Dijuluki ‘Bucil’ Saat Kuliah, Fani Kini Resmi Jadi Dokter di Usia 22 Tahun

Teks Foto : dr. Syifa’ani Maulidah Zakiyah Rosyid menjadi salah satu dokter termuda yang dilantik Unusa. Ia mulai menempuh pendidikan Fakultas Kedokteran pada usia 15 tahun melalui program akselerasi pendidikan. (ist)

SURABAYA – Usianya baru 22 tahun, tetapi dr. Syifa’ani Maulidah Zakiyah Rosyid telah menyandang gelar dokter. Perjalanan akademiknya pun terbilang istimewa. Ia mulai menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) ketika usianya baru 15 tahun.

Kisah tersebut menjadi salah satu cerita menarik dalam prosesi pelantikan dokter Unusa yang berlangsung Kamis (13/8) siang. Di tengah puluhan dokter baru yang dilantik, sosok dr. Syifa’ani atau yang akrab disapa Fani itu mencuri perhatian karena usianya jauh lebih muda dibandingkan kebanyakan mahasiswa kedokteran pada umumnya.

Fani lahir di Malang, 12 Mei 2004. Ia menyelesaikan pendidikan menengah di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet, Mojokerto, melalui program akselerasi sejak jenjang SMP hingga SMA.

Program tersebut membuat Fani dapat menyelesaikan pendidikan lebih cepat. Hingga akhirnya, pada usia 15 tahun, ia sudah diterima sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Unusa.

“Ketika pertama kali masuk kuliah, banyak teman yang kaget karena saya masih sangat muda. Mereka sering memanggil saya ‘Bucil’. Awalnya memang dianggap seperti adik kecil, tetapi seiring waktu teman-teman justru banyak membantu dan mendukung saya,” kenangnya.

Menjadi dokter bagi Fani bukan sekadar pilihan akademik. Lingkungan keluarga turut membentuk cita-citanya sejak kecil.

Putri sulung dari empat bersaudara itu tumbuh dalam keluarga yang dekat dengan dunia kesehatan. Sang ayah, dr. Sulaiman Rosyid, M.MKes, merupakan seorang dokter yang kini menjabat sebagai Direktur RSUD Wahidin Sudiro Husodo, Mojokerto.

Sejak kecil, Fani sudah terbiasa berada di lingkungan rumah sakit. Ia kerap diajak sang ayah ke rumah sakit dan melihat secara langsung bagaimana dokter berinteraksi serta memberikan pelayanan kepada pasien.

Pengalaman tersebut perlahan menumbuhkan keinginan dalam dirinya untuk mengikuti jejak sang ayah.

Menariknya, pilihan terhadap dunia kedokteran juga mulai diikuti saudara-saudaranya. Dua adik Fani saat ini sama-sama menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran, meski berada di kampus yang berbeda. Sementara satu adiknya yang masih duduk di bangku SMA disebut memiliki ketertarikan untuk mengikuti jejak kakak-kakaknya.

“Papi sih berharap anak-anaknya bisa di kedokteran semua. Soal kampusnya terserah di mana saja,” ujar Fani.

Meski memasuki bangku kuliah pada usia yang relatif sangat muda, Fani tidak merasa kesulitan ketika harus beradaptasi dengan lingkungan pendidikan kedokteran maupun rumah sakit.

Saat menjalani pendidikan profesi, lingkungan rumah sakit justru terasa familiar baginya. Kebiasaan mengunjungi rumah sakit sejak kecil membuatnya tidak asing dengan suasana pelayanan kesehatan, termasuk interaksi antara dokter, tenaga kesehatan, dan pasien.

Selain lingkungan keluarga, Fani menilai pendidikan di pesantren memberikan fondasi penting dalam perjalanan akademiknya.

Selama berada di pondok pesantren, ia terbiasa menjalani aktivitas yang padat. Kegiatan belajar berlangsung sejak pagi hingga sore, kemudian dilanjutkan dengan aktivitas mengaji pada malam hari.

Rutinitas tersebut membuatnya terbiasa disiplin, mengatur waktu, sekaligus menjaga konsistensi belajar. Kemampuan itu kemudian menjadi bekal ketika harus menghadapi padatnya perkuliahan hingga pendidikan profesi dokter.

“Di pesantren saya sudah terbiasa dengan jadwal yang padat. Jadi ketika masuk kedokteran, saya tinggal melanjutkan kebiasaan untuk disiplin dan mengatur waktu,” ungkapnya.

Setelah resmi menyandang gelar dokter, Fani belum ingin berhenti belajar. Ia memiliki target untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang spesialis.

Bidang bedah dan spesialis mata menjadi dua pilihan yang saat ini paling menarik perhatiannya. Menurut Fani, kedua bidang tersebut menawarkan tantangan sekaligus kesempatan untuk terus mengembangkan kemampuan di dunia kedokteran.

Sementara itu, Rektor Unusa Prof. Tri Yogi Yuwono mengatakan perjalanan Fani menjadi gambaran bahwa usia bukanlah penentu utama keberhasilan seseorang dalam menempuh pendidikan kedokteran.

Menurutnya, kedisiplinan, ketekunan, serta kemauan untuk terus belajar menjadi faktor penting dalam membentuk seorang calon dokter.

“Keberhasilan dalam pendidikan kedokteran tidak ditentukan oleh usia, tetapi oleh kedisiplinan, ketekunan, dan kemauan untuk terus belajar,” katanya.

Ia menambahkan, Unusa tidak hanya berupaya mencetak dokter yang memiliki kompetensi akademik dan klinis, tetapi juga memiliki karakter, empati, integritas, serta kepedulian terhadap masyarakat.

Pelantikan dokter tersebut pun menjadi awal bagi para lulusan untuk memasuki dunia pengabdian yang sesungguhnya. Bagi Fani, perjalanan panjang yang dimulai sejak usia 15 tahun kini membawanya pada satu tahap baru: mengabdikan ilmu dan melanjutkan cita-cita menjadi dokter spesialis.