ARC USK dan ParagonCorp Sulap Nilam Aceh Jadi Bahan Baku Kosmetika Bernilai Tinggi

BANDA ACEH – Atsiri Research Center Pusat Unggulan IPTEK Perguruan Tinggi (ARC PUIPT) Nilam Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh berkolaborasi dengan industri kosmetik nasional PT Paragon Technology and Innovation (ParagonCorp) untuk mengembangkan nilam kristal sebagai bahan aktif kosmetika alami.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong hilirisasi hasil riset perguruan tinggi agar dapat dimanfaatkan oleh industri sekaligus memberikan nilai tambah terhadap komoditas nilam Indonesia.

Kepala ARC USK Banda Aceh, Syaifullah Muhammad, mengatakan kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri merupakan bagian dari amanat skema insentif hilirisasi dorongan teknologi dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

“Kolaborasi antara akademisi dengan industri merupakan amanat skema insentif hilirisasi dorongan teknologi dari Kemendiktisaintek,” kata Syaifullah saat dikonfirmasi dari Banda Aceh, Kamis (20/8/2026).

Kerja sama penelitian tersebut ditandai dengan penandatanganan implementation agreement untuk kolaborasi riset pengembangan nilam kristal sebagai bahan aktif kosmetika alami. Penandatanganan berlangsung di ParagonCorp HQ, Jakarta.

Dokumen kerja sama ditandatangani langsung oleh Syaifullah Muhammad yang juga merupakan Team Leader Research Project Hilirisasi Dorongan Teknologi Kemendiktisaintek, bersama Vice President ParagonCorp, dr. Sari Chairunnisa.

Syaifullah menjelaskan, penelitian tersebut berfokus pada pemanfaatan inovasi nilam kristal dengan tingkat kemurnian tinggi yang mencapai 99,7 persen patchouli alcohol (PA).

Nilam kristal tersebut berhasil disintesis dari minyak nilam mentah (crude patchouli oil) khas Aceh melalui dukungan hibah Program Hilirisasi Dorongan Teknologi Kemendiktisaintek 2026.

Menurut Syaifullah, riset selanjutnya diarahkan pada serangkaian pengujian efikasi secara ilmiah untuk membuktikan potensi nilam kristal sebagai bahan aktif bernilai tinggi bagi produk perawatan kulit (skincare) dan kosmetika.

“Proses pengujian mencakup formulasi laboratorium, uji aktivitas biologis seperti antioksidan, antiinflamasi, dan anti-aging, hingga uji keamanan dan kompatibilitas pada kulit,” ujarnya.

Ia mengatakan, rangkaian penelitian tersebut diharapkan mampu mentransformasi komoditas nilam yang selama ini banyak dipasarkan dalam bentuk bahan mentah menjadi bahan baku kosmetika berstandar industri (industrial grade) yang memiliki daya saing dan siap diserap pasar nasional maupun internasional.

Lebih jauh, keterlibatan industri dalam proses pengujian sekaligus penyerapan hasil inovasi dari laboratorium dinilai dapat mempercepat penciptaan produk bernilai tambah.

Dampaknya diharapkan tidak hanya dirasakan oleh perguruan tinggi dan industri, tetapi juga oleh rantai pasok lokal, termasuk para petani nilam sebagai produsen bahan baku.

“Kerja sama ini menjadi wujud nyata implementasi komersialisasi hasil riset perguruan tinggi dan bisa membuka peluang penciptaan ekosistem lebih luas dalam rantai nilai industri nilam Indonesia,” kata Syaifullah.

Sementara itu, Vice President ParagonCorp, dr. Sari Chairunnisa, menyambut baik kemitraan strategis tersebut. Menurutnya, kerja sama dengan ARC USK menjadi salah satu langkah untuk mendorong pemanfaatan kekayaan hayati Indonesia sebagai bahan alami untuk industri kosmetika.

“Paragon mencoba mengembangkan perhatian lebih luas terhadap komoditas atsiri Indonesia sebagai bahan alami untuk kosmetika. Semoga kolaborasi ini bisa membawa dampak positif bagi proses hilirisasi bahan alam Indonesia,” kata Sari.

Melalui integrasi antara riset akademik dan kapasitas industri, ARC USK dan ParagonCorp berkomitmen mendorong lahirnya inovasi kosmetika berbasis bahan alam lokal yang memiliki daya saing global.

Kolaborasi tersebut sekaligus diharapkan dapat memperkuat hilirisasi komoditas nilam, meningkatkan nilai tambah bahan baku lokal, serta mendukung kemandirian dan kedaulatan bahan baku industri kosmetika di Indonesia.