Kepala Dinas Parmudora Luwu Timur Tetap Percaya pada Timnas Jerman di Piala Dunia 2026
Muhammad Safaat DP, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Parmudora) Kabupaten Luwu Timur, masih menyimpan kenangan mendalam tentang Piala Dunia 1994. Baginya, Timnas Jerman tidak hanya menjadi tim favorit, tetapi juga simbol dari permainan yang disiplin, konsisten, dan penuh kekuatan kolektif.
Safaat mengungkapkan bahwa ia tetap menjagokan Der Panzer dalam Piala Dunia 2026. Menurutnya, Jerman selalu menampilkan permainan yang apik dengan kemampuan pemain yang rata-rata seimbang. Ia juga menyebutkan bahwa Jerman memiliki tradisi yang kuat dalam sepak bola, mulai dari era Lothar Matthaus, Jurgen Klinsmann, hingga Rudi Voller.
Momen yang paling membekas bagi Safaat terjadi saat Jerman menghancurkan Brasil 7-1 dalam semifinal Piala Dunia 2014. Ia menganggap pertandingan tersebut sebagai salah satu momen paling bersejarah dalam sejarah Piala Dunia. Saat itu, Jerman menunjukkan wajah sepak bola modern dengan pressing agresif, transisi cepat, dan efisiensi serangan yang luar biasa.
Era Emas 1994
Kepercayaan Safaat terhadap Jerman dimulai sejak era emas 1994. Saat itu, Jerman diperkuat oleh trio legendaris Lothar Matthaus, Jurgen Klinsmann, dan Rudi Voller. Mereka menjadi tulang punggung tim yang memadukan fisik kuat, disiplin taktik, dan mental juara khas Eropa.
Matthaus bertindak sebagai otak permainan sekaligus pemimpin di lapangan. Klinsmann tampil sebagai striker modern dengan mobilitas tinggi, sementara Voller dikenal sebagai predator kotak penalti dengan insting gol yang mematikan.
Meskipun gagal mempertahankan gelar juara dunia pada 1994, generasi tersebut tetap diingat sebagai salah satu skuad paling tangguh dalam sejarah sepak bola Jerman.
Perkembangan Timnas Jerman Saat Ini
Kini menjelang Piala Dunia 2026, Safaat melihat Jerman kembali memiliki fondasi kuat untuk bersaing di level tertinggi. Ia menilai perpaduan pemain senior dan generasi muda membuat skuad asuhan Julian Nagelsmann jauh lebih matang.
Nama-nama seperti Joshua Kimmich dan Ilkay Gundogan masih menjadi tulang punggung permainan Jerman. Keduanya dinilai memiliki pengalaman besar setelah bertahun-tahun bermain di kompetisi elite Eropa.
Namun, kekuatan terbesar Jerman saat ini justru berada pada generasi mudanya. Safaat menaruh perhatian besar kepada duet Jamal Musiala dan Florian Wirtz, yang disebut sebagai wajah baru Der Panzer.
Musiala dikenal dengan kemampuan dribel eksplosif dan kreativitas tinggi di ruang sempit. Sementara Wirtz tampil sebagai playmaker modern dengan visi bermain matang dan distribusi bola akurat.
Taktik dan Kepercayaan pada Timnas Jerman
Secara taktik, Jerman era pelatih Julian Nagelsmann tampil lebih fleksibel dibanding generasi sebelumnya. Mantan pelatih Bayern Munchen itu kini lebih mengandalkan pressing tinggi, rotasi antarlini, dan permainan vertikal cepat dengan Musiala serta Wirtz sebagai pusat kreativitas serangan.
Meski optimistis, Safaat tetap mewaspadai sejumlah negara kuat yang bisa menjadi batu sandungan Jerman. Ia menyebut Argentina, Prancis, dan Portugal sebagai lawan-lawan yang akan menjadi tantangan berat.
Namun, ia tetap yakin Jerman mampu melaju jauh karena berada di grup yang relatif ringan. Safaat bahkan sudah memiliki bayangan final ideal versinya. “Kalau disuruh pilih, saya akan memilih final dengan Portugal,” katanya.






