JAKARTA – Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 ASEAN akan dihelat di Cebu, Filipina pada 7 hingga 9 Mei 2026. Presiden Joko Widodo dijadwalkan menghadiri tiga pertemuan tingkat tinggi yang terkait dengan KTT tersebut. Pertama adalah KTT Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Philippines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) yang akan berlangsung pada 7 Mei 2026.
Pada hari berikutnya, Presiden akan hadir dalam KTT ke-48 ASEAN yang akan diselenggarakan dalam dua sesi, yaitu sesi pleno dan sesi retreat. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa fokus utama dari KTT ini adalah membahas dampak konflik global terhadap kawasan ASEAN, khususnya isu ketahanan energi, ketahanan pangan, dan stabilitas ekonomi di Asia Tenggara.
Sebagai bagian dari rangkaian acara KTT ke-48 ASEAN yang akan berlangsung di Cebu, Filipina pada 7–8 Mei 2026, juga akan dilaksanakan ASEAN Economic Community (AEC) Council atau AECC Meeting. Acara ini akan diadakan di Dusit Thani Cebu, Filipina pada 7 Mei 2026. AECC Meeting merupakan pertemuan tahunan para Menteri Dewan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
Filipina, sebagai Ketua ASEAN untuk tahun ini, akan memimpin pertemuan tersebut. Delegasi Indonesia akan dipimpin langsung oleh Menko Airlangga sebagai AEC Council Minister Indonesia. Beberapa agenda utama yang akan dibahas dalam AECC Meeting antara lain:
- Current Global Landscape and Challenges
- Priority Economic Deliverables
- AEC Blueprint 2025
- ACV 2045 and AEC Strategic Plan 2026-2030
- AEC Works on Cross-Cutting Agenda
- Timor Leste’s Membership in ASEAN
- ASEAN DEFA Negotiations – Critical Issue for Guidance and Updated Work Plan for a Full Conclusion of DEFA
- ADB Concept Note
- Preparation for the 48th ASEAN Summit
ASEAN menunjukkan ketahanan ekonomi yang kuat pada 2025 dengan pertumbuhan mencapai 4,9 persen, melebihi proyeksi awal. Dalam keketuaannya di tahun 2026, Filipina mengusung tema “Navigating Our Future Together”, yang mencerminkan upaya bersama dalam memperkuat kawasan ASEAN yang berlandaskan persatuan, kejelasan arah kebijakan, serta tujuan bersama yang terukur.
Menko Airlangga menjelaskan bahwa kinerja ekonomi ASEAN ini mencerminkan fundamental kawasan Asia Tenggara yang cukup solid di tengah tekanan global.
Terdapat 19 Priority Economic Deliverables (PED) yang ditargetkan akan diselesaikan ASEAN di tahun ini, yang mendukung lima fokus utama, yaitu:
- Penguatan perdagangan dan investasi
- Percepatan transformasi
- Integrasi pengembangan UMKM
- Pemanfaatan ekonomi kreatif dan inovasi
- Pembangunan berkelanjutan dan inklusif
Seluruh PED tersebut ditargetkan selesai pada 2026, dipimpin oleh badan sektoral AEC serta memerlukan dukungan lintas sektor dan lintas pilar.
Terkait dengan perkembangan negosiasi ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA), semua substansi secara umum sudah disepakati, sehingga hanya menyisakan proses legal scrubbing untuk kemudian ditandatangani pada ASEAN Summit bulan November 2026 yang akan datang.
Implementasi DEFA akan dapat mendongkrak nilai ekonomi digital ASEAN menjadi USD 2 triliun pada tahun 2030, naik dari perkiraan awal yang sebesar USD 1 triliun.
DEFA merupakan salah satu warisan penting (legacy) dari Keketuaan Indonesia di ASEAN pada 2023, yang ditargetkan akan diselesaikan pada tahun ini.






