Antrean BBM Subsidi Membludak di Kotamobagu dan Minahasa
Pada Minggu (19/4/2026), antrean pembelian bahan bakar minyak (BBM) subsidi mengalami lonjakan di beberapa SPBU di Sulawesi Utara. Di SPBU Kotobangon, Kotamobagu, antrean kendaraan terlihat membludak sejak pagi hari. Para pengendara berlomba-lomba untuk mendapatkan kuota Pertalite dan solar subsidi yang terbatas, bahkan ada yang rela menunggu berjam-jam demi bisa bekerja.
Kenaikan harga BBM nonsubsidi dinilai tiba-tiba oleh masyarakat, sehingga banyak yang merasa kaget. Hal ini menyebabkan para pengguna beralih ke BBM subsidi karena harganya masih relatif stabil. Di SPBU Sonder, Minahasa, antrean truk dan bus juga terjadi secara signifikan. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan gangguan distribusi barang dan peningkatan biaya logistik.
Di Manado, sejumlah warga mengaku terkejut dengan kenaikan harga BBM nonsubsidi yang dinilai minim sosialisasi. Meski sebagian masih mampu membeli, mereka berharap pemerintah memberi informasi lebih awal agar masyarakat bisa menyesuaikan pengeluaran.
Lonjakan Harga BBM Nonsubsidi
Pemerintah baru saja menaikkan harga tiga jenis BBM nonsubsidi, yaitu Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Kenaikan tersebut tergolong signifikan, mencapai sekitar sembilan ribu rupiah per liter. Pertamax Turbo naik dari Rp13.100 menjadi Rp19.400 per liter. Dexlite meningkat dari Rp14.200 menjadi Rp23.600 per liter, sedangkan Pertamina Dex naik dari Rp14.500 menjadi Rp23.900 per liter.
Salah seorang sopir truk di Kotamobagu, Kenly, mengatakan bahwa antrean panjang disebabkan oleh masyarakat yang berebut kuota BBM subsidi. Kuota yang terbatas membuat warga harus datang lebih awal agar bisa mendapatkan bahan bakar. Kenly mengaku telah datang sejak pukul enam pagi waktu Indonesia Tengah. Bahkan, ia menyebut ada warga yang sudah mengantre sejak malam hari. Untuk sekali pengisian, dirinya harus menunggu hingga tiga jam. Ia menegaskan, kondisi ini berdampak langsung pada pekerjaannya. Sebab, tanpa bahan bakar, aktivitas distribusi tidak dapat berjalan.
Kenly juga menyampaikan kekhawatirannya terhadap kondisi ekonomi keluarganya jika situasi ini terus berlanjut. Ia berharap pemerintah dapat kembali mengkaji dampak dari kenaikan harga BBM nonsubsidi, khususnya bagi masyarakat kecil.
Pengaruh Harga BBM Nonsubsidi Terhadap Masyarakat
Di SPBU 74.956.04 Sonder, Minahasa, antrean panjang kendaraan untuk mengisi BBM subsidi jenis solar juga terjadi. Puluhan kendaraan, didominasi truk dan bus, tampak mengular hingga beberapa meter dari area SPBU. Kondisi ini terjadi seiring banyaknya masyarakat yang beralih ke solar subsidi akibat selisih harga yang cukup jauh dibandingkan BBM nonsubsidi.
Lonjakan harga BBM ini disebut-sebut tidak lepas dari dampak konflik di kawasan Timur Tengah yang turut memengaruhi harga minyak dunia. Situasi tersebut kemudian berimbas pada penyesuaian harga BBM nonsubsidi di dalam negeri. Meski harga BBM nonsubsidi mengalami kenaikan signifikan, harga BBM subsidi seperti solar masih terpantau stabil. Namun demikian, kondisi ini justru memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat, terutama bagi pengguna kendaraan besar seperti bus dan truk.
Kenaikan harga ini dinilai menjadi ancaman, khususnya bagi mereka yang sebelumnya memilih BBM nonsubsidi untuk menghindari antrean panjang. Kini, selain harus menghadapi harga yang melonjak, mereka juga terpaksa beralih ke BBM subsidi dengan konsekuensi antre lebih lama.
Respons Masyarakat Terhadap Kenaikan Harga BBM
Pemerintah resmi menaikkan harga bahan bakar minyak atau BBM nonsubsidi pada Sabtu (18/4/2026). Kebijakan ini pun menuai beragam respons dari masyarakat. Sejumlah pengendara mengaku terkejut lantaran tidak adanya pengumuman resmi sebelumnya terkait kenaikan harga tersebut.
Salah satu pengendara mobil di Manado, Pricillia, mengaku baru mengetahui kenaikan harga BBM ini sehari setelah kebijakan diberlakukan. Ia menilai perubahan harga terjadi secara mendadak. Pricillia menyampaikan, dirinya sempat kaget karena tidak ada informasi sebelumnya mengenai rencana kenaikan harga. Meskipun demikian, ia mengaku masih mampu membeli BBM nonsubsidi jenis Pertamina Dex dan berencana tetap menggunakannya. Namun, ia juga mempertimbangkan alternatif lain, tergantung pada ketersediaan BBM di SPBU.
Sementara itu, pengendara lainnya, Roberto, juga mengaku terkejut dengan kenaikan harga yang dinilai tanpa pemberitahuan. Menurutnya, kenaikan harga bukan menjadi persoalan utama. Namun, ia menilai pemerintah seharusnya memberikan informasi lebih awal agar masyarakat dapat mempersiapkan anggaran.






