SURABAYA — Menteri Haji dan Umrah Moch. Irfan Yusuf memberikan perhatian khusus kepada segenap petugas penyelenggara ibadah haji (PPIH) atau petugas haji, dengan menekankan pentingnya memperhatikan para jemaah haji Tanah Air yang didominasi oleh lulusan Sekolah Dasar (SD) atau sederajat.
Gus Irfan menjelaskan bahwa berdasarkan data pendidikan, calon jemaah haji dari kelompok ini mendominasi secara kuantitas dibandingkan dengan calon jemaah haji lainnya. Ia menyebutkan bahwa jumlah jemaah haji yang lulusan SD adalah yang terbesar, diikuti oleh ibu rumah tangga.
“Kemarin, saya melihat data jumlah calon jemaah haji terbesar adalah mereka-mereka yang lulusan SD, yang terbesar kedua juga ibu rumah tangga. Sehingga tentu ini memerlukan perhatian khusus dari petugas, termasuk PPIH embarkasi,” ujar Gus Irfan pada sela-sela pelantikan PPIH di Asrama Haji Embarkasi Surabaya, Kecamatan Sukolilo, Jumat (17/4/2026).
Dia juga mengungkapkan bahwa karena jumlah jemaah haji dengan profesi sebagai ibu rumah tangga diproyeksikan melimpah, maka Kemenhaj telah melakukan penambahan kouta jumlah PPIH, baik yang bertugas di embarkasi maupun di Tanah Suci, terhadap kelompok perempuan.
Selain itu, menurut kategori gender, jumlah jemaah haji tanah air yang berjenis kelamin perempuan tercatat mencapai 54% dari total jumlah keseluruhan. Sementara, jumlah jemaah haji laki-laki nasional secara presentase mencapai 46%.
“Tahun ini kita menambah lagi. Kalau musim haji kemarin petugas untuk lansia dan disabilitas, tahun ini kita tambah PPIH untuk perempuan,” tegasnya.
Oleh sebab itu, Gus Irfan mengimbau kepada segenap PPIH yang bertugas di keenam belas embarkasi tanah air maupun Arab Saudi untuk dapat melakukan pengabdian kepada segenap jemaah haji dengan sepenuh hati dan rasa tulus. Khususnya, pelayanan terhadap para jemaah haji yang baru pertama sekali bepergian ke luar negeri.
“Mereka tentu mungkin baru pertama kali memegang paspor. Mereka juga mungkin tidak tahu paspor itu apa, dan untuk apa juga tidak tahu. Tugas kita memberikan penjelasan kepada mereka. Tugas kita untuk menenangkan kekhawatiran mereka,” tegas dia.
Gus Irfan juga menegaskan kepada segenap PPIH bahwa harus memprioritaskan pendampingan terhadap para jemaah haji penyandang disabilitas, perempuan, serta kelompok rentan lainnya. Menurut Irfan, hal tersebut bukan hanya sekadar pengkajian secara administrasi belaka, melainkan perhatian utama segenap petugas haji.
“Saya sempat mendengar beberapa PPIH yang memberi arahan kepada jemaah, nanti selama di pesawat jangan minum, nanti jadi pipis, bolak-balik. Ini kan sangat menyiksa buat kesehatan jemaah. Tetap minum seperlunya, tapi diberitahu, diberi arahan. Bagaimana cara ke kamar kecil di pesawat. Itu akan lebih baik daripada melarang mereka minum,” jelasnya.
Selain itu, ia juga mengingatkan kepada seluruh PPIH untuk dapat memperhatikan setiap keperluan dan persyaratan perjalanan bagi masing-masing jemaah haji sesuai dengan kloter yang telah ditentukan. Gus Irfan juga menyatakan segenap komponen persyaratan maupun larangan yang telah diinformasikan, harus diperhatikan seteliti mungkin agar tidak menghambat perjalanan dan ibadah para jemaah di Tanah Suci.
“Kami minta bahwa seluruh pelayanan yang diberikan dengan basis data yang akurat. Dokumen pra-manifest, penempatan jemaah, layanan kesehatan, living cost, gelang, bagasi, dan layanan bandara harus persisi. Jangan sampai persoalan kecil di embarkasi menjadi masalah besar di Tanah Suci,” pungkasnya.






