Kita buka hari ini dengan do’a ;
بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم
اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
“Allahumma inni as aluka ‘ilman naafi’aa wa rizqan toyyibaa wa ‘amalan mutaqabbalaa”.
“Ya Allah, sungguh aku memohon kepadaMu ilmu yang manfaat, rizki yang baik dan amal yang diterima.”
(HR. Ibnu As-Sunni dan Ibnu Majah)
◾ BAHAYA MENGGHIBAH
وعَنْ أبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قالَ: «أتَدْرُونَ ما الغِيبَةُ؟»
قالُوا: اللَّهُ ورَسُولُهُ أعْلَمُ.
قالَ: «ذِكْرُكَ أخاكَ بِما يَكْرَهُ».
قِيلَ: أرَأيْتَ إنْ كانَ فِي أخِي ما أقُولُ؟
قالَ: «إنْ كانَ فِيهِ ما تَقُولُ فَقَدْ اِغْتَبْتَهُ، وإنْ لَمْ يَكُنْ فَقَدْ بَهَتَّهُ». أخْرَجَهُ مُسْلِمٌ.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam bersabda,
“Tahukah kalian apa ghibah itu?”
Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”
Beliau menjawab, “Ghibah adalah kamu menyebut-nyebut tentang saudaramu yang tidak dia sukai.”
Beliau pun ditanya, “Bagaimana jika apa yang aku katakan benar-benar ada pada saudaraku?”
Beliau menjawab, “Jika sesuai yang kamu katakan, maka kamu telah mengghibahnya; jika tidak ada pada diri saudaramu, maka kamu telah membuat kebohongan atasnya.”
(HR. Muslim [2589].)
🔹️Petikan Pelajaran dari Hadits
1. Ghibah adalah akhlak tercela.
Seorang muslim harus sungguh-sungguh menjaga diri darinya. Sebab wujud ghibah kadang tertutupi oleh keseruan obrolan.
Syaikh al-Fauzan hafizhahullah mengingatkan, “Banyak orang tidak hati-hati dalam permasalahan ghibah. Yang ada, sangat banyak obrolan yang penuh dengan ghibah dan orang-orangnya bersenang-senang dengan menjatuhkan kehormatan manusia. Laa haula wa laa quwwata illaa billaah. Inilah realita ghibah dan bukti bahayanya.” Ithaful Kiram, hlm. 173.
2. Hukum ghibah adalah haram bahkan dosa besar, karena itu, tidak boleh mendengarkan atau membiarkannya. Wajib menegur pelaku ghibah, atau jika tidak mampu, maka ia pergi meninggalkan majelis tersebut. [Fiqhu Bulugh al-Maram (5/127)]
Namun, tindakan ghibah diizinkan pada keadaan tertentu saat ada maslahat yang lebih kuat berdasarkan petunjuk syariat, di antara keadaan yang boleh:
A. Melakukan pengaduan atas tindakan kezaliman.
B. Menyampaikan suatu aib dalam rangka meminta fatwa atau bimbingan dari seorang alim.
C. Untuk mengingatkan manusia dari bahaya orang tertentu.
D. Dalam ilmu hadits; yaitu mencela rawi tertentu yang terindikasi atau bahkan terbukti memiliki hafalan buruk atau tidak jujur. [Ithaful Kiram, hlm. 174-175]
E. Untuk memastikan orang tertentu dengan menyebutkan ciri fisiknya.
3. Perkara ghibah benar- benar serius. Oleh sebab itu, Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam mengawali kalimat penjelasan tentang ghibah dengan melemparkan pertanyaan, “Tahukah kalian apa ghibah itu?” [Syarah Kitab al-Jamiʼ li Abdil Muhsin al-Qasim, hlm. 113]
Hal ini untuk lebih menarik perhatian para sahabat.
4. Sabda Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam tentang arti ghibah, “menyebut-nyebut tentang saudaramu” termasuk dalam kalimat ini: anak-anak kecil. Jadi anak-anak pun tidak boleh dighibah. [Syarah Kitab al-Jamiʼ li Abdil Muhsin al-Qasim, hlm. 114]
5. Sabda beliau Shollallahu alaihi wasallam, “tentang saudaramu yang tidak dia sukai”: jadi ghibah adalah kalimat yang isinya celaan kepada orang yang dibicarakan.
Konteks ghibah ini luas. At-Tahanawi rahimahullah menerangkan, “Ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu jika dia mengetahuinya. Baik itu menyebutkan kekurangan dalam tubuhnya, pakaiannya, sifatnya, tindakannya, ucapannya, agamanya, dunianya, anak-anaknya, busananya, rumahnya, atau hewan peliharaannya.”
Kasyaf Ishthilahat al-Funun wal-‘Ulum, 2/1256.
“Maha Suci Engkau Ya Allah, dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu”
Semoga Allah memberikan Hidayah dan Rahmat-Nya serta menerima Amal ibadah kita.






