Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menyampaikan arahan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka terkait penguatan aspek keamanan pangan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Saya baru saja dipanggil oleh Pak Wapres membahas terkait dengan keamanan pangan,” ujar Nanik di Jakarta, Senin (27/4).
Dalam pertemuan tersebut, Gibran menekankan pentingnya menjaga kebersihan dan higienitas dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), khususnya dalam penanganan sisa makanan.
Pria asal Solo, Jawa Tengah, tersebut secara khusus mengingatkan agar sisa makanan tidak kembali masuk ke dapur karena berpotensi menjadi sumber penyakit.
“Pak Gibran mewanti-wanti agar sisa makanan jangan sampai masuk ke dapur, karena sisa makanan ini yang berpotensi menjadi salah satu sumber penyakit,” ungkap Nanik.
Sebagai langkah pencegahan, lanjut Nanik, Gibran menyarankan agar proses pembersihan sisa makanan dilakukan di luar dapur guna mencegah kontaminasi silang. “Beliau menyarankan, sisa-sisa makanan dibersihkan di luar dapur,” tambahnya.
Arahan tersebut akan menjadi bagian dari upaya memperkuat standar keamanan pangan, khususnya dalam pelaksanaan program pemenuhan gizi agar kualitas makanan yang disajikan kepada masyarakat tetap terjaga dan aman dikonsumsi.
Dia juga mengungkapkan latar belakang Wakil Presiden sebagai mantan pengusaha di bidang katering membuatnya memahami secara detail standar operasional prosedur (SOP) dapur.
“Sebagai mantan pengusaha di bidang katering, Wapres paham benar soal SOP alur dapur dan hal-hal kritis dalam hal keamanan pangan,” ucap Nanik.
Selain aspek keamanan, Wapres juga meminta BGN untuk mempercepat pemerataan pelaksanaan Program MBG, khususnya di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Hal ini berdasarkan hasil kunjungannya ke sejumlah provinsi di Papua, menemukan masih banyak kabupaten yang belum memiliki SPPG. Untuk itu, BGN mendorong keterlibatan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam mendukung pembangunan infrastruktur dapur MBG melalui skema tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
“Sebaiknya wilayah 3T kita melibatkan BUMN, dari CSR mereka bisa untuk membangun dapur, sehingga tidak harus dari APBN untuk membangun dapur atau SPPG,” tutup Nanik.
Fokus pada Keamanan Pangan
Keamanan pangan menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam rapat yang dihadiri oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, fokus utama adalah pada pencegahan risiko penyakit yang berasal dari penanganan makanan yang tidak tepat.
Beberapa poin penting yang disampaikan antara lain:
Penanganan sisa makanan harus dilakukan di luar dapur untuk menghindari kontaminasi silang.
Kebersihan dan higienitas dapur harus selalu diperhatikan, terutama dalam pengelolaan bahan makanan.
* Semua staf yang terlibat dalam pengolahan makanan wajib mematuhi SOP yang telah ditetapkan.
Peran BUMN dalam Pengembangan Infrastruktur
Salah satu langkah strategis yang direkomendasikan oleh Wakil Presiden adalah melibatkan BUMN dalam pembangunan infrastruktur dapur MBG. Hal ini dimaksudkan untuk mempercepat pemerataan layanan gizi di daerah-daerah yang belum memiliki fasilitas pendukung.
Beberapa manfaat dari keterlibatan BUMN dalam proyek ini adalah:
Mempercepat pembangunan SPPG di wilayah 3T.
Mengoptimalkan dana CSR yang sudah ada untuk tujuan sosial.
* Mengurangi beban anggaran negara dalam pembangunan infrastruktur.
Pentingnya Edukasi dan Pelatihan
Selain infrastruktur, edukasi dan pelatihan bagi tenaga kerja di dapur MBG juga menjadi fokus utama. Wakil Presiden menekankan bahwa setiap personel harus memahami standar keamanan pangan dan cara mengelola makanan dengan baik.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelatihan antara lain:
Teknik pengolahan makanan yang higienis.
Cara menyimpan makanan agar tidak terkontaminasi.
* Prosedur penanganan keadaan darurat seperti kebocoran atau kecelakaan.
Tantangan dan Solusi
Meski terdapat beberapa tantangan dalam implementasi MBG, khususnya di wilayah 3T, solusi-solusi inovatif terus dikembangkan. Salah satunya adalah kolaborasi dengan BUMN untuk membangun infrastruktur yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, diharapkan MBG dapat mencapai targetnya, yaitu memberikan akses gizi yang baik kepada seluruh masyarakat Indonesia.






