JAKARTA – Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) untuk Bangladesh, Heru Subolo, optimistis nilai perdagangan antara Indonesia dan Bangladesh akan meningkat pada tahun-tahun mendatang.
Pernyataan tersebut disampaikan Dubes Heru, terkait pengumuman kesepakatan dagang senilai Rp2,93 triliun antara sejumlah pelaku usaha Indonesia dan Bangladesh, melalui keterangan tertulis Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Dhaka, Rabu (2/11/2022).
Kesepakatan dagang itu merupakan capaian KBRI Dhaka untuk mendorong pemulihan kerja sama perdagangan kedua negara yang sempat lesu akibat pandemi COVID-19.
Kesepakatan dagang tersebut meliputi pembelian produk margarin sebesar Rp725,4 juta, strec acid senilai Rp2,03 miliar, bahan baku kosmetik dan sabun senilai Rp2,91 triliun, natural zeolite senilai Rp5,27 miliar, asam lemak sawit senilai Rp2,2 miliar, dan RBD Coconut Oil senilai Rp13,88 miliar.
“KBRI Dhaka yakin bahwa dalam waktu singkat, angka perdagangan Indonesia-Bangladesh yang sempat lesu akibat pandemi akan segera pulih, serta tidak menutup kemungkinan akan membuka lebih banyak transaksi dan kerja sama lain yang lebih besar antara pelaku usaha kedua negara,” kata Dubes Heru.
Pascapandemi, KBRI Dhaka telah melakukan berbagai upaya untuk mendorong kembali transaksi perdagangan antara Indonesia dan Bangladesh.
KBRI Dhaka aktif menggalang para pengusaha dan melakukan berbagai forum bisnis yang dilakukan di beberapa tempat, salah satunya di Kota Chattogram, kota terbesar kedua di Bangladesh.
Kegiatan tersebut difokuskan untuk mempromosikan produk Indonesia, serta mendorong kembali para pengusaha Bangladesh untuk menjalin hubungan dengan mitranya di Indonesia.
Indonesia dan Bangladesh merupakan dua negara di kawasan Asia yang telah menjalin hubungan bilateral selama 50 tahun. Indonesia dan Bangladesh memiliki banyak kesamaan baik budaya, kebiasaan, dan makanan.
Dalam menjalin hubungan bilateral, kedua negara melakukan berbagai interaksi dan kerja sama salah satunya adalah perdagangan.
Neraca perdagangan Indonesia-Bangladesh menunjukkan angka kenaikan yang konsisten dengan 1,335 miliar dolar AS (sekitar Rp20,8 triliun) pada 2016 menjadi 2,01 miliar dolar AS (sekitar Rp31,4 miliar dolar AS) pada 2019.
Hal tersebut dijadikan dasar bagi pemerintah Bangladesh untuk menempatkan Indonesia sebagai mitra dagang ke-6 terbesar setelah China, India, Singapura, Amerika Serikat, dan Jepang.
Sebaliknya, dari catatan Kementerian Perdagangan RI, Bangladesh selalu menjadi salah satu dari 20 negara mitra dagang terbesar Indonesia selama lima tahun terakhir.
Meskipun begitu, pada 2020-2021 saat dunia dihadapkan dengan pandemi COVID-19, angka perdagangan Indonesia-Bangladesh menjadi lesu dan mengalami penurunan hingga 12,4 persen.





