Daerah  

Nelayan Pertanyakan Pernyataan Ketua HNSI Bangka Tentang Provokasi Kelompok Nelayan Yang Ditunggangi Perusahaan Lain

BANGKA – Bantuan alat berat untuk pengerukan alur muara Air Kantung oleh PT. Timah Tbk selama 200 jam sudah berakhir pada saat tulisan ini dibuat.

Tapi masih sangat disayangkan bahwa apa yang dilakukan belum membawa hasil yang signifikan bagi nelayan untuk keluar masuk muara Air Kantung dengan lancar.

Drama pengerukan muara Air Kantung ini tentu menarik untuk diulas karena adanya kesimpangsiuran informasi yang diterima masyarakat terkhusus nelayan.

Mulai dari pemberitaan sebuah media yang mengatakan muara akan dikeruk pakai alat berat selama 500 jam dengan anggaran yang sudah tersedia dan dalam media yang sama memuat pernyataan dari Lukman, S.Pd, selaku Ketua HNSI Bangka versi Munas Bali bahwa adanya upaya provokasi dari sejumlah pihak yang mengatasnamakan kelompok nelayan namun di duga ditunggangi oleh perusahaan lain.

H. Sudirman (H. Sudi), Emil alias Milex, Asdar Endang, dan juga Rahman Mayora. Mereka adalah 4 orang nelayan tulen yang mempertanyakan pernyataan Ketua HNSI Bangka tersebut dan mereka meminta penjelasan atas apa yang disebutkan dan siapa yang dimaksud.

Saat berbincang dengan indonesiakini.id pada Jum’at pagi (13/06/2026) di Pantai Tambak Udang, Rambak, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka, ke empat nelayan tersebut menyuarakan hal yang sama yaitu intinya minta Ketua HNSI Bangka menjelaskan siapa yang dimaksud atas pernyataannya.

H. Sudirman mengatakan bahwa pernyataan Lukman, S.Pd, ini sangat tidak berdasar dan tendensius. Karena Lukman, S.Pd, menyebutkan kelompok nelayan.

Kami sebagai nelayan aktif meminta Ketua HNSI Bangka untuk menjelaskan pernyataannya tersebut. Dari pernyataan tersebut nelayan menjadi saling bertanya dan curiga siapa yang dimaksud,” katanya.

Sedangkan Rahman Mayora mengungkapkan bahwa mereka sebagai nelayan sangat mendukung pekerjaan pembukaan alur muara Air Kantung. Apalagi pekerjaan ini demi kepentingan nelayan. Ia juga menyayangkan pernyataan sahabatnya, Lukman, S.Pd, yang terkesan malah menuduh kelompok nelayan tertentu tanpa dasar.

“Kami sangat berterima kasih kepada PT. Timah yang telah keluarkan uang banyak untuk membantu nelayan. Pekerjaan ini sangat kami dukung. Kami ingin bertanya kepada Ketua HNSI Bangka siapa yang ia maksudkan dalam pernyataan tersebut,” ujar Rahman Mayora.

Senada dengan kedua nelayan diatas, seorang nelayan bernama Asdar Endang juga menyayangkan pernyataan Ketua HNSI Bangka yang menuduh ada nelayan memprovokasi pekerjaan tersebut agar dikerjakan perusahaan lain.

Sebagai nelayan kami dari awal sangat gembira dan mendukung pengerukan ini dikerjakan oleh PT. Timah. Saya tidak melihat ada nelayan yang memprovokasi pekerjaan ini. Saya tidak paham maksud dan tujuan pernyataan Ketua HNSI Bangka, saya minta penjelasan. Jangan sampai pernyataan ini malah membuat nelayan terpecah” terang Asdar bersemangat.

Emil alias Milek juga menilai pernyataan Ketua HNSI lah yang telah membuat suasana pengerukan muara Air Kantung menjadi kurang kondusif. Padahal mereka sebagai nelayan sangat mendukung pengerukan ini.

Emil berujar sebagai nelayan memang mereka bereaksi keras disaat ada ponton yang mereka perkirakan sebagai penghisap pasir timah di lokasi pengerjaan alur muara.

Kami sebagai nelayan bereaksi keras saat ada ponton di lokasi. Tapi kami sangat mendukung pekerjaan yang dilakukan PT. Timah. Saya minta agar Ketua HNSI Bangka menjelaskan pernyataan nya tentang ada kelompok nelayan memprovokasi pekerjaan dan ditunggangi perusahaan lain ini dengan jelas agar tidak ada fitnah,” jelas Milex bersemangat.

Sebelumnya diberitakan di sebuah media online tanggal 12 Juni 2025 yang memuat pernyataan Lukman, S.Pd, selalu Ketua HNSI Bangka Versi Munas Bali bahwa ia mengungkapkan keprihatinannya atas adanya upaya provokasi dari sejumlah pihak yang mengatasnamakan kelompok nelayan namun ditunggangi oleh perusahaan lain.

Ia menilai bahwa upaya tersebut sebagai tindakan yang merugikan kepentingan bersama. Lukman juga berpesan jangan mau terprovokasi oleh pengusaha ikan yang mengaku nelayan tetapi selama ini ditunggangi perusahaan lain.

Ada pihak – pihak yang berupaya mengganggu pengerukan dengan memprovokasi pengusaha ikan agar pengerjaan dialihkan ke perusahaan lain. Kami imbau nelayan agar tidak mudah terpengaruh,” kata Lukman seperti dikutip media yang memuat berita tersebut.