Daerah  

Kearifan Lokal Diruang Digital, Project Mahasiswa UBB Mengangkat Folkor Menjadi Media Animasi Edukasi

BANGKA –  Mahasiswa Universitas Bangka Belitung (UBB) menjalani pembelajaran kolaboratif berbasis proyek (Team – Based Project) dengan fokus pada folklor lokal.

Folklor merupakan bagian dari kebudayaan suatu kelompok yang disebarluaskan dan diwariskan secara turun – temurun, baik secara lisan, isyarat, maupun perbuatan, tetapi seringkali tidak didokumentasikan dalam sebuah buku.

Setiap mahasiswa dibagi menjadi beberapa team dan masing masing team memilih tema folklor sendiri, memvalidasi isi cerita kepada tokoh adat dan tokoh masyarakat setempat, mendokumentasikan temuan secara sistematis, lalu menyulap materi lapangan itu menjadi video animasi edukatif yang siap dipublikasikan.

Program ini dirancang untuk menggabungkan keterampilan, penelitian lapangan, etika kultural, dokumentasi multimedia, dan produksi kreatif.

Langkah kerja dimulai dari pemilihan tema, misalnya legenda asal – usul suatu tempat, mitos lokal, atau tradisi lisan diikuti kajian literatur singkat dan perencanaan wawancara lapangan.

Setiap tim kemudian melakukan kunjungan ke komunitas untuk mewawancarai tokoh adat, tetua kampung, atau pelaku budaya sebagai upaya validasi narasi dan memastikan otentisitas informasi.

Seluruh proses lapangan di dokumentasikan secara rapi, seperti : rekaman wawancara, transkrip, foto artefak, catatan observasi, serta video singkat kegiatan adat.

Bahan-bahan ini menjadi dasar pengolahan data dan penyusunan naskah.

Dari naskah tersebut tim menyusun storyboard yang selanjutnya diadaptasi menjadi video animasi pendek, ya g dirancang agar menarik bagi generasi muda dan mudah dimanfaatkan oleh sekolah atau instansi pariwisata.

Dosen pengampu mata kuliah foklor di UBB, Poniman, M.Pd menjelaskan bahwa validasi ke tokoh adat merupakan titik krusial untuk menghormati sumber pengetahuan dan menghindari salah tafsir.

Pendekatan ini bukan sekadar produksi konten, ia menempatkan komunitas sebagai pemilik cerita dan memastikan hasil karya kami akurat serta etis,” jelas Poniman

Pernyataan tersebut menekankan pula pentingnya persetujuan narasumber (informed consent) dan komitmen untuk membagikan kembali hasil dokumentasi kepada komunitas sebagai bentuk timbal balik.

Suasana lapangan terlihat dinamis. Mahasiswa tampak antusias saat berdialog dengan narasumber mencatat detail, memotret benda budaya, dan mengumpulkan bahan audiovisual.

Sementara tokoh masyarakat menunjukkan keterbukaan, bahkan bersedia menjadi narasumber dalam video.

Praktik kolaboratif ini juga melatih mahasiswa pada keterampilan komunikasi, manajemen proyek, dan teknik produksi multimedia sederhana.

Manfaat program berlapis.

Dari sisi akademik, mahasiswa memperoleh pengalaman metodologis: menyusun pertanyaan penelitian, melakukan pengamatan partisipatif, serta mengolah dan menyajikan data kultural secara bertanggung jawab.

Dari sisi pelestarian budaya, validasi langsung dan dokumentasi sistematis membantu menjaga otentisitas folklor dan memudahkan penyebaran pengetahuan lokal.

Secara praktis, video animasi yang dihasilkan dapat digunakan sebagai bahan ajar, materi promosi pariwisata, atau sumber rujukan bagi publik yang ingin mengenal tradisi setempat.

Program ini juga membuka peluang pemberdayaan komunitas. Keterlibatan tokoh adat memberi ruang bagi mereka untuk menyuarakan pengetahuan lokal dan, dalam beberapa kasus, memperluas kesempatan kolaborasi berkelanjutan dengan pihak akademik atau dinas terkait.

Sementara itu, mahasiswa yang terlibat tidak hanya pulang dengan nilai akademik, tetapi juga dengan kompetensi nyata yang dapat dimanfaatkan dalam karier maupun kegiatan pengabdian masyarakat.

Penutup rangkaian kegiatan menunjukkan bahwa, pembelajaran berbasis proyek yang menghubungkan mahasiswa, akademia, dan komunitas mampu menjadi medium efektif, untuk melestarikan warisan budaya sambil membentuk kapasitas generasi muda.

Melalui kombinasi validasi kultural, dokumentasi yang tertib, dan produksi kreatif, inisiatif ini menegaskan bahwa pelestarian folklor dapat berjalan berdampingan dengan inovasi pendidikan, mengubah cerita tradisi menjadi media edukatif yang relevan di era digital.