Daerah  

TNBB Gandeng WLBA Siapkan Pemulihan Populasi Banteng di Bali Barat

Teks Foto : Penanaman mangrove di kawasan Teluk Trima, Buleleng, Bali, menjadi bagian dari program konservasi TNBB yang turut menyiapkan rencana pengembalian banteng ke habitatnya. (ist)

BALI – Rencana mengembalikan banteng ke habitatnya di kawasan konservasi Taman Nasional Bali Barat (TNBB) mulai disiapkan. Program tersebut mendapat dukungan dari PT Wijaya Laksmi Bhuana Agung (WLBA) bersama Yayasan Royal Nusantara Agung (RNA).

Rencana itu mengemuka dalam rangkaian peringatan Hari Konservasi Alam Nasional yang ditandai dengan kegiatan penanaman ribuan bibit mangrove di kawasan Teluk Trima, Desa Sumber Klampok, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali.

Penanaman mangrove dilakukan di lahan seluas sekitar 19 hektare yang selama ini rawan mengalami abrasi. Kegiatan tersebut menjadi bagian awal dari kerja sama konservasi yang nantinya mencakup pemulihan ekosistem dan perlindungan satwa.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Balai TNBB Adang Bayu Pamungkas mengatakan, konservasi mangrove memiliki fungsi ekologis yang penting bagi kawasan pesisir.
Selain membantu mengurangi abrasi, mangrove berperan melindungi wilayah pesisir dari ancaman tsunami, menyerap karbon dioksida, serta menjaga kualitas perairan.

“Ekosistem mangrove juga menjadi habitat penting bagi berbagai biota laut, baik sebagai lokasi pemijahan atau spawning ground, tempat pembesaran atau nursery ground, maupun area mencari makan atau feeding ground,” kata Adang.

Kegiatan penanaman mangrove tersebut dihadiri sekitar 600 undangan. Mereka berasal dari berbagai unsur, mulai dari pejabat pemerintah, tokoh adat dan agama, nelayan, kelompok masyarakat, pelajar, mahasiswa, pendidik, hingga pengurus yayasan budaya dan komunitas pecinta alam.

Direktur Utama PT WLBA Raden Ayu Ambarwati Kenconowungu mengatakan, program konservasi tersebut akan dilanjutkan dengan upaya mengembalikan banteng ke kawasan TNBB.

Menurut Ambarwati, banteng sebelumnya merupakan salah satu satwa yang menjadi bagian dari ekosistem Bali Barat. Satwa tersebut hidup berdampingan dengan berbagai jenis fauna lain, seperti menjangan atau rusa, lutung, dan curik Bali.

Namun, sejak 2007 keberadaan banteng tidak lagi ditemukan di kawasan TNBB. Kondisi tersebut menyebabkan banteng dinyatakan mengalami kepunahan secara lokal di kawasan tersebut.

“Banteng yang nantinya dikembalikan berasal dari populasi di kawasan konservasi di Pulau Jawa yang dinilai memiliki karakteristik paling mendekati,” ujar Ambarwati.

Ia menegaskan, rencana pengembalian banteng tersebut tidak dilakukan secara sembarangan. Seluruh proses akan mengikuti arahan pengelola TNBB serta prosedur, aturan, dan regulasi yang berlaku.

Program kerja sama konservasi itu tidak hanya berfokus pada pemulihan populasi banteng. PT WLBA dan Yayasan RNA juga menyiapkan sejumlah program lain, di antaranya perlindungan satwa langka, pembangunan instalasi air bersih, pembangunan dermaga penyeberangan untuk mendukung kegiatan konservasi, serta pengolahan dan pengelolaan sampah.

Dukungan terhadap program tersebut juga datang dari jejaring internasional. Alex Lemancel, warga negara Prancis yang menjadi penghubung internasional bagi dukungan yayasan Eropa kepada Yayasan RNA, menyampaikan komitmennya untuk mendukung berbagai program konservasi yang dikembangkan.

Menurut Alex, dukungan internasional tersebut juga berkaitan dengan hubungan dengan Prince Albert II of Monaco – Fondation.

Sementara itu, PT WLBA dan Yayasan RNA menyatakan siap mendukung pembiayaan program rehabilitasi mangrove, mulai dari penanaman, perawatan hingga penjagaan kawasan selama sekitar tiga tahun.

Untuk diketahui, Kelompok Hutan Bali Barat atau Kawasan Hutan RTK 19 memiliki luas sekitar 86.649,84 hektare. Kawasan tersebut terdiri atas sejumlah fungsi hutan, antara lain Taman Nasional Bali Barat, Hutan Produksi Terbatas (HPT), dan Hutan Lindung.