SURABAYA – Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) memperkuat kolaborasi akademik internasional melalui penyelenggaraan International Conference on Applied Science and Technology (ICAST) 2026. Forum ilmiah yang berlangsung pada 9–10 Oktober 2026 di Hotel Platinum Tunjungan, Surabaya, ini mempertemukan peneliti, akademisi, praktisi industri, dan mahasiswa dari berbagai negara untuk mendorong pengembangan riset terapan yang berdampak bagi industri dan masyarakat.
Konferensi tersebut mengangkat dua bidang utama, yakni Engineering Science dan Social Science. Pada bidang Engineering Science, ICAST 2026 berkolaborasi dengan Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) dan menerima sekitar 162 makalah. Sementara itu, bidang Social Science bekerja sama dengan EDP Sciences dengan sekitar 70 makalah dinyatakan diterima.
Peserta konferensi berasal dari sejumlah negara, di antaranya Arab Saudi, Jepang, Amerika Serikat, Taiwan, Filipina, dan Malaysia. Keterlibatan akademisi lintas negara serta mitra publikasi ilmiah tersebut memperluas kesempatan pertukaran pengetahuan sekaligus membuka peluang kerja sama penelitian antarperguruan tinggi.
Dalam sambutan mewakili Direktur PENS, Wakil Direktur Bidang Akademik PENS, Prof. Moch. Zen Samsono Hadi, ST., M.Sc., Ph.D., menekankan pentingnya menghubungkan hasil penelitian dengan kebutuhan nyata di lapangan.
Menurutnya, perguruan tinggi vokasi memiliki peran strategis dalam menjembatani pengembangan ilmu pengetahuan dengan praktik, mempertemukan dunia penelitian dengan industri, serta memastikan inovasi mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
“Riset terapan tidak seharusnya berhenti pada publikasi ilmiah atau eksperimen di laboratorium. Lebih dari itu, riset perlu menghasilkan solusi yang dapat diterapkan di industri, mendorong inovasi, dan menjawab persoalan nyata di masyarakat. Melalui ICAST 2026, kami berharap kolaborasi antara politeknik, perguruan tinggi, dan mitra nasional maupun internasional semakin kuat sehingga hasil penelitian dapat memberikan manfaat yang lebih luas,” ujar Prof. Zen.
Ia juga menyoroti perlunya memperkuat kolaborasi antarp politeknik dan kemitraan dengan berbagai pihak. Kerja sama tersebut dapat diwujudkan melalui penelitian bersama, pemanfaatan fasilitas riset, serta pengembangan hubungan dengan industri agar hasil penelitian memiliki peluang lebih besar untuk diterapkan.
Senada dengan hal itu, Wakil Ketua Indonesian Society of Applied Science (ISAS), Prof. Dr. Mike Yuliana, S.T., M.T., menyampaikan bahwa penelitian terapan perlu diarahkan pada penciptaan solusi praktis, pengembangan teknologi, dan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“ICAST menjadi ruang bagi para peneliti dan akademisi untuk berbagi gagasan, memperkuat kolaborasi, serta mengembangkan riset yang berorientasi pada kebutuhan nyata. Kami berharap penelitian yang dipresentasikan dalam konferensi ini tidak hanya memperkaya pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga mendorong lahirnya solusi praktis, inovasi teknologi, dan manfaat konkret bagi masyarakat,” kata Prof. Mike.
Hadirkan Pembicara Internasional dan Lintas Disiplin
Untuk memperluas perspektif pembahasan, ICAST 2026 menghadirkan tiga pembicara utama, yakni Assoc. Prof. Yusuke Takahashi dari Musashino University, Jepang; Prof. Dwi Suhartanto dari Politeknik Negeri Bandung; serta Prof. Mochamad Ashari dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Ketiganya membahas beragam isu yang mencakup keberlanjutan, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), inovasi teknologi, hingga transformasi sosial. Pembahasan tersebut menunjukkan keterkaitan perkembangan teknologi dengan perubahan kebutuhan masyarakat, sekaligus membuka ruang pertukaran gagasan dari berbagai disiplin ilmu.
Dari sisi keilmuan, konferensi ini mencakup empat ruang lingkup utama, yaitu Power, Energy, and Industry Applications; Computing and Processing (Hardware/Software); Robotics and Control Systems; serta Communication, Networking, and Broadcasting.
Keempat bidang tersebut menjadi wadah bagi peneliti dan akademisi untuk memaparkan hasil penelitian, berbagi perspektif, serta membahas perkembangan sains dan teknologi sesuai bidang keahlian masing-masing. Pendekatan multidisipliner yang dihadirkan juga memungkinkan berbagai perspektif keilmuan dipertemukan untuk mencari solusi atas tantangan industri dan masyarakat.
Perkuat Kolaborasi untuk Riset yang Berdampak
Selama dua hari penyelenggaraan, 9–10 Oktober 2026, ICAST 2026 menghadirkan sesi pembicara utama dan sesi paralel yang dilaksanakan secara luring maupun daring. Rangkaian konferensi juga dijadwalkan ditutup dengan pemberian penghargaan ICAST 2026 Best Paper Awards pada 10 Oktober 2026.
Penghargaan tersebut menjadi bagian dari apresiasi terhadap karya ilmiah yang dipresentasikan dalam konferensi. Adapun sesi paralel memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengikuti diskusi dan pemaparan penelitian berdasarkan bidang keilmuan yang menjadi fokus masing-masing.
Bagi PENS, penyelenggaraan ICAST 2026 tidak sekadar menjadi forum publikasi ilmiah, tetapi juga sarana memperluas jejaring akademik dan mendorong kolaborasi penelitian di tingkat nasional maupun internasional.
Pertemuan peneliti, akademisi, praktisi industri, dan mahasiswa dalam satu forum diharapkan dapat membuka peluang penelitian bersama, memperkuat pertukaran pengetahuan, serta memperluas pemanfaatan hasil riset.
Melalui ICAST 2026, PENS menegaskan komitmennya untuk mengembangkan sains terapan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga mampu menghasilkan solusi sesuai kebutuhan industri dan masyarakat. Kolaborasi lintas institusi diharapkan menjadi salah satu langkah penting dalam mendorong inovasi teknologi yang berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan.






