Mahasiswa FTMM UNAIR Raih Kesempatan Belajar di Korea Selatan lewat Program EQUITY

Teks Foto : Nauval Syahferi, mahasiswa Teknologi Sains Data FTMM Universitas Airlangga angkatan 2022, saat mengikuti program pertukaran pelajar di Jeonbuk National University, Korea Selatan. (ist)

SURABAYA – Mahasiswa Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional. Nauval Syahferi, mahasiswa Program Studi Teknologi Sains Data angkatan 2022, berhasil mengikuti program pertukaran pelajar di Jeonbuk National University, Korea Selatan.

Kesempatan tersebut diperoleh melalui skema UNAIR Student Outbound Mobility EQUITY yang didukung pendanaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Program ini menjadi sarana bagi Nauval untuk memperluas wawasan akademik, memperkuat kompetensi global, sekaligus membangun jejaring internasional.

Selama satu semester, Nauval mengikuti perkuliahan penuh waktu di Jeonbuk National University. Selain mengambil mata kuliah bahasa Korea dasar untuk menunjang komunikasi sehari-hari, ia juga mempelajari perkembangan masyarakat Korea kontemporer yang erat dengan kemajuan teknologi.

Di tengah padatnya aktivitas perkuliahan, Nauval tetap berkomitmen menyelesaikan penelitian skripsinya agar target kelulusan tidak tertunda. Ia pun harus membagi waktu secara disiplin antara mengikuti kelas dan mengerjakan riset secara mandiri.

Pengalaman belajar di Korea Selatan juga mempertemukannya dengan mahasiswa dari berbagai negara, seperti Korea Selatan, China, Uzbekistan, Kolombia, hingga Ukraina. Interaksi tersebut memberinya perspektif baru mengenai budaya belajar dan etos kerja mahasiswa internasional.

“Melihat semangat belajar teman-teman dari berbagai negara membuat saya semakin termotivasi untuk terus berkembang dan berani bersaing di tingkat global,” ungkap Nauval, (21/07/26) Selasa.

Selain pengalaman akademik, Nauval juga menghadapi berbagai tantangan selama menjalani kehidupan di Negeri Ginseng, terutama karena program berlangsung bertepatan dengan bulan suci Ramadan.

Sebagai muslim yang berada di lingkungan minoritas, ia harus berjalan kaki sekitar satu jam untuk mencapai satu-satunya masjid di Kota Jeonju. Di sana, ia rutin melaksanakan salat tarawih dan berbuka puasa bersama muslim dari berbagai negara.

Pengalaman tersebut justru menjadi momen berharga yang memperkaya pemahamannya tentang keberagaman budaya dan persaudaraan lintas bangsa.

Tantangan lain datang dari penyesuaian waktu ibadah dengan jadwal perkuliahan. Nauval kerap harus bergegas kembali ke asrama agar dapat melaksanakan salat tepat waktu. Selain itu, keterbatasan makanan halal membuatnya harus lebih selektif saat membeli makanan.

Untuk memastikan kehalalan produk, ia memanfaatkan aplikasi pemindai komposisi makanan. Selama Ramadan, menu sahurnya sering kali hanya berupa nasi instan dan camilan rumput laut.

Tak hanya itu, suhu dingin yang cukup ekstrem di Korea Selatan juga menjadi pengalaman baru baginya. Kondisi tersebut membuat tubuh lebih cepat merasa lapar ketika menjalankan ibadah puasa.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Nauval mengaku pengalaman belajar di Korea Selatan menjadi salah satu perjalanan akademik paling berkesan dalam hidupnya. Ia memperoleh pemahaman baru mengenai sistem pendidikan, budaya disiplin masyarakat Korea, serta pentingnya kemampuan beradaptasi di lingkungan internasional.

Pengalaman tersebut semakin menguatkan tekadnya untuk kembali melanjutkan studi ke jenjang pascasarjana di Korea Selatan melalui program beasiswa.

Bagi Nauval, kesempatan belajar di luar negeri membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita dan bersaing di tingkat global.