BANYUWANGI – Sempat eror dan hanya loading, Aplikasi Absensi sejumlah ASN di Kabupaten Banyuwangi menjadi perhatian Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Banyuwangi, Syamsul Arifin SH.
Menurutnya, absensi online sebagai pengembangan dari aplikasi Smart Kampung, selayaknya dapat beroperasi secara maksimal terlebih Banyuwangi yang selama ini diklaim menjadi kabupaten berbasis digital.
Hal inilah yang harus menjadi konsistensi pemerintahan kabupaten ujung timur pulau Jawa untuk mempertahankan julukan tersebut, terlebih Banyuwangi pernah mencanagkan progam 10.000 titik Wifi.
Kendati demikian, Syamsul arifin mengatakaan adanya absensi online tersebut yang dikerjakkan dengan tim Pemkab Banyuwangi yang diklaim menghabiskan anggaran Rp 0 juga harus diimbangi dengan kinerja dari ASN sendiri.
“Jikalau itu lebih efisen dan memudahkan dalam pekerjaan namun harus diimbangi juga dengan kinerja para ASN, serta jika dengan adanya aplikasi tersebut dapat mengehemat anggaran tentunya bagus, karena setiap anggaran harus diprioritaskan guna kepentingan masyarakat,” ujar Syamsul Arifin, Jumat (4/8/2023).
Lebih jauh politisi PPP yang terkenal santun tesebut mengungkapkan untuk mesin Absensi Finger Print dan Face Recognition yang sebelumnya digunakan tetep harus dirawat dan dijaga agar tidak terjadi kerusakkan apalagi terbengkalai atau mangkrak.
Dikarenakan menurutnya, absensi sebelumnya masih layak digunakan dan jangan sampai mangkrak. Di samping adanya aplikasi absensi online dari masing-masing gawai para ASN.
“Absensi online untuk mempermudah ibaratnya Fardhunya, namun tetap harus absensi yang lama sebagai sunnah muakkad-nya. Tetap harus dijaga dan dirawat karena itu mengunakan anggaran yang cukup besar. Kan masih bisa digunakan,” ujar politisi PPP tersebut.
Dengan adanya absensi tersebut juga diharapkan diimbangi dengan kinerja ASN dalam bekerja pelayanan kepada masyarakat. Sehingga keperluan masyarakat dalam dilayani secara baik, efisien dan cepat.
Seperti berita sebelumnya, Kabid TIK Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Banyuwangi, Agustinus Suko mengatakan, bahwa kendala tersebut dikarenakan migrasi yang sebelumnya mengunakan perangkat khusus beralih ke gawai masing-masing ASN.
“Karena ada migrasi dari yang sebelumnya mengunakan perangkat khusus sekarang mengunakan handphone (HP) masing-masing dari ASN, atau kesiapan penguna untuk instal dalam proses verifikasi,” ujarnya.
Menanggapi kejadian tersebut dirinya juga mengatakan akan mengundang para operator kepegawaian untuk sosialisasi SOP pelatihan instalasi.
“Kita akan mengundang operator kepegawaian untuk sosialisasi SOP instalasi tersebut, dan kita tetap memonitoring sistem dan sedang dalam pembenahan untuk prosesnya lebih cepat,” ungkapnya.
Agustinus juga menambahkan anggaran pembuatan absensi online tersebut adalah sebesar Rp 0 dikarenakan hanya pengembangan dari aplikasi smartkampung yang dibuat oleh TIM Pemkab Banyuwangi.
(Noviansyah)





