Klenteng Cokro Gelar Tumpengan 1 Suro, Satukan Tradisi Jawa dan Kepercayaan Tionghoa

SURABAYA – Menyambut datangnya 1 Suro dalam penanggalan Jawa, puluhan umat Klenteng Hong San Koo Tee—yang lebih dikenal masyarakat sebagai Klenteng Cokro Surabaya—menggelar prosesi ritual tumpengan, Jumat (27/6/2025).

Kegiatan sakral ini tak sekadar menjadi bentuk penghormatan terhadap tradisi leluhur, tapi juga sebagai penanda tahun baru Jawa yang dijalankan dengan penuh kekhidmatan dan semangat kebersamaan.

Menurut pengurus Klenteng Cokro, Robertus, ritual tumpengan ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Dewi Sri yang diyakini sebagai simbol kesuburan dan kemakmuran dalam budaya Jawa.

“Di kompleks klenteng ini terdapat altar khusus untuk Dewi Sri. Umat kami rutin bersembahyang di sana. Sejak beberapa tahun terakhir, kami mengadakan tumpengan setiap 1 Suro, sebagai permohonan untuk keberkahan dan kesuburan,” ujar Robertus.

Tahun ini, sebanyak 46 tumpeng lengkap dengan aneka jajan pasar dipersembahkan dalam prosesi tersebut. Rangkaian ritual diawali dengan sembahyang di altar Dewa Kong Tik Tjoen Ong yang dipercaya sebagai tuan rumah klenteng.

Selanjutnya, para umat memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan melakukan penghormatan di altar Dewi Sri. Prosesi kemudian ditutup dengan pemberkatan seluruh tumpeng yang disiapkan.

“Tumpeng ini kami berkati agar membawa kebaikan di tahun baru Jawa—baik berupa kesehatan, keselamatan, kesejahteraan, maupun kehidupan yang lebih baik,” jelasnya.

Usai diberkati, sebagian tumpeng dibawa pulang oleh para umat untuk dibagikan kepada keluarga maupun karyawan mereka. Sementara sisanya dinikmati bersama di area klenteng atau disumbangkan ke sejumlah panti asuhan di sekitar.

“Kami ingin makna kebahagiaan dan berkah 1 Suro ini bisa meluas dan dirasakan oleh lebih banyak orang,” pungkas Robertus.