Perjalanan Dakwah Aipda Rieswan di Meratus: Awalnya dari Cerita Da’i

Kegiatan Donasi untuk Mualaf di Pegunungan Meratus

Menjelang siang, Rieswan Tirtana, seorang warga Kota Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), mulai mempersiapkan perlengkapan dan paket berupa perlengkapan salat serta Al-Qur’an. Ia akan membawa bantuan tersebut ke Pegunungan Meratus, Kecamatan Loksado. Perlengkapan ini merupakan donasi dari berbagai warga yang dikumpulkan untuk diserahkan kepada para mualaf di Desa Ulang.

Rieswan, yang merupakan anggota Polri berpangkat Ajun Inspektur Polisi Dua (Aipda) di Polres HSS, adalah salah satu warga yang peduli terhadap perkembangan para mualaf di daerah pegunungan tersebut. Kali ini ia berangkat sendirian menggunakan sepeda motor. Sebelumnya, penyerahan donasi sering dilakukan bersama rombongan.

Sebelumnya, penyaluran donasi menyasar mualaf di Dusun Aitih, Desa Kamawakan. Aksi Rieswan ini merupakan inisiatif pribadi yang bermula empat tahun lalu ketika ia mendengar cerita para da’i di pedalaman Loksado. Dari situ, hatinya tergerak untuk membantu para da’i dan mualaf. Awalnya, ia membuka donasi berupa pakaian layak pakai, keperluan salat, Al-Qur’an, dan sebagainya. Donasi ini disambut baik oleh teman-teman dan warga.

Lokasi pertama penyaluran donasi adalah Dusun Aitih karena ada pembangunan musala. Rieswan, yang tergabung dalam Relawan HSS Bersatu dan Forum Majelis Taklim HSS, menjalankan aksi ini sebagai langkah lanjutan dari beberapa pendakwah sebelumnya. Da’i seperti Habib Sayyid Abdussalam bin Al Kaff, mantan Ketua MUI Loksado Mahyudi, serta Ali Sadikin, koordinator pembangunan musala di Aitih, juga pernah melakukan hal serupa.

Seiring berjalannya waktu dan antusiasme donatur, akhirnya dibuka kembali donasi kedua. Barang-barang yang terkumpul seperti pakaian, sarung, mukena, dan Al-Qur’an kemudian diserahkan kepada mualaf di Desa Ulang. Di Loksado, terdapat beberapa desa dengan para mualaf, antara lain Ulang, Loksado, Loklahung, Kamawakan, Haratai, Tumingki, Halunuk, Hulu Banyu, dan Malinau, dengan jumlah sekitar 300 orang. Lokasi-lokasi ini secara bergiliran menjadi sasaran Rieswan.

Namun, lantaran membawa bantuan menggunakan sepeda motor, ada keterbatasan dalam jumlah dan jenis barang yang bisa dibawa. “Menggunakan sepeda motor karena hanya bisa dijangkau dengan sepeda motor. Selain itu, perlu memperhatikan cuaca dan sebagainya. Itupun hanya satu atau dua paket. Bila bisa dilintasi mobil tentu lebih banyak dan mudah,” jelasnya.

Sulitnya perjalanan terbayarkan oleh kebahagiaan melihat para mualaf tersenyum karena merasa diperhatikan. Misalnya saat menyalurkan donasi di Musala Al-Ikhwan Desa Ulang yang baru saja dibangun dengan ukuran 3×5 meter persegi. Ketersediaan Al-Qur’an dan buku Iqra masih terbilang sedikit, demikian pula da’inya. Hal ini kembali diutarakan Rieswan kepada teman-teman untuk penggalangan donasi. Salah satunya adalah penempatan santri guna menjadi imam saat Ramadan. Kerja sama dengan pondok pesantren bisa menjadi solusi.

Semua ini dilakukan Rieswan dengan penuh kenikmatan. Dia juga bisa menikmati perjalanan dan suasana alam pegunungan selepas tugasnya sebagai anggota Polri. “Mungkin kendala di lapangan lebih kepada fasilitas jalan menuju lokasi. Khususnya di Dusun Aitih, Desa Kamawakan, yang masih banyak lubang dan Desa Ulang yang kesulitan akses roda empat ketika berpapasan,” beber Rieswan, yang juga aktif sebagai Ketua Harian Relawan HSS Bersatu setiap momentum 5 Rajab di Sekumpul, Martapura, Kabupaten Banjar.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *