Harga BBM dan LPG Nonsubsidi Naik, Beban Kelas Menengah Membesar

Kenaikan Harga BBM dan LPG Nonsubsidi Picu Keresahan di Kalangan Kelas Menengah

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan LPG nonsubsidi yang terjadi dalam waktu dekat memicu keresahan di kalangan masyarakat kelas menengah. Situasi ini membuat mereka berada dalam posisi sulit, karena tidak mendapatkan subsidi namun juga terdampak langsung oleh kenaikan harga energi yang terus meningkat.

Pengeluaran rumah tangga semakin melonjak, terutama setelah harga LPG 12 kg mencapai angka Rp228 ribu per tabung. Hal ini menambah beban kehidupan sehari-hari yang sudah terasa berat akibat kenaikan harga kebutuhan pokok lainnya.

Warga Mengalami Dilema

Lydia (34), warga Jabodetabek, mengaku kaget saat mengetahui harga gas 12 kg kembali naik. Ia menilai, meskipun LPG jenis ini ditujukan untuk masyarakat mampu, pada praktiknya banyak digunakan oleh kalangan menengah.

“Yang pakai 12 kg sih mampu, tapi bukan crazy rich. Banyak golongan tengah, dibilang miskin sih tidak, dibilang kaya apalagi, jadi ya kita juga kaget pas naik,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa lingkungan tempat tinggalnya sudah beralih ke Bright Gas yang harganya lebih tinggi dibandingkan LPG subsidi 3 kg. Harga terakhir yang dibelinya mencapai Rp200.000 per tabung, dan ia khawatir akan terus naik.

Lydia sempat berpikir untuk kembali menggunakan LPG subsidi 3 kg, namun distribusinya di wilayah Cikarang dinilai terbatas. Kondisi ini membuatnya dilema di satu sisi ingin berhemat, namun di sisi lain akses terhadap gas subsidi tidak mudah.

Tekanan Ekonomi Membuat Masyarakat Harus Berpikir Kreatif

Tekanan ekonomi ini membuat masyarakat harus memutar otak dalam mengatur pengeluaran. Bahkan, kebutuhan sehari-hari lain ikut terdampak.

“Mau berhenti beli gas, jadinya beli makan aja. Eh tapi plastiknya mahal, kanan kiri kena deh,” tuturnya.

Keluhan serupa disampaikan Ismail Alburji (40). Ia merasa kenaikan harga LPG 12 kg cukup memberatkan anggaran rumah tangganya. “Kalau naik sedikit mungkin masih bisa ditoleransi, tapi kalau terus-terusan naik ya berat juga. Pengeluaran bulanan jadi semakin besar,” ujarnya.

Ismail menilai posisi kelas menengah kerap terabaikan. Tidak mendapat subsidi, namun terus dibebani kenaikan harga. “Kita ini di tengah-tengah. Tidak pakai subsidi, tapi jangan naikin harga terus-terusan,” katanya.

Perkiraan Kenaikan Harga Energi

Michael (24), warga Kalideres, Jakarta Barat, mengaku baru mengetahui kenaikan harga gas dan langsung merasakan dampaknya. “Baru tahu juga nih kalau harganya naik, lumayan juga Rp40.000 kan, berasa juga kenaikannya,” ujarnya.

Michael menilai kenaikan harga energi biasanya akan diikuti kenaikan harga barang lain di pasaran. Ia bahkan sudah memperkirakan tren ini, melihat dinamika global seperti konflik geopolitik yang berdampak pada energi.

“Sebenarnya sudah expected sih, karena lumayan ngikutin harga tiket pesawat yang bergantung sama avtur. Terus harga baru Pertamax Dex dan Pertamax Turbo yang naiknya jauh banget, jadi pasti gas nyusul,” jelasnya.

Sementara itu, Pudji (50), yang telah lama menggunakan LPG nonsubsidi, juga merasakan tekanan yang semakin berat. Ia menilai kenaikan harga saat ini terjadi di waktu yang kurang tepat, ketika kondisi ekonomi masyarakat sedang tidak stabil.

“Kalau begini kan berat ya, pengeluaran jadi membengkak, menyulitkan lah gitu,” katanya.

Perubahan Pola Konsumsi

Terdesak kondisi, sebagian warga mulai mempertimbangkan kembali penggunaan LPG subsidi 3 kg. Michael, misalnya, mengaku akan beralih sementara karena masih memiliki tabung subsidi, meski sadar distribusinya sering tidak stabil.

Di sisi lain, Pudji mulai melirik LPG ukuran 5,5 kg sebagai alternatif agar pengeluaran tidak terus membengkak. Ia juga berupaya menghemat pemakaian gas dalam keseharian.

Berdasarkan data dari Pertamina Patra Niaga per 19 April 2026, harga Bright Gas 12 kg di wilayah Jawa seperti Jawa Tengah, DKI Jakarta, hingga Jawa Timur kini mencapai sekitar Rp228.000 per tabung, naik dari sebelumnya sekitar Rp192.000.

Di wilayah Sumatera seperti Aceh hingga Jambi, harga bahkan menyentuh Rp230.000 per tabung.

Pernyataan Menteri ESDM

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa LPG 12 kg merupakan produk nonsubsidi yang diperuntukkan bagi masyarakat mampu. “Saya mau tanya, kalau nonsubsidi itu untuk orang kaya atau untuk orang susah? Orang mampu kan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pemerintah tetap hadir membantu masyarakat, namun prioritas subsidi diberikan kepada kelompok kurang mampu. Sementara itu, harga LPG nonsubsidi mengikuti mekanisme pasar.

Bahlil juga memastikan bahwa harga LPG subsidi 3 kg tidak mengalami kenaikan, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Namun, ia mengingatkan agar masyarakat mampu tidak menggunakan LPG subsidi, sehingga penyaluran bantuan tetap tepat sasaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *