BERITA  

Kisah Hendro, Remaja Tuna Rungu yang Berani Hadapi Kerumunan untuk Serahkan Lukisan ke Prabowo

Kisah Haru Remaja Tuna Rungu yang Berhasil Menyampaikan Lukisan Langsung ke Presiden

Di tengah keramaian dan antusiasme warga, kisah mengharukan datang dari seorang remaja penyandang tuna rungu asal Jawa Timur bernama Hendro Prasetyo. Ia berhasil menyerahkan lukisan buatannya langsung kepada Presiden RI, Prabowo Subianto, dalam acara kunjungan kerja di Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu (16/5/2026). Momen ini menjadi momen bersejarah bagi Hendro dan keluarganya.

Peristiwa Bersejarah di Desa Nglundo

Acara peresmian Museum Marsinah dan rumah singgah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, menjadi tempat terjadinya peristiwa unik tersebut. Di sana, ribuan warga dan kalangan buruh memadati lokasi untuk menyambut kedatangan Presiden. Hendro, bersama ayahnya, Slamet, hadir dengan tujuan sederhana: menyerahkan lukisan hasil karyanya langsung kepada Presiden.

Meski memiliki keterbatasan pendengaran, Hendro dikenal sebagai seniman muda yang berbakat. Ia telah menunjukkan kemampuannya dalam bidang seni lukis di lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Namun, kesempatan untuk bertemu langsung dengan Presiden adalah impian besar yang akhirnya terwujud.

Usaha Tak Mudah untuk Mendekati Presiden

Slamet mengaku sengaja membawa putranya ke lokasi acara agar bisa bertemu langsung dengan Presiden. “Lukisan tersebut bikinan anak saya, Hendro,” katanya. Awalnya, mereka mencoba masuk melalui area tenda utama acara, tetapi karena padatnya pengunjung, mereka gagal mendekat.

Tidak menyerah, Slamet dan Hendro kemudian memilih menunggu di pinggir jalan Desa Nglundo, tempat rombongan kendaraan Presiden melintas. Saat iring-iringan Presiden melintas, Hendro langsung mengangkat lukisan tersebut tinggi-tinggi agar terlihat dari dalam mobil Presiden.

Mobil Presiden Berhenti, Hendro Dipanggil Mendekat

Aksi Hendro ternyata menarik perhatian Presiden. Mobil yang ditumpangi oleh Prabowo mendadak berhenti, dan Hendro dipanggil untuk mendekat. Di hadapan warga yang memadati lokasi, Presiden menerima lukisan tersebut dan sempat mengangkatnya di depan masyarakat.

Suasana pun langsung disambut sorakan antusias warga. Usai menerima lukisan, Presiden juga memberikan amplop putih berisi uang kepada Hendro. “Alhamdulillah diterima dengan baik sama Pak Prabowo,” tutur Slamet.

Kebanggaan Hendro atas Karyanya

Bagi Hendro, momen tersebut menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Ia mengaku bangga karena karya buatannya akhirnya bisa sampai langsung ke tangan Presiden RI. Ia menjelaskan bahwa lukisan sketsa hitam putih tersebut dibuat sendiri menggunakan pensil selama kurang lebih dua pekan.

“Saya bangga. Saya memberikan lukisan hitam putih dari pensil karya saya,” terangnya. Kisah Hendro pun menjadi perhatian banyak warga karena menunjukkan semangat dan rasa percaya diri seorang penyandang disabilitas dalam menampilkan bakatnya di ruang publik.

Simbol Semangat dan Dukungan Keluarga

Perjalanan Hendro bukan sekadar tentang pertemuan dengan Presiden. Kisah ini juga menggambarkan bagaimana karya seni dapat menjadi media komunikasi bagi penyandang tuna rungu. Di tengah keterbatasan yang dimiliki, Hendro menunjukkan ketekunan untuk mengejar keinginannya.

Peran sang ayah yang setia mendampingi sejak awal juga menjadi bagian penting hingga impian tersebut akhirnya terwujud. Peristiwa ini sekaligus memperlihatkan semakin terbukanya ruang apresiasi bagi karya penyandang disabilitas di Indonesia.

Presiden Meresmikan Museum Marsinah

Dalam kunjungan tersebut, Presiden Prabowo meresmikan Museum Marsinah dan rumah singgah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Kedatangan Presiden disambut meriah oleh ribuan warga dan kelompok buruh yang telah memadati lokasi sejak pagi.

Suasana penyambutan berlangsung semarak dengan iringan musik perkusi dan nyanyian dari massa buruh di sepanjang jalan desa. Prabowo terlihat melambaikan tangan kepada warga dari sunroof mobil Maung yang ditumpanginya.

Sebelum menghadiri acara peresmian, Presiden juga menyempatkan diri mengunjungi rumah masa kecil Marsinah yang berada di samping museum. Dalam kegiatan itu, Prabowo turut didampingi Presiden KSPSI Andi Gani Nena Wea dan sejumlah pejabat lainnya.

Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi menyampaikan apresiasi atas kehadiran Presiden dalam peresmian museum tersebut. “Kami segenap warga Nganjuk bangga. Terima kasih Pak Presiden Prabowo sudah mengangkat warga Nganjuk, dari rakyat kecil yang bekerja sebagai buruh menjadi pahlawan nasional,” ungkapnya.

Peresmian Museum Marsinah dan rumah singgah itu dinilai menjadi simbol penghormatan terhadap perjuangan Marsinah sebagai tokoh perjuangan hak-hak buruh di Indonesia.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *