FKH Unair Tegaskan Komitmen One Health di Puncak Dies Natalis ke-54

SURABAYA – Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (Unair) menandai perjalanan panjangnya melalui Puncak Dies Natalis ke-54 dengan mengusung tema “Satu Cita, Satu Dampak”.

Tema tersebut menjadi penegasan arah gerak FKH Unair bersama alumni untuk menghadirkan kontribusi yang nyata, berkelanjutan, dan berdampak langsung bagi masyarakat, baik di dalam maupun luar negeri.

Momentum puncak Dies Natalis ini menjadi ajang temu lintas generasi alumni, mulai dari angkatan awal tahun 1970-an hingga lulusan terbaru. Dekan FKH Unair, Prof. Dr. Lilik Maslachah, drh., M.Kes., menegaskan bahwa rangkaian Dies Natalis ke-54 tidak dirancang sebagai kegiatan seremonial semata, melainkan sebagai gerakan kolektif yang berorientasi pada hasil nyata.

“Sejak November 2025, Dies Natalis sudah kami mulai dengan berbagai kegiatan berkelanjutan. Puncaknya hari ini menjadi ruang untuk menyatukan kembali cita dan menyelaraskan dampak, agar kiprah alumni FKH benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas,” ujar Prof. Lilik, (10/01/26) Sabtu.

Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan Dies Natalis mencakup beragam aktivitas ilmiah dan sosial, mulai dari guest lecture, pengabdian kepada masyarakat, kegiatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE), hingga talkshow yang menghadirkan alumni dari berbagai latar belakang profesi.

Para narasumber tidak hanya berasal dari dunia klinik hewan kecil, tetapi juga dari sektor kewirausahaan, birokrasi, hingga kebijakan publik, termasuk perwakilan Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian.

Keberagaman peran tersebut, menurut Prof. Lilik, menunjukkan bahwa profesi dokter hewan memiliki ruang kontribusi yang sangat luas. “Dokter hewan tidak hanya bekerja di klinik atau peternakan. Kami bisa hadir di berbagai sektor strategis dan memberikan dampak besar bagi masyarakat,” tegasnya.

Dalam konteks kesehatan hewan nasional, FKH Unair juga mengambil peran aktif dalam upaya pencegahan penyakit hewan menular strategis, salah satunya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Keterlibatan tersebut diwujudkan melalui kerja sama dengan alumni di Lombok Tengah dalam kegiatan KIE dan pengabdian masyarakat, serta penguatan kewaspadaan PMK di wilayah Jawa Timur.

Sementara dari sisi prospek lulusan, Prof. Lilik menyebut tingkat serapan kerja alumni FKH Unair tergolong sangat tinggi. Hampir 90 persen lulusan telah memperoleh pekerjaan tidak lama setelah menyelesaikan studi.

Selain itu, peluang berwirausaha di bidang kesehatan hewan dan turunannya juga terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat.

Pada peringatan Dies Natalis ke-54 ini, FKH Unair juga memperluas jejaring kemitraan melalui penandatanganan kerja sama strategis dengan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.

Kerja sama tersebut akan berlangsung selama lima tahun dan difokuskan pada pengembangan desa binaan, pemberdayaan peternakan berbasis teknologi informasi, pencegahan stunting, serta penguatan kemandirian ekonomi masyarakat.

Mewakili Rektor Universitas Airlangga, Direktur Pendidikan Unair, Prof. Dr. Maftuchah Rochmanti, dr., M.Kes., menyampaikan apresiasi atas konsistensi FKH Unair dalam mengembangkan keilmuan dan pengabdian selama lebih dari lima dekade.

“FKH Unair berhasil meraih capaian kinerja kategori Gold Medal pada tahun 2025. Ini merupakan kategori tertinggi dan menjadi kebanggaan bagi Universitas Airlangga,” ungkapnya.

Ia berharap FKH Unair terus memperkuat kontribusinya dalam mendukung visi Unair sebagai world class university dan entrepreneurial university, sekaligus menegaskan peran Unair sebagai universitas yang berdampak melalui sinergi dengan pemerintah daerah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan.

Apresiasi juga datang dari kalangan alumni. Wakil Ketua Umum PP IKA Unair, Prof. Dr. Bambang Sektiari Lukiswanto, drh., DEA., menilai usia 54 tahun merupakan fase kematangan bagi sebuah institusi pendidikan tinggi.

“Peran FKH Unair dan para alumninya semakin signifikan dalam mendukung visi besar Universitas Airlangga,” ujarnya.

Ia menambahkan, FKH Unair juga mencatat prestasi di tingkat global dengan menempati peringkat di bawah 100 dunia dalam world university ranking by subject untuk bidang veteriner.

Ke depan, tantangan kedokteran hewan dinilai semakin kompleks, mulai dari penyakit emerging dan re-emerging, isu zoonosis, hingga penerapan konsep One Health yang menuntut kolaborasi lintas disiplin antara kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan.

Dalam konteks tersebut, Prof. Bambang menegaskan peran strategis alumni dalam menjaga relevansi lulusan dengan kebutuhan zaman. Mulai dari memberikan masukan pengembangan kurikulum, menjadi mitra pembelajaran, hingga membuka akses magang dan peluang kerja bagi mahasiswa.