SURABAYA – Universitas Airlangga (UNAIR) melalui Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) kembali menggelar program internasional Sustainable Energy and Green Technology Applications (SEGTA) pada 6–14 Agustus 2025.
Kegiatan ini diikuti peserta dari sembilan negara, menggabungkan riset teknologi, pengabdian masyarakat, dan pertukaran budaya yang digelar di hall Candradimuka Gedung Nano Lt 9 Kampus C Unair, (12/08/25) Selasa.
Dekan III FTMM UNAIR, Prof. Dr. Retna Apsari, M.Si., mengungkapkan bahwa SEGTA 2025 mengusung enam klaster utama, antara lain penerapan panel surya untuk pertanian, penanaman kelapa dan pemupukan lahan, edukasi energi matahari, pemantauan kualitas air, pembangunan solar shelter, serta pemanfaatan drone untuk mendukung pariwisata.
“Berbagai inovasi ini sudah kami terapkan di Pulau Gili Iyang dan Kalianget. Peserta juga mendapatkan kuliah akademik, mengikuti workshop di laboratorium, hingga praktik lapangan di Bromo untuk melihat langsung penerapan teknologi dalam pariwisata berkelanjutan,” jelas Prof. Retna.
Program ini juga terhubung dengan Airlangga Community Development Hub yang sejak 2022 aktif membina desa-desa mitra. Tahun ini, UNAIR menandatangani lima kerja sama baru, termasuk dengan desa di Kalianget dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Gili Iyang.
Prof. Retna menegaskan bahwa SEGTA bukan sekadar program tahunan, melainkan bagian dari misi UNAIR untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) seperti energi bersih, infrastruktur berkelanjutan, pengentasan kemiskinan, air bersih dan sanitasi, hingga kemitraan global.
“Manfaatnya tidak hanya dirasakan peserta, tetapi juga masyarakat. Di Gili Iyang, bahkan ada warga yang rela menyumbangkan satu hektare lahannya untuk pengembangan kelapa hibrida,” ujarnya.
Salah satu peserta, Myra Anne Miranda dari Malaysia, mengaku tertarik mengikuti SEGTA setelah melihat poster kegiatan di grup Telegram kampusnya.
“Saya kuliah di jurusan Teknik Kimia dan bercita-cita berkarier di bidang energi terbarukan. Program ini bukan hanya berisi kuliah dan kelas daring, tapi juga survei komunitas serta pengabdian masyarakat. Semua tersusun sangat rapi,” ujar Myra.
Selama sepekan, peserta menjelajahi Surabaya, Pulau Madura, Pulau Gili Iyang, hingga Gunung Bromo. Myra mengaku terkesan dengan keramahan masyarakat Indonesia. “Bahkan di warung kecil pun orang-orangnya sangat ramah. Itu salah satu hal yang membuat saya kagum,” katanya.
Dalam kegiatan pengabdian, Myra memilih topik pemantauan kualitas udara secara real-time di Gili Iyang yang dikenal memiliki kadar oksigen tertinggi kedua di dunia.
“Kami mengoperasikan papan sirkuit dan melakukan pemrograman. Ini kesempatan menerapkan ilmu sekaligus belajar langsung di lapangan,” tambahnya.
Tahun ini, SEGTA melibatkan 62 mahasiswa asing, 31 staf internasional, serta puluhan dosen dan mahasiswa UNAIR. Setelah rangkaian kegiatan lapangan, peserta akan melanjutkan pembelajaran hybrid hingga Desember 2025, sekaligus berkesempatan memperoleh dua SKS.





