemimpinan tidak semata-mata ditentukan oleh kekayaan atau garis keturunan, tetapi juga ilmu pengetahuan dan kemampuan.
Abdul Mu’ti menjelaskan, Al-Qur’an menggambarkan Thalut sebagai sosok yang memiliki keluasan ilmu dan kekuatan fisik. Nilai tersebut, menurutnya, relevan dengan penyelenggaraan pendidikan yang memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kecerdasan sekaligus menjaga kebugaran tubuh.
Ia juga menyoroti kebiasaan kurang bergerak yang banyak ditemukan pada anak-anak saat ini. Aktivitas fisik, kata dia, perlu menjadi bagian dari keseharian peserta didik sejak dini agar mereka terbiasa menjalani pola hidup aktif dan sehat.
“Anak-anak kita sekarang banyak yang mager, malas gerak. Jarak 100 meter saja naik motor. Padahal, jarak 100 meter itu bisa ditempuh dengan berjalan kaki,” ujarnya.
Melalui pembangunan Mudipat Sport Center, Abdul Mu’ti berharap fasilitas tersebut tidak sekadar menjadi sarana olahraga, tetapi juga dimanfaatkan untuk membangun kebiasaan hidup aktif, memperkuat karakter, serta mendukung pertumbuhan generasi yang sehat secara fisik dan mental.
Keberadaan fasilitas ini sekaligus diharapkan memperkuat peran sekolah dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya menekankan pencapaian akademik, tetapi juga keseimbangan antara kecerdasan, kesehatan, dan pembentukan karakter peserta didik.






