Partisipasi EJAVEC 2025 Meroket, BI Jatim Serap Ide Ekonomi dari Ratusan Peneliti

SURABAYA – East Java Economic Forum (EJAVEC) 2025 mencatat lonjakan partisipasi yang signifikan. Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Jawa Timur menerima 376 naskah penelitian, naik 230 persen dibanding tahun lalu yang hanya 163 naskah.

Deputi Kepala BI Jatim, Muhammad Noor Nugroho, menyebut komposisi peserta kali ini cukup seimbang, yakni 177 naskah dari masyarakat umum dan 199 dari kalangan mahasiswa. Sejumlah topik unik turut muncul, mulai dari kontribusi tenaga kerja pra-lansia, potensi pariwisata, hingga kajian ekonomi berbasis Darwinisme.

“Isu-isu ini akan melengkapi kajian ekonomi dan memberi perspektif baru bagi penguatan perekonomian Jawa Timur,” ujar Noor Nugroho di Surabaya, Rabu (13/8).

EJAVEC 2025 digelar BI Jatim bersama Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga serta Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Surabaya Koordinator Jatim. Mengusung subtema Meningkatkan Produktivitas, Inovasi, dan Kapasitas Ekonomi Jawa Timur di Tengah Tantangan Global, forum ini menjadi wadah bertukar gagasan, solusi, dan rekomendasi kebijakan.

Topik yang paling banyak dibahas meliputi strategi peningkatan produktivitas industri padat karya, pengembangan pertanian dan UMKM, ketahanan pangan, stabilitas harga, serta penguatan sektor pariwisata.

Dalam sektor pertanian, sejumlah rekomendasi menekankan digitalisasi, pemetaan ketahanan pangan, dan strategi stabilisasi harga. Untuk sektor industri, diusulkan penguatan kemitraan antarwilayah, optimalisasi kebijakan substitusi impor, serta kolaborasi antara pemerintah, pendidikan vokasi, dan industri dalam merancang kurikulum koperasi berbasis sistem pabrik (factory system).

Kajian pariwisata menemukan 47 persen destinasi di Jatim tertinggal dalam adaptasi digital. Wisata alam menjadi kategori paling rentan, sementara wisata buatan dan budaya relatif lebih siap. Para peneliti menyarankan fokus tak hanya pada pembangunan aset digital, tetapi juga pengelolaan reputasi daring (online reputation management) yang proaktif, dengan dukungan kebijakan pemerintah dan peningkatan pengalaman wisatawan.

Di bidang ketenagakerjaan, riset menegaskan pentingnya adaptasi digital serta peningkatan pendidikan dan pelatihan untuk mendongkrak produktivitas.

Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menyambut baik antusiasme peserta tahun ini. Ia menegaskan, EJAVEC bukan sekadar forum akademis, tetapi sarana strategis menggali potensi ekonomi daerah.

“Hampir seperenam perekonomian nasional ada di Jawa Timur. Dengan populasi 42 juta jiwa, kita punya peluang besar mendorong ide-ide relevan demi memperkuat daya saing daerah,” kata Emil.

Ia juga menyoroti pentingnya penguatan konsep Gerbang Baru Nusantara, agar Jatim aktif menjalin kerja sama investasi lintas provinsi dan menjadi bagian dari rantai pasok teknologi serta industri nasional. Emil mengingatkan, kontribusi industri tembakau terhadap PDRB Jatim turun dari 7 persen menjadi 6 persen, sehingga distribusi barang dan jasa yang lancar menjadi kunci, mengingat 60 persen PDRB Jatim berasal dari konsumsi.

Rekomendasi lain yang mengemuka mencakup strategi menghadapi tren belanja daring, percepatan pembangunan infrastruktur, pengembangan industri berbasis teknologi, peningkatan kualitas SDM digital dan logistik, hingga pemerataan ekonomi di wilayah hinterland seperti Madura, Situbondo, dan Pacitan.

Seluruh hasil penelitian EJAVEC 2025 akan dibukukan dalam jurnal EJAVEC yang dikelola bersama FEB Unair dan BI Jatim, yang tahun ini meraih akreditasi SINTA peringkat bintang 3 dari Kemendikbudristek. Emil berharap rekomendasi tersebut dapat ditindaklanjuti menjadi aksi nyata yang bermanfaat langsung bagi masyarakat.

Dengan lonjakan naskah dan beragam topik strategis, EJAVEC 2025 diharapkan menjadi motor lahirnya inovasi kebijakan ekonomi demi pertumbuhan Jawa Timur yang inklusif dan berkelanjutan.