Menjaga Segara, Mengatasi Dilema Ruang Spiritual Pesisir di Bawah Bayang FSRU LNG Denpasar

Kehidupan di Pesisir Bali: Antara Kepercayaan dan Pembangunan

Di laut Bali, doa, tirta, dan jalur energi kini bertemu di ruang yang sama. Ketika proyek Floating Storage Regasification Unit (FSRU) LNG mulai bergerak ke selatan Bali, masyarakat adat pesisir mulai mempertanyakan satu hal: apakah “segara” (laut) masih dipandang sebagai ruang suci, atau perlahan berubah menjadi lanskap industri energi?

Langit di pesisir Sidakarya, Denpasar, Minggu 5 April 2026 sore, itu perlahan meluruh dari biru pucat menjadi jingga temaram. Matahari bergerak turun, memantulkan cahaya tipis di permukaan laut yang tenang. Di tepian pantai, akar-akar mangrove menjulur dari lumpur, membentuk siluet gelap di bawah cahaya senja. Jalan setapak menuju Pura Segara Giri Wisesa Muntig Siokan terasa lembap oleh udara asin.

Bau laut bercampur lumpur mangrove dan asap dupa menyambut pemedek yang datang menjelang malam. Ombak memecah pantai kecil itu dengan ritme pelan, seperti suara yang menjaga sejarah tempat ini.

Di dekat pura, I Wayan Karjana, Jan Bangul atau pengempon pura, duduk menghadap laut yang perlahan menggelap. Cahaya senja jatuh di wajahnya saat ia mulai menuturkan kisah yang diwariskan para pengelingsir tentang pura yang telah lama menjadi ruang spiritual masyarakat pesisir Sidakarya.

“Ini sebenarnya menurut pengelingsir kami yang berkegiatan lebih terdahulu, ini kurang lebih sudah hampir 60 tahun pura ini ada, cuman dulunya tidak seperti ini, masih dalam bentuk turus lumbung,” ujarnya pelan.

Bagi masyarakat setempat, pura ini bukan sekadar bangunan suci di bibir laut. Tempat ini hidup dalam ingatan kolektif warga dan cerita turun-temurun yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

“Campuhan,” titik temu air ritual Karjana lalu menjelaskan makna nama Muntig Siokan. “Muntig itu adalah gunung, gunung yang berada di lautan. Sehingga segara, giri, wisesa itu adalah keilmuan. Ada keilmuan-keilmuan yang turun di tempat ini,” ungkapnya.

Dalam kosmologi Hindu Bali, laut bukan sekadar bentang geografis. Segara diyakini sebagai ruang Dewa Baruna, penjaga samudra dan keseimbangan alam. Karena itu, laut menjadi bagian penting dalam berbagai ritual adat Bali, mulai dari melasti, nganyud, hingga pekelem, yakni persembahan suci ke laut sebagai simbol harmonisasi manusia dengan alam semesta.

Di kawasan campuhan, titik pertemuan segara dan aliran sungai dipandang sebagai ruang suci yang menyimpan kekuatan niskala. Di tempat seperti ini, warga lazim melakukan melukat, meditasi, dan memohon ketenangan batin.

Laut bagi warga Sidakarya bukan sekadar air asin. Dari sanalah tirta diambil. Dari sanalah doa dilepaskan. Bagi masyarakat pesisir, laut juga menjadi sumber ekonomi, ruang tangkap nelayan, jalur biota laut, hingga benteng ekologis yang menopang kehidupan sehari-hari.

Menjelang malam, beberapa pemedek mulai datang membawa canang, pejati, dan bunga tujuh rupa. Sebagian datang untuk sembahyang, sebagian lagi membawa keresahan yang tak selalu bisa mereka ucapkan.

“Sebagian besar adalah orang-orang yang mengalami kekroditan di dalam rumah tangga,” kata Karjana. Di tempat ini, air laut yang bertemu dengan aliran sungai diramu menjadi tirta penglukatan. Air itu dipercaya mampu melebur dasa mala dan tri mala, membersihkan batin yang kusut, dan menghadirkan kembali rasa teduh.

“Ambil tirta di sekitar sana ada campuan sungai dan laut. Kita nunas (minta) dulu dengan pejati dan canang sari di tempat itu, lalu disatukan dengan pakuluh (tempat air ritual) yang ada di beji pingit (tempat air ritual) dan di linggih Hyang Pasupati, baru dipakai untuk tirta penglukatan,” jelasnya.

Titik campuhan itu berada di sebelah barat pura, dekat kawasan bakau. Meski proses melukat kini lebih banyak dilakukan di area beji di dalam kawasan pura, titik campuhan tetap dianggap penting secara spiritual karena menjadi sumber air ritual. Namun laut yang selama ini menjadi sumber tirta itu kini mulai dibicarakan dalam bahasa lain, yakni investasi, infrastruktur, dan energi.

Beberapa kilometer dari bibir pantai, perairan yang sama direncanakan menjadi lokasi proyek FSRU LNG yang akan menopang kebutuhan energi Bali dalam beberapa tahun ke depan. Di sinilah narasi kesucian laut bertemu dengan agenda pembangunan modern.

Karjana mengaku mengetahui informasi proyek tersebut dari sosialisasi yang pernah diikutinya. “Niki baru katanya, karena saya bukan orang yang terlibat langsung di sana. Minimal mendengar informasi ini secara gremeng-gremeng (sedikit saja) gitu,” akunya.

Ia menyebut sosialisasi telah melibatkan masyarakat di kawasan terdampak, termasuk Sidakarya dan Intaran. Berdasarkan informasi yang diterimanya, lokasi proyek berada sekitar tiga kilometer dari bibir pantai dan berada di wilayah offshore atau lepas pantai.

“Kalau sesuai sosialisasi terakhir dilakukan offshore jauh di tengah, jauh dari pemukiman masyarakat terutama dari lingkungan pura ini, saya kira tidak ada dampak langsung kepada pura,” katanya. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa setiap pembangunan tetap membawa risiko ekologis maupun sosial.

“Karena setiap pembangunan pasti menimbulkan risiko, baik sengaja maupun tidak sengaja, pasti ada risiko negatif dan positif,” ujarnya. Ketika ditanya mengenai kemungkinan pengaruh kapal LNG terhadap tirta yang diambil dari laut, Karjana membandingkannya dengan lalu lintas kapal yang selama ini telah berlangsung di kawasan Benoa.

“Selama ini sudah banyak kapal masuk. Apakah prosesi melasti dan adat jadi batal karena kapal parkir di Benoa? Tidak juga. Kalau berbicara terminal LNG, menurut sosialisasi posisinya masih jauh di selatan dari lalu lintas kapal Benoa,” katanya. Namun ketika berbicara secara niskala, Karjana menilai setiap pembangunan tetap memiliki persinggungan dengan ruang spiritual masyarakat.

Karena itu, prinsip Tri Hita Karana harus menjadi dasar dalam pembangunan. “Kalau tatanan Tri Hita Karana dilakukan dengan baik, sudah kulonuwun, sudah permisi, dan ada komitmen menjaga lingkungan, bersinggungan tetap ada namun bisa diminimalisir. Kita masuk ke pekarangan baru harus didasari tatanan yang baik,” tuturnya.

Di atas kertas, tiga kilometer mungkin hanya soal jarak. Dalam bahasa teknis, angka itu dianggap aman. Namun bagi masyarakat Bali, laut tidak pernah hanya dibaca sebagai koordinat geografis. Laut adalah segara. Ruang tempat tirta berasal. Ruang tempat doa dilepaskan. Keresahan Karajana juga dialami warga sekitar pantai dan pelabuhan di Serangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *