MALANG – Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Karangkates di Waduk Sutami, Kabupaten Malang, Jawa Timur, terus dikebut. Hingga Oktober 2026, progres pembangunan infrastruktur proyek yang dikembangkan PT PLN Nusantara Power (PLN NP) tersebut telah mencapai 70 persen, dengan produksi listrik perdana ditargetkan mulai awal Desember 2026.
Proyek berkapasitas 133 megawatt peak (MWp) ini diproyeksikan menjadi PLTS terapung terbesar kedua di Indonesia setelah PLTS Terapung Cirata yang memiliki kapasitas 192 MWp. Kehadirannya diharapkan memperkuat pengembangan energi baru terbarukan (EBT) sekaligus mendukung percepatan transisi energi nasional.
Direktur Utama PLN Nusantara Power, Ruly Firmansyah, mengatakan percepatan pembangunan dilakukan untuk memastikan proyek dapat diselesaikan sesuai target tanpa mengabaikan aspek keselamatan, kualitas, dan keandalan pembangkit.
“Pembangunan PLTS Terapung Karangkates terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Saat ini, konstruksi infrastrukturnya telah mencapai 70 persen. Capaian ini menjadi dorongan bagi kami untuk terus mengawal penyelesaian proyek dengan tetap mengutamakan keselamatan, kualitas, dan keandalan pembangkit,” ujar Ruly.
Menurut dia, pengembangan PLTS Terapung Karangkates merupakan bagian dari kelanjutan upaya PLN Nusantara Power dalam mengoptimalkan potensi energi terbarukan di berbagai wilayah Indonesia.
“Setelah keberhasilan pengembangan PLTS Terapung Cirata, kami terus mendorong pemanfaatan potensi energi terbarukan di berbagai wilayah. PLTS Terapung Karangkates diharapkan tidak hanya menjadi pembangkit surya terapung terbesar di Jawa Timur, tetapi juga membuka peluang bagi pengembangan infrastruktur energi bersih lainnya,” jelasnya.
Proyek tersebut berada di kawasan Waduk Sutami atau Karangkates yang mencakup Kecamatan Sumberpucung dan Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang. Pemanfaatan permukaan waduk menjadi salah satu pendekatan untuk menambah kapasitas pembangkit energi bersih tanpa membutuhkan pembukaan lahan baru dalam skala besar.
Dari total luas perairan waduk sekitar 1.905 hektare dalam kondisi normal, area yang digunakan untuk penempatan modul surya mencapai 71,435 hektare atau sekitar 3,7 persen. Penataan modul photovoltaic (PV) juga memperhitungkan karakteristik waduk, termasuk kondisi Low Water Level (LWL), untuk mendukung keberlanjutan operasional pembangkit.
PLTS Terapung Karangkates dirancang menggunakan delapan PV island dengan rata-rata rasio DC/AC sebesar 1,33. Konfigurasi ini menjadi bagian dari perencanaan sistem untuk mengoptimalkan produksi listrik tenaga surya sekaligus menjaga efisiensi dan keandalan pembangkit.
Selain fasilitas pembangkitan, proyek ini dilengkapi infrastruktur penyaluran listrik menuju jaringan transmisi. Pekerjaan tersebut meliputi pembangunan jaringan transmisi 150 kilovolt (kV) sepanjang sekitar 4,6 kilometer sirkuit atau 2,3 kilometer rute, serta penambahan extension bay di Gardu Induk Sutami 150 kV.
Keberadaan infrastruktur tersebut diperlukan agar listrik yang dihasilkan pembangkit dapat disalurkan secara optimal ke sistem kelistrikan.
Memasuki tahap lanjutan konstruksi, pekerjaan difokuskan pada penyelesaian fasilitas utama, kesiapan sistem kelistrikan, dan pengujian teknis. Tahapan backfeeding power serta sinkronisasi dengan jaringan menjadi bagian penting sebelum pembangkit memasuki tahap pengoperasian.
PLN Nusantara Power menargetkan inisiasi produksi listrik pertama dapat dimulai pada awal Desember 2026. Setelah itu, pembangkit diarahkan memasuki tahap operasi pada awal 2027.
“Kami berkomitmen menjaga momentum percepatan pembangunan agar seluruh tahapan dapat diselesaikan sesuai target. Namun, yang tidak kalah penting adalah memastikan setiap proses memenuhi standar keselamatan dan kualitas sehingga pembangkit dapat beroperasi secara optimal dalam jangka panjang,” tambah Ruly.
Pengembangan PLTS Terapung Karangkates juga mengedepankan optimalisasi pemanfaatan aset waduk. Dengan menggunakan sebagian kecil permukaan perairan, proyek ini diharapkan mampu menambah kapasitas energi terbarukan tanpa memerlukan pembukaan lahan darat secara luas.
Waduk Karangkates yang dikelola Perum Jasa Tirta I menjadi lokasi pengembangan pembangkit tersebut. Area pembangunan berada di Zona Umum Waduk Karangkates sesuai dengan peruntukan kawasan yang telah ditetapkan.
Dengan progres pembangunan infrastruktur mencapai 70 persen, PLN Nusantara Power terus mendorong penyelesaian proyek agar dapat memenuhi target produksi listrik perdana dan pengoperasian. PLTS Terapung Karangkates diharapkan memperkuat pasokan listrik berbasis energi bersih serta meningkatkan pemanfaatan potensi energi surya di Jawa Timur.






