BERITA  

Perilaku aneh owa jawa menggigit warga Bandung Barat



Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat atau BBKSDA Jabar melakukan penanganan terhadap owa jawa (Hylobates moloch) yang ditemukan di Kampung Pameungpeuk, Desa Pasirhalang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada Jumat, 15 Mei 2026. Dalam kejadian tersebut, satwa tersebut sempat menggigit seorang pelajar sekolah menengah pertama (SMP).

Ahli dan peneliti owa jawa dari Yayasan SwaraOwa, Arif Setiawan, menjelaskan bahwa owa jawa di alam tidak pernah agresif menyerang manusia. Mereka cenderung menghindari interaksi dengan orang. Namun, kondisi berbeda terjadi pada owa peliharaan yang menggigit pelajar tersebut. Diduga, owa itu mengalami stres karena harus hidup dalam kandang, meskipun naluri alaminya ingin hidup bebas.

Perilaku stres pada owa bisa terlihat sejak pertama kali mereka dikurung. Namun, seringkali pemilik tidak memahami tanda-tanda tersebut. “Rasa takut dan trauma ada pada satwa liar yang dipelihara,” ujar Arif kepada Tempo, Ahad 17 Mei 2026.

Arif menekankan bahwa orang yang digigit owa jawa harus segera diperiksa oleh dokter. Hal ini karena satwa liar yang dipelihara dapat membawa penyakit seperti rabies dan diduga hepatitis B. “Ada penelitian yang menyebutkan bahwa owa jawa bisa menjadi pembawa hepatitis,” katanya. Selain itu, potensi penyakit zoonosis lainnya seperti parasit, cacing, tuberkulosis, herpes, monkey pox, dan tetanus juga perlu diperhatikan.

Menurut Humas BBKSDA Jabar Eri Mildranaya, owa jawa yang dilindungi karena statusnya terancam punah itu diketahui sebagai hewan peliharaan yang lepas dari kandang. Pada hari kejadian, setelah kandang dibersihkan, pintu kandang lupa ditutup, sehingga owa berkeliaran di sekitar rumah pemeliharanya. Seorang pelajar SMP yang kebetulan lewat depan rumah itu, menghampiri dan berinteraksi dengan owa hingga digigit. Anak tersebut langsung dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa.

Informasi yang diperoleh BBKSDA Jabar menyebutkan bahwa owa jawa itu ditemukan oleh orang yang memeliharanya setelah terjatuh di daerah Rancabali, Kabupaten Bandung, sekitar lima tahun lalu. Ia membawa pulang owa itu ke rumah menggunakan kandang kucing.

Setelah kejadian owa lepas dan menggigit orang, tim petugas mengevakuasi satwa ke tempat rehabilitasi satwa Yayasan Jaringan Satwa Indonesia (YJSI) di Subang. Rencananya, owa tersebut akan dipindahkan ke Pusat Rehabilitasi Primata Jawa di Ciwidey.

Kepala Divisi Medis Satwa The Aspinall Foundation Program Indonesia Ida Junyati Masnur menjelaskan bahwa hampir semua penyakit manusia bisa menulari owa jawa dan sebaliknya, seperti tuberkulosis, herpes, dan hepatitis B.

Pada primata bekas peliharaan orang yang masuk kandang pusat rehabilitasi di tempatnya bekerja, menurut Ida, awalnya akan menjalani masa karantina selama 90 hari. “Dengan pemeriksaan kesehatan dan skrining penyakit,” ujarnya Ahad, 17 Mei 2025. Setelah tiga bulan, dilakukan pemeriksaan ulang kesehatan.

Primata, seperti owa jawa, kemudian dipindah ke kandang sosialiasi untuk proses rehabilitasi selanjutnya. “Proses rehabilitasi ini meliputi adaptasi pakan, perilaku, dan hubungan sosialnya dengan hewan sejenis,” kata Ida.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *