SURABAYA – Provinsi Jawa Timur kembali menorehkan capaian positif dalam pelaksanaan Program Bangga Kencana.
Hal tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Bidang Penggerakan dan Peran Serta Masyarakat Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN), Dra. Maria Ernawati, MM., saat menghadiri Rapat Evaluasi Program Bangga Kencana Tahun 2025 di Kantor Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, Jalan Airlangga No.31-31 Surabaya, Jumat (27/2).
Dalam forum evaluasi tersebut, Jawa Timur dilaporkan mencatatkan performa di atas rata-rata nasional pada sejumlah indikator strategis kependudukan dan pembangunan keluarga.
Salah satu capaian yang menonjol adalah angka Total Fertility Rate (TFR) yang berada di posisi 1,9. Stabilitas demografi ini dinilai sebagai sinyal positif dalam pengendalian pertumbuhan penduduk. Di sisi lain, prevalensi stunting di Jawa Timur juga menunjukkan tren penurunan signifikan menjadi 14,7 persen, lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional yang masih berada di angka 19,8 persen.
Maria Ernawati menyampaikan apresiasi atas kinerja tersebut. Menurutnya, keberhasilan ini tidak terlepas dari kolaborasi lintas sektor yang terbangun kuat di Jawa Timur.
“Capaian program Bangga Kencana di Jawa Timur seluruhnya berada di atas rata-rata nasional. Ini bukan semata keberhasilan kementerian, tetapi hasil sinergi pemerintah daerah, mitra kerja, dan seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya.
Namun demikian, ia memberikan perhatian serius terhadap tren kenaikan angka pernikahan anak. Berdasarkan data by name by address, jumlah kasus meningkat dari 3.700 menjadi 3.900 kasus.
Maria menegaskan bahwa pernikahan dini berpotensi menimbulkan berbagai dampak jangka panjang, baik terhadap ketahanan keluarga maupun kualitas generasi mendatang. Selain berisiko tinggi terhadap perceraian, pernikahan anak juga berkorelasi dengan meningkatnya potensi kelahiran anak stunting.
“Pernikahan anak berdampak besar terhadap kualitas keluarga. Risiko kesehatan ibu dan anak meningkat, termasuk potensi stunting. Kami berharap media turut mengawal sosialisasi agar orang tua dan remaja memahami risiko ini,” tegasnya.
Ke depan, Kemendukbangga/BKKBN akan memperkuat pendampingan keluarga berbasis pendekatan siklus hidup, mulai dari program Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH), Bina Keluarga Remaja, hingga pendampingan bagi keluarga lansia.
Penguatan juga difokuskan pada implementasi 8 Fungsi Keluarga, dengan penekanan pada fungsi keagamaan sebagai fondasi ketahanan keluarga serta fungsi lingkungan hidup melalui edukasi pengelolaan sampah rumah tangga. Hal ini menjadi penting mengingat sektor rumah tangga menyumbang sekitar 60 persen dari total produksi sampah nasional.
Melalui sinergi berkelanjutan antara pemerintah, masyarakat, dan media, diharapkan Jawa Timur tidak hanya unggul dalam capaian statistik, tetapi juga mampu membangun ketahanan keluarga yang berkualitas dan berkelanjutan.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Plh. Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, Sukamto, SE., M.Si., beserta jajaran.





