Alumni FPK UNAIR Kembangkan Protein Lele Jadi Snack Bar hingga Berkarier di IT

Teks Foto : Shindy Novia A’yun, alumni THP FPK UNAIR, saat menjalani perjalanan akademik dan profesional yang membawanya dari riset produk perikanan ke bidang IT consulting. (Sumber : FPK Unair for IndonesiaKini)

SURABAYA – Latar belakang pendidikan tidak selalu menentukan ke mana seseorang akan melangkah dalam karier. Hal itu tercermin dari perjalanan Shindy Novia A’yun, alumni Teknologi Hasil Perikanan (THP) Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR), yang kini berkarier di bidang IT consulting.

Shindy menempuh pendidikan S1 di Program Studi THP UNAIR sejak 2016 dan menyelesaikannya pada 2020. Pada tahun yang sama, ia memperoleh kesempatan melanjutkan studi melalui program double degree di Kasesart University dan Ocean University of China dengan dukungan beasiswa China Scholarship Council dari pemerintah China.

Namun, pandemi COVID-19 mengubah rencana keberangkatannya. Perkuliahan yang berlangsung secara daring membuat Shindy harus menunda keberangkatannya ke China. Sembari menyelesaikan tesis, ia memilih memanfaatkan waktu tersebut untuk mendapatkan pengalaman di dunia profesional.

Pada 2021, Shindy menjalani penelitian sekaligus menjadi asisten dosen. Setahun kemudian, ia bergabung dengan TMS Consulting Jakarta sebagai management trainee.

“Karena memang belum bisa berangkat ke China, akhirnya saya postpone dan saya bekerja di TMS Consulting,” ujar Shindy dalam keterangan tertulis, (21/09/26) Senin.

Kesempatan untuk kembali melanjutkan studi baru terbuka pada 2023 setelah kondisi pandemi mereda dan perbatasan China kembali dibuka. Shindy kemudian berangkat ke China dan menyelesaikan tesisnya dalam waktu satu tahun.

Menariknya, penelitian yang dilakukan Shindy tetap memiliki keterkaitan dengan pengalaman akademiknya di bidang hasil perikanan. Ketertarikannya terhadap inovasi produk berbasis perikanan bahkan telah tumbuh sejak masa kuliah.

Salah satunya melalui Marine Bar, produk snack bar berbasis protein ikan lele yang dikembangkan melalui pendanaan untuk produk inovasi bidang perikanan. Pengalaman tersebut kemudian menjadi inspirasi bagi penelitian tesisnya di China.

Dalam penelitian tersebut, Shindy mengembangkan pemanfaatan protein dari ikan lele berukuran besar (Clarias gariepinus), yang menurutnya belum banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan di Indonesia.

“Jadi, di tesis saya ini, saya juga mengambil judul yang relevan. Jadi, saya membawa Clarias gariepinus, which is ikan lele yang besar, yang surprisingly banyak tidak dimakan di Indonesia,” jelasnya.

Protein dari ikan tersebut kemudian diekstraksi dan dikembangkan menjadi produk snack bar. Produk hasil penelitian itu juga diperkenalkan kepada masyarakat di China dan mendapat respons positif.

“Dari situ proteinnya, jadi kita bisa ambil, kita ekstrak, dan kita buat sebagai snack bar. Dan di sana orang China juga surprisingly mereka kaget dan ternyata enak,” tuturnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan magister, Shindy kembali ke perusahaan tempatnya bekerja. Meski kini menekuni bidang IT consulting, ia menilai pengetahuan yang diperoleh selama belajar di bidang perikanan dan food science tetap memberikan bekal yang relevan dalam dunia profesional.

“Tentu tidak selinier, karena awalnya memang di perikanan dan food science, namun sekarang saya bekerja di area IT,” katanya.

Menurut Shindy, pendidikan di bidang hasil perikanan tidak hanya berkaitan dengan proses mengolah bahan baku menjadi produk. Di dalamnya juga terdapat pembelajaran mengenai bagaimana sebuah produk dikelola, dikembangkan, dibuat efisien, hingga dapat diterima oleh pasar.

Perbedaan latar belakang pendidikan dan bidang pekerjaan tersebut justru menjadi bagian dari perjalanan kariernya. Ketika bergabung sebagai management trainee, Shindy tidak diarahkan untuk mengikuti jalur yang sama dengan rekan-rekannya yang memiliki latar belakang pendidikan IT.

“Karena saya berbekal perikanan, saya dipilih justru karena skill managerial saya,” ungkapnya.

Dalam tiga tahun terakhir, Shindy telah mengalami tiga kali promosi sekaligus perpindahan posisi. Ia pernah menjalankan peran sebagai project manager yang berhadapan langsung dengan klien, kemudian menangani proyek internal perusahaan, hingga kini menempati posisi manajerial dengan tanggung jawab mengelola sekitar 50 orang.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa kompetensi yang diperoleh selama menempuh pendidikan dapat diterapkan dalam berbagai bidang. Pengalaman mengembangkan produk, melakukan penelitian, memecahkan persoalan, serta memahami proses pengelolaan produk menjadi bekal yang tetap relevan ketika Shindy memasuki lingkungan profesional yang berbeda.

Bagi Shindy, ilmu yang diperoleh dari THP UNAIR tidak berhenti ketika ia meninggalkan bangku kuliah dan memasuki dunia IT. Pengetahuan dan pengalaman tersebut justru menemukan bentuk baru dalam perjalanan kariernya, dari mengolah protein ikan menjadi produk pangan hingga mengelola proyek serta kebutuhan bisnis klien.