seni  

Ukir Batu Jadi Rupiah, Semangat Pengrajin Batu Akik Batang Menghasilkan Aksesoris Unik

Kehidupan Seorang Pengrajin Batu Akik di Batang

Di sebuah rumah sederhana di kawasan Perum Kalisalak, Kabupaten Batang, suara gesekan mesin gergaji terdengar lirih pada siang hari. Serbuk batu beterbangan tipis di atas meja kerja yang dipenuhi potongan akik berwarna-warni. Dengan tangan cekatan dan sorot mata penuh ketelitian, Gayuh (42) perlahan memotong sebongkah batu yang belum berbentuk. Sedikit demi sedikit, batu itu berubah menjadi akik mengilap bernilai seni tinggi.

Bagi sebagian orang, batu akik mungkin hanya tren yang telah lewat. Namun bagi Gayuh, batu bukan sekadar hobi atau komoditas. Batu adalah perjalanan panjang, kepuasan batin, sekaligus ruang untuk menjaga warisan lokal yang menurutnya belum sepenuhnya dihargai.

“Kalau saya jujur di batu ini, saya senang karena sebuah pekerjaan itu bisa saya tangani dari proses awal sampai finish,” kata Gayuh kepada media, Minggu (17/05/2026).

Kecintaannya terhadap batu akik dimulai jauh sebelum demam batu melanda Indonesia sekitar 2014 silam. Pria asli Purbalingga itu mengaku mulai belajar menggosok batu sekitar tahun 2011. Awalnya hanya iseng mengikuti teman-temannya yang lebih dulu berkecimpung di dunia batu akik.

“Dulu teman-teman saya di Purbalingga sering main batu, gosok sendiri. Dari situ saya mulai tertarik,” ujarnya.

Ketertarikan itu kemudian berubah menjadi keseriusan. Gayuh mulai belajar secara otodidak dari seorang senior penggemar batu akik asal Purbalingga yang telah menekuni dunia batu sejak tahun 1970-an. Berbeda dengan sekarang yang serba mudah melalui internet dan video tutorial, saat itu informasi tentang teknik mengolah batu masih sangat terbatas.

“Kalau sekarang orang mau belajar bisa dari YouTube. Dulu itu minim informasi, jadi benar-benar sambil jalan,” ucapnya.

Batu pertama yang ia olah berasal dari daerah asalnya sendiri, yakni batu lokal Purbalingga. Satu di antaranya yang paling dikenalnya adalah Nogosui, batu akik khas yang sempat menjadi primadona di kalangan kolektor. Menurut Gayuh, wilayah Purbalingga memiliki kekayaan batu alam yang melimpah, mulai dari jasper hingga berbagai jenis pancawarna.

Dari situlah kemampuannya mengolah batu terus berkembang. Selama lebih dari satu dekade menekuni profesi ini, Gayuh mengaku telah menghasilkan puluhan ribu batu akik. Jumlah itu terutama tercipta saat masa kejayaan batu akik beberapa tahun lalu. Kala itu, permintaan datang tanpa henti.

“Dulu setiap hari masuk job sampai 30 pieces,” ujarnya.

Ia bercerita, booming batu akik di Purbalingga kala itu turut dipengaruhi kebijakan pemerintah daerah setempat. Saat kepemimpinan Bupati Sukento Ridho Marhaendrianto yang akrab disapa Pak Kento, mantan Bupati Purbalingga yang menjabat untuk periode 2013 – 2015, aparatur sipil negara hingga anggota TNI dan Polri dianjurkan mengenakan cincin batu akik saat bekerja. Kebijakan tersebut secara tidak langsung mengangkat geliat ekonomi para pengrajin batu.

“Waktu itu benar-benar banjir pesanan,” ungkapnya.

Namun seperti tren lainnya, popularitas batu akik perlahan meredup. Harga batu yang dulu bisa melambung fantastis kini mulai stabil. Meski demikian, Gayuh menilai peminat batu akik sebenarnya masih ada hingga sekarang.

“Kalau pemain batu itu masih ada terus. Cuma orang luar kadang mengira batu akik sudah mati,” tuturnya.

Menurutnya, komunitas pecinta batu akik masih aktif dan terus bergerak, meskipun tidak seramai dulu. Dalam pekerjaannya, Gayuh mengaku lebih memilih mengejar kualitas dibanding kuantitas. Baginya, nilai sebuah batu tidak hanya terletak pada kelangkaan, tetapi juga pada proses pengerjaan dan estetika.

Ia menjelaskan, penilaian batu akik umumnya mengacu pada tiga unsur utama, yakni warna (color), kejernihan (clarity), dan potongan (cutting). Sementara ukuran carat tidak terlalu digunakan dalam penilaian batu akik seperti pada berlian.

“Potongan itu penting. Bentuknya bagaimana, presisinya seperti apa,” jelasnya.

Keutamaan Cincin dalam Batu Akik

Tak hanya batu, bagian cincin atau ring juga menjadi faktor penting dalam memperkuat karakter akik. “Ring itu seperti bajunya batu. Batu sebagus apa pun kalau ring-nya tidak cocok ya kurang menarik,” ucapnya.

Di tangan Gayuh, batu akik dijual dengan harga bervariasi, mulai Rp30 ribu hingga ratusan ribu rupiah tergantung ukuran, tingkat kesulitan, dan kualitas batu. Bahkan, batu lokal terbaik yang pernah ia jual mencapai Rp5 juta. Meski demikian, ia mengaku bukan tipe pemburu harga fantastis atau kolektor kontes. Fokus utamanya tetap pada produksi dan kepuasan dalam mengolah batu.

“Kalau batu kontes itu biasanya sudah masuk ranah kolektor,” ujarnya.

Meski begitu, Gayuh bukan orang asing di dunia perlombaan batu akik. Ia pernah terlibat dalam penjurian kontes batu nusantara, khususnya kategori batu gambar. Bagi Gayuh, ada sensasi tersendiri saat mencari batu langsung dari alam. Ia mengaku sering menyusuri sungai untuk mencari bongkahan batu mentah yang masih menjadi misteri.

“Batu itu kan kita nggak tahu dalamnya seperti apa. Dibelah dulu baru ketahuan,” ucapnya.

Dari proses itulah ia merasakan kepuasan yang sulit dijelaskan. Sebuah perjalanan dari batu kasar hingga menjadi cincin indah siap pakai.

Di tengah perubahan zaman dan bergesernya tren, Gayuh tetap bertahan sebagai pengrajin batu akik. Bukan semata-mata karena keuntungan ekonomi, melainkan karena kecintaan terhadap proses dan nilai budaya di balik batu nusantara. Ia berharap masyarakat mulai kembali menghargai kekayaan batu lokal Indonesia yang menurutnya tidak kalah indah dibanding batu impor.

“Batu nusantara itu sebenarnya nggak kalah dengan batu luar. Tinggal bagaimana kita mengemasnya,” tutupnya.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *