Masyarakat Aceh Tengah Keluhkan Lambannya Penanganan Jalan Alternatif
Masyarakat di Kabupaten Aceh Tengah mengeluhkan lambannya penanganan jalan alternatif setelah akses utama terputus akibat bencana yang terjadi di wilayah tersebut. Reje Kampung Sugenegabalik, Kadar Supriyoto, mewakili aspirasi masyarakat yang merasa kecewa dengan kondisi akses jalan yang belum tertangani secara optimal.
Saat ini, satu-satunya jalur alternatif yang menghubungkan sejumlah kecamatan di Aceh Tengah menuju Bener Meriah berada di Kampung Sugenegabalik dengan panjang sekitar 1.600 meter. Jalur ini menjadi penghubung vital bagi Kecamatan Ketol, Silih Nara, dan Celala yang ingin menuju Bener Meriah.
“Untuk saat ini akses jalan masyarakat, khususnya di Kecamatan Ketol, kami merasa kecewa karena penanganannya lambat. Padahal jalan ini menjadi satu-satunya akses bagi Kecamatan Ketol, Silih Nara, dan Celala menuju Bener Meriah,” ujar Kadar.
Jalur tersebut merupakan jalur alternatif kedua yang digunakan masyarakat. Sebelumnya, jalan utama di Pindok Balik terputus akibat bencana, kemudian jalur alternatif pertama juga kembali terputus setelah tergerus akibat fenomena sinkhole. Akibatnya, akses dialihkan ke jalur yang kini melintasi wilayah Kampung Segene Balik, Kecamatan Kute Panang, sebagai satu-satunya jalur penghubung antar wilayah.
Menurutnya, hingga lebih dari 40 hari sejak terputusnya jalan utama, perbaikan jalan alternatif belum menunjukkan perkembangan signifikan. Bahkan, masyarakat setempat terpaksa mengambil inisiatif sendiri dengan sistem buka-tutup jalan guna mencegah terjadinya kecelakaan.
“Sudah sekitar 41 hari, masyarakat di Kampung Segene Balik melakukan buka-tutup jalan secara mandiri supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya.
Selain itu, masyarakat juga melakukan pembebasan lahan secara swadaya untuk membuka jalur alternatif tersebut agar dapat dilalui kendaraan, meskipun dengan kondisi yang masih terbatas.
Kadar berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk membangun jalan alternatif yang layak dan aman. “Mengingat jalur tersebut sangat vital bagi mobilitas masyarakat antar kecamatan maupun antar kabupaten termasuk menjadi jalur distilasi hasil pertanian masyarakat setempat,” ungkapnya.
Ia juga mengusulkan agar pembangunan jembatan dan jalan tembus memanfaatkan kondisi geografis setempat, termasuk penggunaan batu cadas yang dinilai lebih aman dan tahan terhadap longsor.
“Kami sudah sampaikan ke pemerintah daerah, ada jalur yang bisa dibuat tembus dari Sugenegabalik ke Belang Mancung yang lebih aman karena berbasis batu cadas. Ini bisa menjadi solusi agar akses masyarakat lebih cepat dan aman,” jelasnya.
Selain itu, pembangunan jalur alternatif tersebut diharapkan dapat mempermudah akses masyarakat menuju sejumlah wilayah penting, termasuk Bandara Rembele di Kabupaten Bener Meriah. Masyarakat berharap pemerintah segera merealisasikan pembangunan infrastruktur tersebut guna menghindari risiko kecelakaan serta memperlancar aktivitas ekonomi dan sosial warga di wilayah terdampak.





