Rektor Unusa Turun Langsung Temui Mahasiswa Baru Penerima KIPK

SURABAYA – Pendidikan tinggi adalah hak bagi setiap anak bangsa, meski pada kenyataannya tidak semua memiliki kesempatan untuk melanjutkan ke jenjang tersebut. Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) berkomitmen hadir sebagai kampus yang bermanfaat bagi masyarakat dengan menerima sekaligus menjalankan program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIPK) dari pemerintah.

Pada Rabu (3/9) pagi, Rektor Unusa Prof. Ir. Achmad Jazidie, M.Eng., bersama Wakil Rektor I, Direktur Akademik dan Kemahasiswaan (Akamawa), Dekan Fakultas Keperawatan dan Kebidanan (FKK), serta Dekan Fakultas Ekonomi, Bisnis, dan Teknologi Digital (FEBTD) melakukan kunjungan ke rumah beberapa mahasiswa penerima KIPK di Surabaya. Kunjungan ini bertujuan memastikan program berjalan tepat sasaran sekaligus mengenal lebih dekat para penerima manfaat.

Rektor mendengar langsung kisah perjuangan mahasiswa penerima KIPK dalam menggapai bangku kuliah. Ia mengaku bangga dan terharu atas semangat mereka untuk melanjutkan pendidikan. Dalam kesempatan tersebut, Prof. Jazidie bertemu dengan dua mahasiswa baru, yakni Nafisah Galuh Aurellia dan M. Faisal. Keduanya menjadi generasi pertama di keluarga yang berhasil menempuh pendidikan tinggi.

Nafisah Galuh Aurellia, gadis kelahiran Sidoarjo 21 Maret 2007, kini resmi menjadi mahasiswa D3 Keperawatan Unusa. Anak keempat dari enam bersaudara pasangan almarhum Purwo Sumbioyo dan Lilis Suryati itu tak pernah menyangka bisa berkuliah. Kehilangan ayah sejak duduk di bangku sekolah dasar membuat hidup Galuh penuh tantangan.

“Om saya punya usaha penyewaan sound dan lampu-lampu, ibu juga ikut titip lampu di sana dan membantu mengelola uangnya. Dari situ kami bisa bertahan, Alhamdulillah,” ungkap Galuh.

Meski hidup dalam keterbatasan, tekadnya untuk menempuh pendidikan tidak pernah surut. Sejak SMK, ia sudah memilih jurusan keperawatan. Cita-cita awalnya menjadi TNI akhirnya ia arahkan ke dunia kesehatan sesuai pesan ayahnya. “Awalnya saya ingin jadi TNI, tapi ayah bilang kalau mau jadi TNI sebaiknya punya keterampilan. Akhirnya saya diarahkan ke jurusan kesehatan, dan saya teruskan sampai kuliah,” tuturnya.

Ibunya, Lilis Suryati, tidak kuasa menahan haru saat putrinya dinyatakan lolos beasiswa KIPK. “Alhamdulillah, saya sangat senang akhirnya anak saya bisa kuliah. Setelah tiga anak sebelumnya belum bisa, kini anak keempat saya mendapat kesempatan,” ujarnya penuh syukur.

Lilis juga berpesan kepada anak-anaknya untuk selalu menomorsatukan nilai spiritual. “Saya selalu bilang, utamakan akhirat, nanti dunia akan mengikuti. Keberhasilan itu hasil dari usaha dan doa kita,” katanya.

Sementara itu, M. Faisal, mahasiswa baru S1 Manajemen Unusa, mengaku keinginan melanjutkan kuliah baru muncul saat duduk di kelas 12 SMK. “Saat magang, baru terpikir ingin kuliah, ada keinginan buka usaha,” jelas anak kedua dari tiga bersaudara tersebut.

Dorongan datang dari sepupunya yang juga mahasiswa Unusa. Meski sempat diragukan teman-temannya, Faisal mantap mendaftar KIPK. “Ada yang bilang ngapain kuliah, tapi saya pikir kuliah ini kebutuhan untuk masa depan,” ungkapnya.

Perjalanan Faisal tak kalah berat. Ibunya meninggal saat ia berusia 4 tahun, sementara ayahnya, Budiman, bekerja sebagai buruh harian di Surabaya. Sejak kecil, Faisal sering minder karena usia sekolahnya tertinggal jauh dari teman-teman sekelas. “Waktu SD usianya beda jauh, jadi saya lebih banyak diam,” kenangnya.

Meski begitu, Budiman tetap menjadi pendorong utama bagi Faisal. “Saya cuma ingin yang terbaik buat anak saya. Alhamdulillah dia bisa lanjut kuliah. Semoga bisa jadi anak yang bermanfaat dan membanggakan keluarga maupun sekolahnya,” tutur Budiman.

Bagi Unusa, kisah Galuh dan Faisal adalah bukti nyata bahwa program KIPK tidak hanya membuka akses pendidikan, tetapi juga menghadirkan harapan baru bagi anak bangsa untuk meraih masa depan lebih baik.