BISNIS  

Indeks Bisnis-27 Menguat: TLKM, INDF, UNTR Pimpin Kenaikan

Perdagangan Awal Pekan: Indeks Bisnis-27 dan IHSG Dibuka Menguat Didorong Saham Unggulan

Pada awal perdagangan Selasa, 10 Februari 2026, pasar modal Indonesia menunjukkan performa positif dengan Indeks Bisnis-27 dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sama-sama dibuka menguat. Pergerakan positif ini sebagian besar didorong oleh kinerja saham-saham unggulan seperti PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF), dan PT United Tractors Tbk. (UNTR).

Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pukul 09.02 WIB menunjukkan bahwa Indeks Bisnis-27, sebuah indeks yang merupakan hasil kolaborasi antara Bursa dengan harian Bisnis Indonesia, berhasil naik tipis sebesar 0,10% mencapai level 531,92. Pergerakan indeks ini tercatat melibatkan 11 saham yang mengalami kenaikan, 12 saham yang melemah, dan 4 saham yang stagnan.

Saham-Saham Pendorong Utama Penguatan

Beberapa saham tercatat menjadi motor penggerak utama kenaikan Indeks Bisnis-27:

  • PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) memimpin daftar saham dengan kenaikan tertinggi, mengalami apresiasi sebesar 1,49% dan ditutup pada harga Rp3.400 per saham.
  • PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) menyusul dengan pertumbuhan yang solid sebesar 1,47%, mencapai harga Rp6.925 per saham.
  • PT United Tractors Tbk. (UNTR) juga menunjukkan kinerja positif dengan penguatan 1,39%, diperdagangkan di level Rp27.375 per saham.
  • PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) turut berkontribusi pada penguatan indeks dengan kenaikan harga sahamnya sebesar 0,84%, mencapai Rp1.810 per saham.

Pergerakan Saham Lainnya

Sementara itu, tidak semua saham mengalami kenaikan. Beberapa saham tercatat mengalami pelemahan, di antaranya:

  • PT Mayora Indah Tbk. (MYOR) mengalami koreksi harga yang cukup signifikan, melemah 3,21% dan ditutup pada Rp2.410 per saham.
  • PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) juga mencatat penurunan sebesar 1,82%, dengan harga saham berada di level Rp1.885.

IHSG Mengikuti Tren Positif

Dalam waktu yang bersamaan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga menunjukkan tren positif. Hingga pukul 09.02 WIB, IHSG menguat tipis 0,01% ke level 8.032,90. Indeks komposit ini dibuka pada level 8.031,58 dan sempat menyentuh level tertingginya di 8.035,43 pada sesi awal perdagangan.

Proyeksi Pergerakan IHSG ke Depan

Para analis memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam rentang konsolidasi pada level 8.000 hingga 8.100. Proyeksi ini muncul setelah indeks komposit berhasil ditutup di zona hijau pada sesi perdagangan sebelumnya.

Analisis Pergerakan Pasar dan Faktor Pendukung

Pergerakan positif IHSG pada hari sebelumnya, Senin, 9 Februari 2026, ditutup dengan penguatan sebesar 1,22% ke level 8.031,87. Meskipun sempat dibuka melemah akibat sentimen negatif dari penurunan outlook peringkat beberapa emiten, indeks mampu berbalik arah dan menguat berkat adanya katalis positif yang datang dari bursa saham di Asia.

Para analis dari Phintraco Sekuritas dalam risetnya pada Selasa, 10 Februari 2026, menyatakan bahwa secara teknikal, terjadi penyempitan histogram negatif pada indikator MACD (Moving Average Convergence Divergence) IHSG. Selain itu, indikator Stochastic RSI (Relative Strength Index) juga memberikan sinyal reversal atau pembalikan arah di area oversold atau jenuh jual.

Selain faktor-faktor teknikal tersebut, laju IHSG juga mendapat sokongan signifikan dari reli harga komoditas global. Penguatan harga komoditas utama seperti emas, perak, dan tembaga menjadi motor penggerak yang kuat bagi emiten-emiten yang bergerak di sektor terkait.

Di sisi lain, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga memberikan sentimen positif bagi pasar saham domestik. Pada perdagangan spot, rupiah menguat ke level Rp16.805 per dolar AS. Penguatan ini sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang juga menunjukkan performa perkasa terhadap dolar AS (greenback).

Meskipun pasar menunjukkan tanda-tanda pembalikan arah yang positif, Phintraco Sekuritas mencatat bahwa volume perdagangan cenderung relatif rendah. Kondisi ini mengindikasikan bahwa investor masih bersikap hati-hati atau cenderung melakukan observasi (wait and see) terhadap dinamika pasar lebih lanjut sebelum mengambil keputusan investasi yang lebih besar.

Penting untuk diingat bahwa informasi ini tidak bertujuan untuk mengajak atau merekomendasikan pembelian atau penjualan saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor, dan tidak ada pihak yang bertanggung jawab atas segala keuntungan atau kerugian yang timbul dari keputusan investasi tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *