Aksi Emak-emak di Jambi Mengamuk dan Mengepung Rumah Bandar Sabu
Di tengah kekhawatiran yang mendalam terhadap masa depan generasi muda, puluhan ibu-ibu atau emak-emak di wilayah Kabupaten Batang Hari, Provinsi Jambi, nekat mengambil tindakan sepihak dengan mengamuk dan mengepung sebuah hunian yang diperkirakan menjadi pusat transaksi narkoba. Aksi ini memicu gelombang perlawanan terhadap peredaran gelap narkoba di tingkat akar rumput.
Aksi berani tersebut pecah di kawasan pemukiman padat penduduk, tepatnya di lingkungan RT 04, Desa Pelayangan, Kecamatan Muara Tembesi, Kabupaten Batang Hari, Jambi. Video rekaman dari kejadian tersebut viral di media sosial dan menghebohkan jagat digital.
Detik-Detik Ketegangan dan Kekhawatiran Penghilangan Barang Bukti
Pada malam Kamis (28/5/2026), suasana di halaman rumah mewah bernuansa cat putih dan merah muda milik terduga pelaku M tersebut terekam sangat riuh dan mencekam. Dalam rekaman video amatir berdurasi sekitar satu menit yang beredar, tampak puluhan warga dan pemuda berkumpul memadati area teras rumah.
Di lokasi kejadian, beberapa aparat kepolisian berseragam cokelat dan bertopi dinas sudah berjaga untuk menenangkan massa yang tersulut emosi. Kekesalan emak-emak yang memuncak membuat mereka berteriak histeris mendesak agar pemilik rumah segera keluar dan membuka pintu.
Beberapa warga berteriak dengan lantang, “Lamo nian, Pak! Bukolah lah rumah itu, Pak! Oi!”. Teriakan tersebut disusul oleh desakan massa lainnya yang saling mengomandoi untuk merapatkan barisan, “Asak, Ibu-ibu! Asak! Buka rumah, buka! Jangan ketitir (terkecoh), jangan keluar!”.
Ketegangan kian memuncak saat emak-emak mengendus gelagat mencurigakan bahwa terduga pelaku tengah berupaya melenyapkan narkoba ke dalam saluran pembuangan air. Warga pun langsung memperingatkan petugas kepolisian di lokasi agar segera bertindak sebelum barang haram tersebut musnah.
Warga melaporkan, “Airnya nyelang (mengalir) tuh, udah ketitir (dibuang) di dalam tuh, Pak. Nyelang tuh dah ditengok lagi apa kau di dalam tuh, Pak.”.
Mendengar laporan itu, petugas kepolisian langsung mengonfirmasi titik-titik pelarian dengan bertanya, “Jalan dari belakang ada? Dari belakang?”.
Warga pun dengan cepat menyahut dan menjelaskan peta perimeter rumah tersebut, “Kagek (nanti) ada lewat belakang, ada! Banyak jalan nya, Pak. Jalan menuju rumah dia ini ada. Dia barang-barang bukti disimpan di sini. Barang bukti galo (semua) dilesapkan (dimasukkan) masuk air, hilang!”.
Desakan Strategi Hukum dan Pemenuhan Alat Bukti
Aksi penggerebekan spontan oleh kelompok emak-emak yang kerap dijuluki warganet sebagai ras terkuat di bumi ini mendapat dukungan penuh dari masyarakat sekitar. Rasa curiga dan ketidaknyamanan masyarakat disebut telah terpendam cukup lama, hingga akhirnya mencapai titik puncak pada Kamis malam itu.
Kaum ibu turun langsung ke lapangan demi mendesak polisi bertindak cepat membersihkan kampung mereka. Di tengah situasi yang memanas, perwakilan masyarakat mengingatkan bahwa aparat penegak hukum harus memiliki strategi yang matang dan taktis untuk menangkap terduga bandar narkoba tersebut.
Warga menyadari bahwa proses hukum untuk mengungkap kasus peredaran gelap narkoba di pengadilan tentu harus didukung secara kuat oleh pemenuhan alat bukti yang sah dan meyakinkan di lapangan.
Hingga berita ini diturunkan, aksi pengepungan mandiri oleh warga telah berhasil meredam aktivitas mencurigakan di rumah M. Namun, warga berjanji akan terus mengawal area tersebut dan menuntut jajaran Satresnarkoba Polres Batang Hari segera melakukan penyelidikan menyeluruh, mengamankan sisa-sisa saluran air yang diduga menjadi tempat pembuangan barang bukti, serta membongkar siapa aktor utama di balik perputaran bisnis sabu di Desa Pelayangan.






