SURABAYA – Bank Indonesia (BI) Jawa Timur mendorong penguatan peran pelaku usaha dan akademisi dalam menyediakan informasi ekonomi yang akurat. Upaya tersebut dilakukan melalui Temu Responden dan Sosialisasi Local Currency Transaction (LCT) yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jawa Timur di Surabaya, Selasa (1/9/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang bagi BI untuk memperoleh gambaran langsung mengenai perkembangan aktivitas ekonomi di Jawa Timur. Sekitar 200 responden survei dan kontak liaison Bank Indonesia hadir dalam pertemuan tersebut.
Kepala KPwBI Jawa Timur Ibrahim mengatakan, informasi yang disampaikan responden memiliki peran strategis dalam membantu BI memahami kondisi perekonomian secara lebih nyata.
“Bagi Bank Indonesia, responden bukan sekadar sumber data. Responden adalah strategic partner yang membantu memahami perekonomian Jawa Timur,” ujarnya.
Ia menjelaskan, BI Jawa Timur saat ini melaksanakan 11 jenis survei untuk memperoleh gambaran langsung mengenai aktivitas sektor riil. Hasil survei tersebut menjadi salah satu bahan penting dalam proses perumusan kebijakan.
Dengan adanya survei ini, kami dapat memperoleh gambaran langsung mengenai aktivitas sektor riil,” ungkapnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menekankan pentingnya ketersediaan data lapangan dalam memahami kondisi ekonomi daerah.
Menurutnya, informasi dari responden yang dipadukan dengan data dari berbagai lembaga dapat menghasilkan gambaran perekonomian yang lebih utuh. Dengan demikian, pembahasan mengenai kebijakan ekonomi dapat dilakukan berdasarkan kondisi yang terjadi di lapangan.
“Data dari lapangan yang lengkap menjadi basis dalam diskusi kebijakan,” katanya.
Selain membahas peran responden, pertemuan tersebut juga dimanfaatkan sebagai forum sosialisasi LCT. Skema transaksi menggunakan mata uang lokal ini dinilai dapat membantu pelaku usaha mengurangi risiko nilai tukar, menjaga stabilitas rupiah, serta memperkuat ketahanan pasar keuangan domestik.
Pembahasan LCT dikemas dalam format talk show dengan menghadirkan Chief Economist Bank Permata Josua Pardede, Deputi Direktur Departemen Internasional Bank Indonesia Elyana K. Widyasari, serta Kepala Bidang Kantor Wilayah Bea Cukai Jatim I Bagus Sulistijono.
Melalui LCT, pelaku usaha dapat melakukan transaksi menggunakan mata uang lokal melalui bank Appointed Cross Currency Dealer (ACCD). Saat ini, kerja sama LCT telah mencakup enam negara, yakni Malaysia, Thailand, Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.
Untuk mendukung pemanfaatan skema tersebut, BI Jawa Timur juga menyediakan Banking Consultation Desk yang melibatkan sejumlah bank ACCD. Fasilitas ini dapat dimanfaatkan eksportir dan importir untuk berkonsultasi mengenai teknis transaksi mata uang lokal maupun layanan perbankan lainnya.
“Melalui kegiatan ini, kami semua berharap pemahaman pelaku usaha terhadap kondisi ekonomi, risiko transaksi internasional, serta peluang penggunaan LCT semakin kuat,” tutupnya.






