Alumni FPK UNAIR Kembangkan Riset Ekstraksi Ramah Lingkungan di China

Teks Foto : Alumni Teknologi Hasil Perikanan FPK UNAIR, Andreiw Yogi, melanjutkan studi magister di Ocean University of China dengan fokus penelitian ekstraksi ramah lingkungan. (Sumber : FPK Unair for IndonesiaKini)

SURABAYA – Tiga tahun bekerja di industri setelah menyelesaikan pendidikan sarjana tidak membuat Andreiw Yogi berhenti mengejar dunia akademik. Pengalaman tersebut justru menjadi bekal bagi alumni Teknologi Hasil Perikanan (THP), Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR), itu untuk kembali melanjutkan pendidikan sekaligus mengembangkan penelitian di bidang yang sejak awal menjadi minatnya.

Andreiw menyelesaikan pendidikan sarjana di FPK UNAIR pada 2021. Setelah itu, ia bekerja selama tiga tahun di PT Surya Indoalgas, perusahaan yang bergerak dalam produksi agar-agar berbahan rumput laut, hingga 2024.

Pengalaman terjun langsung ke industri membuatnya memperoleh perspektif baru mengenai pengolahan hasil perikanan. Ketika kesempatan melanjutkan studi ke China datang, Andreiw memilih mengambil peluang tersebut dan melanjutkan pendidikan magister di Ocean University of China (OUC).

Di OUC, ia mengambil bidang Food Science and Engineering yang masih memiliki keterkaitan erat dengan ilmu yang dipelajarinya saat menempuh pendidikan di FPK UNAIR.

“Saya merasa mungkin saya perlu suasana baru,” ujar Andreiw saat menceritakan alasannya kembali menempuh pendidikan.

Keputusan tersebut pun tidak sepenuhnya direncanakan sejak awal. Menurut Andreiw, kesempatan melanjutkan studi datang secara tidak terduga sehingga ia memilih mencoba mengambil peluang tersebut.

Berawal dari Skripsi

Ketertarikan Andreiw terhadap penelitian ekstraksi sebenarnya telah muncul sejak masa kuliah di UNAIR. Penelitian skripsinya juga berkaitan dengan proses ekstraksi. Ketertarikan tersebut kemudian kembali ia kembangkan ketika memasuki jenjang magister.

Di OUC, Andreiw kini mengembangkan penelitian mengenai proses ekstraksi dengan pendekatan yang lebih ramah lingkungan. Salah satu fokusnya adalah pemanfaatan pelarut yang dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan kimia kuat yang selama ini umum digunakan dalam proses produksi industri.

Penelitian tersebut mulai menunjukkan hasil positif pada skala laboratorium. Hasil ekstraksi yang diperoleh disebut telah mendekati benchmark atau metode ekstraksi konvensional.

Meski demikian, Andreiw menyadari bahwa keberhasilan pada skala laboratorium belum serta-merta dapat diterapkan dalam proses produksi berskala industri. Masih diperlukan pengujian dan pengembangan lebih lanjut agar metode tersebut dapat diterapkan pada skala yang lebih besar.

“Untuk skala kecil, ini sudah lumayan impact, karena hasilnya sudah mulai mendekati dengan benchmark atau conventional extraction. Cuma permasalahannya kalau dibawa ke skala yang lebih besar, itu akan jauh berbeda dan harus dicoba lebih lanjut lagi,” jelasnya dalam keterangan tertulis, (21/09/26) Senin.

Mendorong Riset hingga ke Industri

Bagi Andreiw, keberhasilan sebuah penelitian tidak hanya diukur dari temuan yang dihasilkan di laboratorium. Tantangan berikutnya adalah memastikan hasil penelitian tersebut dapat dikembangkan dan memberikan manfaat bagi pihak yang membutuhkan.

Ia menilai kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah menjadi salah satu faktor penting untuk mendorong hasil penelitian menuju tahap implementasi.

Pengalaman selama menempuh studi di China juga memberinya perspektif mengenai pentingnya keterhubungan antara dunia akademik dan industri. Menurutnya, penelitian tidak seharusnya berhenti sebagai publikasi, tetapi perlu memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi solusi yang dapat diterapkan.

“Harapannya itu bisa di-approach ke perusahaan agar nantinya pengelolaan dan lain-lainnya itu sudah menggunakan larutan yang ramah lingkungan dan bisa diulang-ulang larutannya, tidak dibuang, tidak menjadi limbah kimia,” tuturnya.

Untuk saat ini, Andreiw masih berfokus menyelesaikan penelitian sekaligus mempersiapkan publikasi dari riset yang sedang dikembangkan. Ia berharap penelitian tersebut nantinya dapat dilanjutkan ke tahap yang lebih luas dan memiliki peluang untuk diterapkan di dunia industri.

Utamakan Kualitas Penelitian

Pengalaman menempuh pendidikan dan melakukan penelitian di luar negeri juga membentuk pandangan Andreiw mengenai arah penelitian di Indonesia. Ia berharap para peneliti tidak hanya berorientasi pada jumlah publikasi, tetapi juga memperhatikan kualitas serta dampak dari penelitian yang dilakukan.

“Harapan saya lebih general, buat kualitas penelitian, kualitas publikasi yang lebih penting daripada kuantitas penelitian,” tegasnya.

Menurutnya, penelitian yang baik semestinya memiliki keberlanjutan. Hasil yang diperoleh tidak berhenti setelah dipublikasikan, tetapi dapat menjadi dasar bagi penelitian berikutnya, dikembangkan oleh industri, maupun memberikan manfaat bagi masyarakat.

Perjalanan Andreiw menunjukkan bahwa jalur seorang akademisi tidak selalu berjalan lurus. Setelah menyelesaikan pendidikan di FPK UNAIR dan memperoleh pengalaman selama tiga tahun di industri, ia kembali ke bangku pendidikan untuk memperluas perspektif sekaligus mengembangkan riset yang telah diminatinya sejak masa sarjana.

Kini, melalui studi di Ocean University of China, Andreiw berupaya membawa penelitian ekstraksi ke arah yang lebih ramah lingkungan. Baginya, keberhasilan riset bukan sekadar menghasilkan angka atau publikasi, tetapi bagaimana temuan tersebut dapat terus dikembangkan hingga memberi manfaat nyata ketika keluar dari laboratorium.