Gempa Magnitudo 7,6 Mengguncang Sulawesi Utara dan Maluku Utara
Gempa bumi berkekuatan 7,6 skala Richter yang terjadi di Sulawesi Utara (Sulut) pada hari Kamis, 2 April 2026 pukul 06.48 WITA, menyebabkan beberapa gereja mengalami kerusakan. Gempa ini tidak hanya mengganggu kehidupan masyarakat umum, tetapi juga memengaruhi tempat-tempat ibadah yang menjadi pusat kegiatan spiritual.
Kerusakan pada Gereja Katolik di Minahasa
Dua gereja Katolik di Kecamatan Tombulu, Minahasa, Sulawesi Utara, mengalami kerusakan akibat gempa. Plafon dari Gereja Katolik Paroki Bunda Hati Kudus Rumengkor dan Gereja Katolik Paroki Kristus Raja Kembes runtuh karena goncangan kuat.
Video dan foto yang beredar di media sosial menunjukkan kondisi dalam gereja setelah peristiwa tersebut. Meski begitu, jemaat segera bertindak cepat untuk membersihkan puing-puing reruntuhan plafon berbahan gipsum. Ketua Bidang III Dewan Pastoral Paroki Bunda Hati Kudus Rumengkor, Guido Merung, menjelaskan bahwa pengangkatan puing telah selesai. Ia juga menyatakan bahwa umat melaksanakan pembersihan dan penataan untuk persiapan Misa Kamis Putih malam ini.
“Syukur kepada Allah, umat boleh gotong royong sehingga pembersihan selesai dalam waktu relatif singkat,” kata Merung. Ia memastikan bahwa tempat ibadah sudah siap digunakan untuk misa malam ini meskipun hanya plafon yang rusak.
Kerusakan di Kota Bitung
Selain di Kabupaten Minahasa, kerusakan juga terjadi di Kota Bitung. Sunda plafon di dalam gedung Gereja GMIM Petra Wangurer Barat, wilayah Bitung 8, rusak akibat gempa. Kerusakan sunda plafon lepas dari rangka hingga jatuh ke lantai bawah dan balkon lantai dua gereja.
Bapak Denny selaku Kostor Gereja GMIM Petra Wangurer Barat mengatakan bahwa saat kejadian tidak ada orang di dalam gedung gereja. Puing-puing sunda plafon yang rusak dibersihkan olehnya bersama pendeta pelayanan dan sang suami.
Terpantau di lokasi, puing-puing sunda plafon berwarna putih ada yang masih di balkon lantai 2 gedung gereja, dan sudah dibersihkan dan diletakkan di depan kanan gedung gereja. Lampu LED yang terpasang di sunda plafon tersebut satu diantaranya jatuh dan satunya lagi tergantung.
Lanjutnya, akibat gempa ada dua titik retak di ruang TK Kirisuto No Ai samping gedung gereja.

Pengaruh Gempa di Maluku Utara
Gempa juga terasa di wilayah Maluku Utara (Malut), salah satunya Pulau Batang Dua, Kota Ternate yang cukup dekat dengan titik gempa. Akibatnya, bangunan Gereja Kalvari Pentakosta Missi di Indonesia (GKPMI) Jemaat “Imanuel” di Lelewi di Kecamatan Pulau Batang Dua, mengalami kerusakan cukup parah.
Dari foto dan informasi yang diterima Tribun Manado, bagian dalam gereja tampak dipenuhi reruntuhan material bangunan. Mulai dari batako, kayu hingga plafon yang ambruk. Sejumlah dinding terlihat roboh, sementara struktur penyangga mengalami kerusakan berat.
Menurut Ketua Umum GKPMI, Pdt Alexander Sasauw, informasi tersebut disampaikan oleh jemaat serta pendeta yang bertugas di lokasi. Ia mengungkapkan bahwa suasana sempat panik saat gempa terjadi. “Kondisi bangunan mengalami kerusakan cukup parah, bahkan sudah tidak bisa digunakan,” tambahnya.
Meski demikian, ia memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.





