SURABAYA – Tiga entitas pelabuhan di bawah naungan PT Pelindo, yakni PT Terminal Teluk Lamong (TTL), Terminal Petikemas Nilam (TPK Nilam), dan PT Berlian Jasa Terminal Indonesia (BJTI), menerima kunjungan dari tim Pusat Pengelolaan Transportasi Berkelanjutan (PPTB), Kementerian Perhubungan Republik Indonesia.
Kunjungan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat sinergi antara pemerintah dan BUMN kepelabuhanan untuk mewujudkan pelabuhan yang hijau, efisien, dan berkelanjutan.
Tim Kemenhub yang hadir antara lain Rachmat Budi Setiawan, Linda Evans, Dina Kartika selaku penyusun kebijakan, serta Danawirya Silaksanti, Pengendali Dampak Lingkungan. Mereka melakukan peninjauan langsung terhadap penerapan manajemen energi dan konservasi di terminal sebagai referensi pengembangan pelabuhan lain di Indonesia, termasuk pelabuhan sungai, danau, serta penyeberangan.
Anang Januriandoko, Senior Manager Quality, Health, Safety, Security, and Environment (QHSSE) TTL menyampaikan apresiasinya.
“Kami menyambut baik kunjungan dari Kementerian Perhubungan RI. Ini menjadi ruang berbagi praktik terbaik yang telah kami terapkan, khususnya dalam pengelolaan energi berbasis keberlanjutan dan efisiensi operasional,” ujar Anang, Jumat (25/5/2025).
TTL memaparkan berbagai inovasi berbasis energi bersih, seperti penggunaan peralatan bongkar muat berbasis listrik, termasuk Automatic Stacking Crane (ASC), Ship to Shore Crane (STS), dan Grab Ship Unloader (GSU). Peralatan ini telah terbukti mampu menurunkan konsumsi energi dan emisi karbon secara signifikan.
Sebagai pelabuhan greenport dan smartport, TTL juga telah mengimplementasikan sistem manajemen energi ISO 50001:2018 dan membentuk komite energi. Selain itu, TTL memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan lampu tenaga surya sebagai bagian dari inisiatif energi terbarukan di kawasan pelabuhan.
Sementara itu, TPK Nilam turut menjelaskan upaya konservasi energinya, mulai dari penggunaan biosolar B40, konversi lampu Son-T ke LED, pemanfaatan fasilitas shore connection, hingga rencana pengoperasian Electric Rubber Tired Gantry (ERTG) pada awal 2026.
Di sisi lain, PT BJTI mengungkap transformasi alat operasional mereka melalui konversi energi Harbour Mobile Crane (HMC) dari diesel ke listrik, serta penggantian Rubber Tired Gantry (RTG) konvensional menjadi RTG berbasis baterai.
“Konversi HMC dan RTG ke sistem listrik tidak hanya menekan ketergantungan pada BBM, tetapi juga mengurangi emisi gas dan meningkatkan efisiensi operasional,” ungkap Adi Sugiri, Direktur Komersial dan Teknik PT BJTI.
Tim PPTB Kemenhub RI mengapresiasi seluruh langkah konkret yang telah diambil TTL, TPK Nilam, dan BJTI dalam konservasi energi.
“Kami berharap upaya ini dapat terus konsisten dan menjadi contoh bagi pelabuhan lain di lingkungan Pelindo maupun subholding-nya,” ujar Danawirya Silaksanti, Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Muda Kemenhub.
Sebagai tindak lanjut, Kemenhub RI juga mendorong pelaporan manajemen energi kepada Kementerian ESDM melalui sistem Pelaporan Online Manajemen Energi (POME), sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 2023 tentang Konservasi Energi. PPTB siap memfasilitasi koordinasi lebih lanjut dengan Direktorat Konservasi Energi Kementerian ESDM untuk pembukaan akun pelaporan tersebut.





