SURABAYA – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memperluas akses mahasiswa terhadap pendidikan, riset, dan pengembangan kompetensi lintas disiplin melalui kerja sama akademik. Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) di Surabaya, Senin (7/9/2026).
Kerja sama ini membuka peluang bagi mahasiswa Unusa untuk mengikuti pembelajaran di ITS, mengembangkan riset bersama, hingga melanjutkan studi melalui sejumlah skema akademik. Salah satu program yang ditawarkan adalah fast track S1-S2 terintegrasi yang memungkinkan mahasiswa menempuh pendidikan sarjana di Unusa dan melanjutkan studi magister di ITS dalam waktu lima tahun.
Dalam skema tersebut, mahasiswa menyelesaikan pendidikan S1 di Unusa selama empat tahun. Pada semester 7 dan 8, mereka mulai mengambil mata kuliah S2 di ITS, kemudian melanjutkan pembelajaran pada semester 9 dan 10 di ITS.
Apabila memenuhi persyaratan yang ditetapkan, mahasiswa berpeluang memperoleh dua ijazah dalam waktu lima tahun. Program ini menjadi salah satu bentuk integrasi pendidikan yang diharapkan dapat memperluas pilihan akademik sekaligus mempercepat pengembangan kompetensi mahasiswa.
Selain fast track, kerja sama Unusa dan ITS mencakup tiga skema lainnya, yakni credit transfer, joint/double degree, dan joint supervision. Keempat skema tersebut dirancang untuk memberikan lebih banyak pilihan bagi mahasiswa dalam menempuh pendidikan, memperkaya pengalaman belajar, serta mengembangkan kemampuan riset.
Rektor Unusa, Prof. Tri Yogi Yuwono, mengatakan kerja sama tersebut tidak berhenti pada penandatanganan dokumen, tetapi menjadi langkah untuk memperluas peluang akademik mahasiswa.
“MoU ini bukan sekadar dokumen formalitas, melainkan sebuah payung kerja sama akademik yang menyatukan kekuatan medis dan humaniora Unusa dengan keunggulan sains dan teknologi yang dimiliki ITS,” terang Prof. Tri Yogi.
Menurutnya, kolaborasi lintas perguruan tinggi penting untuk membekali mahasiswa menghadapi perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan dunia kerja. Mahasiswa didorong tidak hanya menguasai kompetensi sesuai bidangnya, tetapi juga aktif membangun jejaring, melakukan riset, berorganisasi, dan mengembangkan kemampuan lintas disiplin.
Sementara itu, Rektor ITS, Prof. Bambang Pramujati, mengatakan kerja sama tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa Unusa untuk berinteraksi dan memperoleh pengalaman belajar di ITS, khususnya pada program studi yang tersedia di kedua perguruan tinggi.
Kesempatan tersebut diharapkan dapat memperkaya pengalaman akademik mahasiswa sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara dosen dan peneliti dari kedua institusi.
Di bidang riset, skema joint supervision memungkinkan mahasiswa memperoleh bimbingan tugas akhir atau penelitian dari dosen Unusa bersama profesor maupun peneliti ITS. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat kualitas penelitian serta mendorong lahirnya inovasi yang relevan dengan kebutuhan industri.
Prof. Tri Yogi menegaskan, berbagai peluang akademik yang telah disiapkan perlu dimanfaatkan secara aktif oleh mahasiswa. Menurutnya, keberhasilan kerja sama tidak hanya ditentukan oleh program yang tersedia, tetapi juga oleh kemauan mahasiswa untuk terlibat dan mengembangkan diri.
“Kerja sama nasional dan internasional sudah kami bangun. Peluang-peluang akademik sudah kami siapkan. Namun semua itu tidak akan berarti jika mahasiswa menjadi pasif. Manfaatkan setiap kesempatan untuk belajar, berorganisasi, melakukan riset, dan mengembangkan diri,” pungkas Prof. Tri Yogi.






