Peringatan HUT ke-96 PSSI dan Pesan Penting dari Evan Dimas
Peringatan HUT ke-96 Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, menjadi momen penting bagi para legenda sepak bola Tanah Air. Salah satu tokoh yang turut hadir adalah Evan Dimas Darmono, mantan kapten Timnas Indonesia yang memberikan pesan menyentuh tentang pentingnya pembangunan karakter pemain sejak dini.
Evan Dimas menekankan bahwa PSSI perlu memiliki program yang mampu menanamkan jiwa kesatria pada generasi muda. Menurutnya, aspek kejujuran dan kemampuan menjalankan amanah adalah fondasi penting yang harus dimiliki setiap pesepak bola Indonesia. Hal ini menjadi refleksi mendalam di saat PSSI tengah mempererat persatuan dan mematangkan strategi pembinaan akar rumput demi mengejar target besar menembus Piala Dunia 2030.
Perayaan Sederhana PSSI
Acara peringatan HUT ke-96 PSSI digelar dengan cara sederhana, tanpa hiburan tambahan. Hanya potong tumpeng yang berlangsung secara penuh makna. Acara ini dihadiri langsung oleh Wakil Ketua Umum PSSI Zainudin Amali, Wakil Ketua Umum II PSSI Ratu Tisha Destria, Sekjen PSSI Yunus Nusi, serta perwakilan Exco Pusat Ahmad Riyard.
Turut hadir pula para legenda Timnas Indonesia, termasuk dua perwakilan mantan pemain Timnas Indonesia, yaitu Evan Dimas dan Arief Suyono. Dalam sambutannya, Zainudin Amali menyampaikan terima kasih kepada tujuh klub pendiri PSSI, seperti VIJ Jakarta (Persija), BIVB Bandung (Persib), PSM Mataram (PSIM), VVB Solo (Persis), MVB Madiun (PSM Madiun), IVBM Magelang (PPSM), dan SIVB Surabaya (Persebaya).
Target Piala Dunia 2030
Zainudin Amali menjelaskan bahwa awal mula pendirian PSSI merupakan bentuk persatuan anak bangsa. Ia berharap sepak bola bisa menyatukan, bukan membuat terpecah belah. “Kalau terpecah belah, sudah menyalahi prinsip dasar lahirnya PSSI,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para legenda yang telah membawa prestasi terbaik bagi Timnas Indonesia di masanya. “Mudah-mudahan prestasi semakin baik dari timnas kita semua usia. Mimpi kami di 2030 nanti timnas bisa masuk ke piala dunia,” pungkas Zainudin.
Ratu Tisha Destria menekankan perlunya dukungan kolektif. “PSSI tidak bisa bekerja sendirian, sehingga harus bersinergi dengan banyak pihak, pemerintah, swasta, dan pihak lainnya,” katanya. Ia menambahkan pentingnya kolaborasi dalam memajukan olahraga paling populer di Tanah Air tersebut.
Pesan Khusus Evan Dimas
Terpisah, mantan pemain Timnas Indonesia, Evan Dimas Darmono, memiliki harapan tersendiri bagi federasi. “Saya berharap ke depannya PSSI memiliki program, dimana menanamkan ke generasi bagaimana caranya berjiwa kesatria. Dimana bumi dipijak, amanah dijalankan. Dimana bumi dipijak, kejujuran dijalankan,” kata Evan Dimas.
Arief Suyono lebih menyinggung soal krusialnya pembinaan usia dini. Baginya, ambisi lolos Piala Dunia 2030 harus ditopang dengan pembinaan yang kuat. “Mudah-mudahan ulang tahun ke-96, terutama lolos piala dunia. Selanjutnya supaya bisa lebih baik di grassroot,” ujarnya.
Evan Dimas Vakum dan Fokus Melatih
Seperti diketahui, Evan Dimas saat ini memilih jalan sunyi dengan vakum dari sepak bola profesional demi fokus mengabdi di dunia kepelatihan melalui Sanggar Saraswati Nuswantara, Tulungagung, Jawa Timur. Ia tidak bergabung dengan tim mana pun di Super League pada musim 2025/2026.
Dalam sebuah wawancara, Evan mengaku sempat mendapat penawaran dari sejumlah klub hingga tawaran menjadi asisten pelatih, namun ia memilih untuk fokus penuh di sanggar. “Ya, saya sekarang lebih banyak di Tulungagung mas, lebih tempatnya di Sanggar Saraswati Nusantara,” katanya.
Di sanggar tersebut, aktivitas yang dilakukan tidak terbatas pada olahraga, tetapi juga mencakup seni, budaya, sains, hingga sosial kemasyarakatan. “Saya di sana mendidik generasi muda, melalui sepak bola. Jadi saya di sana menanamkan, bukan cuma skill dan teknik, tapi mengedepankan etika dan moral,” jelas Evan.






