Pameran Filateli dan Arsip Sejarah di Kota Lama Semarang
Pameran filateli dan arsip sejarah bertajuk Dalam Cengkeraman Saudara Tua kembali menghadirkan berbagai koleksi langka yang terkait dengan masa pendudukan Jepang di Indonesia. Acara ini digelar di Rumah Pohan, sebuah lokasi bersejarah di Kota Lama Semarang, pada Minggu (31/5/2026). Koleksi-koleksi yang dipamerkan mencakup lembaran surat izin, perangko lawas, hingga mata uang yang digunakan pada masa itu.
Pameran ini menawarkan pengunjung kesempatan untuk melihat langsung benda-benda sejarah yang autentik. Dari benda-benda filateli hingga dokumen pemerintahan, semua menunjukkan bagaimana transisi sosial dan pemerintahan terjadi selama masa pendudukan Jepang. Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, hadir dalam acara tersebut dan memberikan apresiasi atas nilai historis yang dimiliki oleh koleksi-koleksi yang ditampilkan.
“Melalui benda-benda filateli ini kita bisa melihat salah satu episode penting dalam perjalanan bangsa kita, terutama pada masa lampau. Bagaimana proses transisi terjadi dan juga bagaimana pemerintahan Jepang melakukan penjajahannya secara sistematis dan strategis,” ujarnya.
Beberapa koleksi yang menarik perhatian antara lain:
- Surat pos dan surat izin dari masa pendudukan
- Dokumen administrasi pemerintahan yang masih terawat
- Koran dan majalah terbitan masa itu seperti Djawa Baroe
- Arsip-arsip yang merekam kehidupan masyarakat pada era 1940-an
- Piringan gramofon lagu Indonesia Raya yang diproduksi pada tahun 1944
Fadli Zon menyampaikan bahwa kehadiran artefak-artefak asli ini memberikan kesempatan bagi masyarakat, terutama generasi muda, untuk melihat sumber-sumber sejarah yang selama ini lebih banyak dikenal melalui buku atau dokumentasi sekunder.
Pameran ini merupakan bagian dari kegiatan Orasi Publik Filateli yang diselenggarakan oleh Pengurus Daerah Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI) Jawa Tengah bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan RI, Pemerintah Kota Semarang, Pengurus Pusat PFI, dan Pohan Kultura Lestari. Koleksi yang dipamerkan dikurasi oleh kurator dan berasal dari kumpulan Pak Pohan yang telah dilakukan sejak tahun 80-an hingga saat ini.
Tujuan Pameran dan Dampaknya
Selain menjadi ruang apresiasi sejarah, kegiatan ini juga diharapkan dapat menumbuhkan minat generasi muda terhadap budaya, pariwisata, dan pembelajaran sejarah melalui arsip filateli. Fadli Zon mengajak masyarakat, khususnya kalangan muda, untuk memanfaatkan kesempatan ini sebagai sarana mengenal perjalanan bangsa melalui dokumen-dokumen asli yang masih terawat.
Menurutnya, periode pendudukan Jepang menjadi bagian penting dalam proses menuju kemerdekaan Indonesia. Di masa itu, berbagai persiapan kelembagaan dan pembentukan kekuatan pertahanan dilakukan, yang kelak berperan dalam perjuangan kemerdekaan.
“Ya, mudah-mudahan ini bisa memberikan edukasi dan pelajaran, serta daya tarik bagi generasi muda untuk mempelajari sejarah karena ini bagian dari perjalanan bangsa kita dan bagaimana para pejuang serta pendiri bangsa kita berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan,” tambahnya.
Pameran ini turut melibatkan berbagai pihak, termasuk komunitas filatelis, kolektor arsip, akademisi, dan pegiat sejarah. Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menyambut baik penyelenggaraan pameran ini. Menurutnya, kehadiran pameran yang menampilkan berbagai koleksi langka dari masa pendudukan Jepang menjadi nilai tambah bagi kawasan Kota Lama yang terus berkembang sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya.
Agustina menilai kegiatan semacam ini tidak hanya menghadirkan ruang edukasi bagi masyarakat, tetapi juga memperkaya ragam atraksi yang dapat dinikmati pengunjung Kota Lama Semarang.




