BERITA  

Siapa Mama Yasinta dan Mengapa Laporkan LBH ke Polisi Terkait Film Pesta Babi?

Laporan Pemutaran Film Tanpa Izin

Tokoh perempuan adat Suku Marind-Anim, Yasinta Moiwend atau yang akrab disapa Mama Yasinta, melaporkan Ketua LBH Merauke berinisial JTW ke Polda Metro Jaya atas dugaan pelanggaran Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi. Laporan tersebut terkait dengan tayangan film dokumenter Pesta Babi yang menampilkan wajahnya tanpa izin.

Laporan tersebut disampaikan oleh Yasinta ke Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya pada Jumat (29/5/2026) malam. Ia didampingi kuasa hukumnya, TS Hamonangan Daulay. Menurut Hamonangan, pihak kepolisian telah menerima laporan tersebut dan kini menunggu tindak lanjut dari aparat penegak hukum.

“Tanda terimanya sudah selesai, laporan sudah diterima. Nanti kita tunggu respons resmi dari bagian Kamneg (Keamanan Negara),” ujarnya seusai melapor.

Hamonangan menyebutkan bahwa laporan tersebut ditujukan kepada Ketua LBH Merauke berinisial JTW secara pribadi. “Ini yang kita laporkan ini adalah untuk perorangan. Ada Ketua LBH Merauke, inisialnya adalah JTW,” katanya.

Menurut Hamonangan, laporan tersebut berkaitan dengan dugaan pelanggaran Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (PDP). “Yang kami ajukan adalah (Pasal) 65 Juncto 67 PDP, Perlindungan Data Pribadi,” tuturnya.

Kekecewaan dan Rasa Sakit Hati

Mama Yasinta mengaku sangat kecewa setelah mengetahui wajahnya ditampilkan dalam film Pesta Babi yang diputar di berbagai tempat tanpa persetujuannya. “Tanpa izin dari saya. Mereka putar film ‘Pesta Babi’ itu di mana-mana, saya sakit hati. Saya kecewa sekali. Tanpa izin dari saya, tanpa pembicaraan,” kata dia saat berada di Mapolda Metro Jaya.

Ia menegaskan bahwa dirinya tidak pernah memberikan izin ataupun diajak berbicara mengenai penggunaan wajahnya dalam film tersebut. “Itu penjahat itu mereka. Saya punya baju ini di mana-mana mereka putar film itu, saya sakit hati. Tanpa izin dari saya. Maka itu saya datang ke Jakarta. Jadi itu saja yang saya sampaikan untuk anak-anak,” ucapnya.

Yasinta mengaku pertama kali mengetahui kemunculan dirinya dalam film tersebut saat menghadiri pemutaran pada 8 April 2026 di Jayapura. Menurutnya, saat itu ia mengira akan menghadiri kegiatan pemotongan babi, bukan pemutaran film dokumenter. “Jadi pada saat itu saya tahu saja mau potong babi betulan, ternyata kita naik di Aula Maranatha. Ternyata film yang diputar itu judulnya film ‘Pesta Babi’,” ucapnya.

Permintaan Penghentian Pemutaran Film

Mama Yasinta menyatakan hingga kini masih merasakan kekecewaan atas kemunculan wajahnya dalam film tersebut. “Sakit hati betul sampai hari ini saya masih sakit hati. Kecewa. Kenapa wajah saya bisa dibawa kemana-mana lewat film itu. Apa saya ini boneka? Apa saya patung asmat yang sudah diukir? Orang popo bilang itu patung Asmat. Ukiran itu. Saya bukan ukiran Asmat,” ucapnya.

Ia juga meminta agar pemutaran film Pesta Babi dihentikan dan berharap pihak yang masih menayangkannya dapat diproses sesuai hukum yang berlaku. “Dihentikan. Mulai dari hari ini dihentikan. Seandainya ada yang putar film itu, tolong proses orang itu,” kata dia.

Siapa Mama Yasinta?

Tokoh perempuan adat Suku Marind-Anim dari Kampung Wanam, Distrik Ilwayab, Merauke, Papua Selatan, Yasinta Moiwend atau yang akrab disapa Mama Yasinta, kembali menjadi sorotan publik setelah melaporkan Ketua LBH Merauke berinisial JTW terkait film dokumenter Pesta Babi.

Nama Mama Yasinta selama beberapa tahun terakhir dikenal sebagai salah satu suara paling lantang yang menolak Proyek Strategis Nasional (PSN) lumbung pangan atau food estate di Merauke. Ia merupakan bagian dari masyarakat adat yang tinggal di Kampung Wanam, wilayah yang menjadi salah satu lokasi pengembangan cetak sawah dalam proyek nasional tersebut.

Kampung Wanam yang dihuni sekitar 734 jiwa hanya dapat dijangkau melalui jalur laut dan udara. Sejak 2024, berbagai alat berat seperti ekskavator dan buldoser mulai masuk ke wilayah tersebut untuk mendukung program cetak sawah satu juta hektare di Papua Selatan. Gelombang pertama sebanyak 500 unit alat berat tiba pada Juli 2024. Sebulan kemudian, sebanyak 264 unit tambahan kembali didatangkan dari total sekitar 2.000 alat berat yang direncanakan untuk proyek tersebut. Kehadiran alat berat itu juga diikuti pengamanan aparat militer yang cukup besar.

Mama Yasinta menjadi salah satu tokoh utama dalam film dokumenter Pesta Babi yang dipublikasikan melalui saluran Jubi TV di YouTube pada 22 Mei 2026. Dalam film tersebut, ia tampil sebagai perempuan adat yang menyuarakan kekhawatiran terhadap dampak proyek pangan skala besar terhadap tanah ulayat dan kehidupan masyarakat adat di Merauke.

Perubahan Sikap dan Kontroversi

Selama bertahun-tahun, Mama Yasinta aktif mengikuti berbagai aksi penolakan proyek tersebut. Pada 2024, ia ikut dalam Aksi Kamisan ke-836 di Jakarta bersama sejumlah masyarakat adat Papua untuk menyampaikan aspirasi kepada pemerintah pusat. “Karena kami yang kena dampak ini sudah berusaha, kami mau sandar kepada pemerintah Kabupaten [Merauke], bahkan sampai ke pemerintah pusat, mereka tidak tanggapi,” kata Yasinta dalam aksi tersebut.

Bersama kelompok masyarakat adat lainnya, Mama Yasinta juga mendatangi berbagai lembaga, mulai dari pemerintah daerah, DPR Kabupaten Merauke, Majelis Rakyat Papua Selatan hingga Keuskupan Agung Merauke untuk menyampaikan keberatan mereka terhadap proyek yang dinilai mengancam ruang hidup masyarakat adat.

Namun, sikap Mama Yasinta kemudian menjadi perhatian publik setelah beredar video yang menunjukkan perubahan pandangannya terhadap proyek yang selama ini ia tolak. Dalam video tersebut, ia mengaku tidak lagi bersama LBH Pos Merauke dan menyatakan ingin mencari pekerjaan melalui perusahaan yang beroperasi di wilayahnya.

[SOURCE-0]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *