Percobaan Pembunuhan Saat Salat Idul Adha Berujung Pembentukan Cakrabirawa

Percobaan Pembunuhan Saat Salat Idul Adha Berujung Pembentukan Cakrabirawa
Percobaan Pembunuhan Saat Salat Idul Adha Berujung Pembentukan Cakrabirawa

INDONESIAKINI.ID – Upaya menembak Presiden Soekarno saat salat Idul Adha di Jakarta pada 14 Mei 1962 gagal mengenai sasaran, tetapi melukai tiga orang di sekitarnya. Peristiwa di lapangan antara Istana Negara dan Istana Merdeka itu menjadi salah satu dari sedikitnya tujuh percobaan pembunuhan yang dialami Bung Karno selama menjabat presiden.

Serangan terjadi ketika jemaah memasuki rakaat kedua. Menurut Puan Maharani, cucu Soekarno, “Saat itu Bung Karno sedang salat Idul Adha di Istana Jakarta, pas memasuki rakaat kedua, tiba-tiba saja di tembakan,” ujarnya, seperti dikutip RRI.

Peluru meleset dari presiden dan menyerempet bahu Zainul Arifin, yang saat itu menjabat Ketua DPR. Dua anggota Detasemen Kawal Pribadi Presiden, Soedrajat dan Soesilo, turut terluka. Abdul Harris Nasution, yang berdiri di sisi kiri Soekarno, juga berada dekat lintasan peluru.

“Peluru-peluru dalam salat Idul Adha beterbangan sebelah kiri saya, karena justru pada saat itu saya berdiri sebelah kiri Presiden,” kata Nasution, sebagaimana dikutip Harian Kompas pada 21 Februari 1967. Salat tersebut dipimpin Ketua PBNU KH Idham Chalid, sedangkan Nasution, yang ketika itu menjabat Wakil Menteri Pertama Bidang Pertahanan dan Keamanan sekaligus KSAD, bertugas sebagai khatib.

Menurut laporan Majalah Intisari edisi Agustus 2015, pelaku menembak dari jarak kurang dari lima meter dan memiliki kemampuan menembak. Dalam persidangan, pelaku mengaku kebingungan saat membidik karena melihat tubuh Soekarno seolah menjadi lima bagian. Tembakan yang meleset itu kemudian turut memunculkan keyakinan sebagian masyarakat mengenai kesaktian Bung Karno.

Mangil Martowidjojo menulis dalam Kesaksian Tentang Bung Karno 1945-1967 bahwa ia telah menerima informasi mengenai rencana pembunuhan sehari sebelum serangan. Ia menempatkan sejumlah anggota di beberapa titik sekitar jemaah dan memperketat akses masuk, tetapi pelaku tetap berhasil melepaskan tembakan.

Tiga penembak, yakni Sanusi, Kamil, dan Jaya Permana, diketahui merupakan anggota DI/TII. H Muhamad Bachrum, pemimpin pondok pesantren di Bogor, juga ditangkap dan disebut sebagai otak rencana tersebut; undangan yang diberikannya digunakan sebagai akses masuk ke Istana. Para pelaku dijatuhi hukuman mati, sedangkan Bachrum dipenjara. Setelah serangan itu, Soekarno tidak lagi salat di tempat terbuka. Berbagai percobaan pembunuhan terhadap presiden kemudian menjadi salah satu alasan pembentukan Resimen Cakrabirawa pada 6 Juni 1962 untuk menjaga keselamatan kepala negara.

Penulis: Emel Yanie