Belajar Toleransi di Kampus Islam, Johsua Siap Mengabdi Jadi Guru di Daerah

Teks : Pemuda Kristen dari poso ini raih inspirasi toleransi di PPG Unusa Surabaya. (Humas Unusa)

SURABAYA – Dari sebuah daerah kecil di Sulawesi Tengah, tepatnya di Tentena, Kabupaten Poso, langkah Johsua membawanya merantau hingga ke Surabaya. Ia tak pernah menyangka penempatan Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) justru membuka banyak pengalaman berharga dalam hidupnya.

Johsua mengaku awalnya belum mengenal Unusa. Namun setelah resmi ditempatkan, ia mulai mencari tahu tentang kampus tersebut. Meski mayoritas mahasiswa Unusa beragama Islam, Johsua yang berbeda keyakinan menegaskan perbedaan itu sama sekali bukan hambatan, justru memberinya banyak pengalaman bermakna.

“Waktu dapat penempatan pendidikan di Unusa, saya langsung cari tahu. Ternyata mayoritas mahasiswanya muslim. Walaupun berbeda dengan keyakinan saya, selama studi saya merasa sangat nyaman. Tidak ada masalah sama sekali, justru saya sangat dibantu dan dirangkul dengan teman-teman yang muslim. Perbedaan ini bukan jadi penghalang dalam bergaul,” ujar pemilik nama lengkap Johsua Indra Kurniawan Pole itu, (21/08/25) Kamis.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Johsua adalah ketika ia mengikuti mata kuliah Aswaja (Ahlussunnah wal Jamaah). Mata kuliah pendidikan karakter berbasis Aswaja ini memberikan bekal penting bagi mahasiswa PPG Prajabatan (Prajab) Unusa untuk kelak menjadi guru profesional.

Dari sana, Johsua mengaku memperoleh perspektif baru tentang ajaran Islam yang penuh dengan kasih sayang, kedisiplinan, dan toleransi.

“Aswaja benar-benar membuka wawasan saya. Saya melihat teman-teman muslim disiplin sekali dalam mengatur waktu, terutama ketika sholat. Saya juga belajar banyak tentang makna toleransi dari situ. Saya merasa perbedaan justru menjadi sarana untuk saling memahami,” ungkap pria kelahiran Tentena, 23 April 1999 itu.

Johsua bahkan sempat memiliki pengalaman lucu saat mengikuti ujian Aswaja. “Setelah ujian, teman-teman tanya nilai saya. Saya balik tanya nilai mereka dulu. Ternyata mereka 96, sedangkan saya 98. Mereka mensorak-soraki saya lalu kami tertawa bersama. Itu momen yang sangat berkesan. Bahkan saat pertama kali menulis huruf Arab, teman-teman bilang tulisan saya bagus. Hal-hal kecil seperti itu membuat saya semakin merasa diterima,” kenangnya sambil tersenyum.

Di balik perjalanan akademiknya, Johsua menyimpan mimpi besar untuk mengabdi sebagai guru di daerah asalnya. Meski berasal dari keluarga sederhana, dengan orang tua lulusan SMK, hal tersebut tidak menyurutkan tekadnya untuk menempuh pendidikan tinggi.

Anak kedua dari empat bersaudara pasangan Daniel Pole dan Jeni Biang itu mengaku sangat termotivasi oleh kondisi pendidikan di Poso yang masih jauh tertinggal dibanding kota-kota besar. Minimnya fasilitas dan keterbatasan tenaga pendidik membuatnya bertekad kembali ke daerah dan memberikan kontribusi nyata.

“Jadi guru itu memberikan saya motivasi tersendiri. Saya merantau ke Jawa dengan harapan suatu saat bisa kembali ke daerah membangun pendidikan di sana. Saat ini saya ingin belajar bagaimana sistem pendidikan di Jawa, dan nantinya akan saya terapkan di daerah asal saya,” ujarnya penuh semangat.

Bagi Johsua, studi di PPG Unusa bukan sekadar syarat formal menjadi guru profesional, melainkan proses penting untuk memperluas pengetahuan, pengalaman, dan jaringan. Ia menilai lingkungan kampus Unusa sangat membantunya berkembang, tidak hanya secara akademik tetapi juga dalam pembentukan karakter sebagai pendidik yang menghargai keberagaman.

“PPG di Unusa sangat membantu saya. Bukan hanya menambah wawasan, tetapi juga mengajarkan tentang nilai kebersamaan, menghargai perbedaan, serta kesiapan menjadi guru profesional. Semua pengalaman ini akan saya bawa pulang dan saya terapkan di daerah asal saya,” tambahnya.

Johsua menutup ceritanya dengan penuh optimisme. Ia percaya bahwa pendidikan adalah kunci kemajuan bangsa, termasuk di wilayah timur Indonesia yang masih membutuhkan perhatian lebih. Dengan semangatnya, ia bertekad menjadi bagian dari perubahan itu melalui profesinya sebagai guru.