Bija Coffee: Menawarkan Kopi Indonesia di Negeri Teh Inggris

Kehadiran Bija Coffee di London: Membawa Kopi Indonesia ke Pasar Global

Di sebuah sudut St James’s Market yang sibuk, tak jauh dari Piccadilly Circus, aroma kopi menyebar dari sebuah kedai kecil bernama Bija Coffee. Di tengah kota yang selama berabad-abad dikenal sebagai pusat budaya teh, kopi kini telah menjadi bagian dari ritme harian, dan di antara deretan coffee shop global, kopi Indonesia mulai mencari tempatnya.

Namun, kehadiran brand seperti Bija memunculkan pertanyaan yang lebih luas: apakah ini tanda daya saing nyata kopi Indonesia di pasar global, atau masih bertumpu pada narasi asal-usul dan kedekatan budaya?

Bagi banyak bisnis diaspora, pasar awal biasanya terbatas pada komunitas sendiri. Namun Bija mencoba keluar dari pola itu. “Saat ini, lebih dari 80% pelanggan Bija adalah warga lokal London. Pada hari kerja, mayoritas merupakan pekerja kantor dari area St James’s Market, Piccadilly Circus, hingga Trafalgar Square. Banyak dari mereka adalah pelanggan tetap yang datang hampir setiap hari, bahkan beberapa mengonsumsi kopi hingga dua atau tiga kali sehari. Relasi ini berkembang menjadi cukup personal; barista kami mengenal preferensi minuman mereka tanpa perlu banyak penjelasan,” Ungkap Devi Trianna, pendiri Bija Coffee.

Di akhir pekan, komposisi pelanggan berubah, dengan kehadiran turis internasional dan diaspora Indonesia. “Namun, sejak awal kami tidak membangun bisnis ini hanya untuk diaspora Indonesia. Tetapi tujuan kami adalah menjangkau pasar lokal dan menjadi bagian dari kebiasaan konsumsi kopi warga London.”

Data ini menunjukkan indikasi awal penetrasi pasar. Tetapi di kota seperti London, dengan budaya kopi yang sangat kompetitif, penetrasi bukan berarti dominasi.

Strategi Diferensiasi di Pasar yang Matang

Masuk ke pasar kopi London berarti berhadapan dengan standar yang sudah mapan, baik dari sisi origin maupun ekspektasi konsumen. “Masuk ke pasar utama London berarti berhadapan langsung dengan ekosistem kopi yang sangat matang dan kompetitif. Origin seperti Brasil, Kolombia, dan Ethiopia sudah lama menjadi standar di banyak coffee shop artisan atau specialty dan di chain coffee shop sekelas Costa, Nero, dan lainnya. Dalam konteks ini, membawa kopi Indonesia bukan hanya soal produk, tetapi soal membangun persepsi.”

Strategi Bija bertumpu pada kombinasi adaptasi dan identitas. “Strategi kami berangkat dari dua hal: relevansi dan diferensiasi. Di awal, kami sengaja menggunakan origin Indonesia yang sudah dikenal di Eropa, seperti Sumatra Mandailing, Sumatra Lintong, dan Old Brown Java, sebagai ‘entry point’. Namun, kami menghadirkannya dalam kualitas grade 1 dengan pendekatan roasting yang berbeda disesuaikan dengan cita rasa kopi yang biasa dikonsumsi warga London.”

Namun diferensiasi tidak hanya pada biji, melainkan juga pengalaman. “Nama-nama seperti ‘kopi susu’ atau ‘kopi tubruk’ sengaja dipertahankan. Dari rasa ingin tahu, terjadi dialog. Dari dialog, muncul keberanian untuk mencoba. Dari situ terbentuk penerimaan.” Pendekatan ini menunjukkan bahwa kompetisi tidak hanya terjadi pada kualitas produk, tetapi juga pada bagaimana produk tersebut dipahami.

Antara Keberagaman dan Tantangan Struktural

Di tingkat kebijakan, pemerintah Indonesia menempatkan kopi sebagai bagian dari strategi ekonomi yang lebih luas. Duta Besar Indonesia di Inggris, Desra Percaya, menekankan bahwa ekspansi ini bukan sekadar simbolik. “Ekspansi kopi Indonesia ke pasar Inggris tentu saja bukan hanya semata-mata terkait nation branding dan diplomasi budaya saja tetapi ini adalah cerminan dari kondisi pertanian yang riil.”

Ia menambahkan, Indonesia merupakan produsen kopi terbesar keempat di dunia, dengan luas perkebunan lebih dari 1,26 juta hektar, kapasitas produksi sebesar 832.000 ton pada tahun 2025, serta 60 indikasi geografis yang terdaftar secara internasional. Nilai ekspor kopi Indonesia mencapai USD 2,51 miliar (Rp38,9 triliun) selama periode 2021–2025, dengan tren pertumbuhan sebesar 28,44%.

Keunggulan utama Indonesia, menurut Desra, terletak pada keberagaman. “Yang membedakan Indonesia dari banyak produsen lainnya adalah kedalaman keberagaman asal-usulnya… Setiap wilayah memiliki profil rasa yang khas… Inilah yang kami sebut sebagai mosaik sensorik Indonesia.”

Namun, keunggulan ini juga membawa konsekuensi di tingkat operasional. Variabilitas rasa menuntut kontrol kualitas yang ketat di tingkat hilir, sesuatu yang diakui oleh pelaku usaha. “Menjaga konsistensi juga menjadi tantangan tersendiri, mengingat variabilitas kopi Indonesia yang cukup tinggi. Ini menuntut kami untuk bekerja sangat dekat dengan roaster dan menjaga standar yang ketat,” ungkap Devi Trianna.

Narasi Keberlanjutan dan Realitas Pasar

Di pasar Inggris, isu keberlanjutan menjadi faktor penting dalam keputusan konsumen. Pemerintah Indonesia melihat ini sebagai peluang. “Isu sustainability bagi kami bukan compliance exercise tetapi justru harus menjadi competitive differentiator… sekitar 70 persen petani kopi Indonesia adalah perempuan… setiap cangkir kopi Indonesia yang diminum di London adalah kontribusi langsung pada penghidupan jutaan keluarga petani kecil,” kata Desra.

Namun di tingkat bisnis, narasi ini perlu diterjemahkan menjadi pengalaman yang dapat dipahami konsumen. Devi Trianna menjelaskan, “Edukasi kami lakukan melalui pendekatan yang sederhana namun konsisten: pengalaman langsung. Kami mengadakan coffee cupping, memberikan sampel gratis… serta menyediakan informasi flavour notes…”

Bija juga mencoba mengaitkan produk dengan nilai keberlanjutan secara konkret. “Beberapa kopi yang kami gunakan berasal dari wilayah yang tidak hanya fokus pada kualitas, tetapi juga dampak sosial dan lingkungan… termasuk kawasan yang membantu melindungi habitat hewan langka seperti kukang… serta komunitas koperasi petani kopi yang mayoritas dikelola oleh petani kopi perempuan,” ujarnya.

Di tengah kompetisi yang padat, pendekatan ini menghasilkan pertumbuhan, meski secara organik. “…jumlah pelanggan meningkat lebih dari 70% dalam satu tahun, serta adanya pengakuan dari industri seperti penghargaan Best New Coffee Shop of the year 2025 di ajang London Coffee Festival.”

Pada akhirnya, Bija berdiri di antara dua dunia: sebagai bisnis independen yang harus bertahan di pasar yang sangat kompetitif, sekaligus sebagai representasi dari upaya lebih besar membawa kopi Indonesia ke panggung global.

“Bagi kami, ini bukan sekadar menjual kopi Indonesia di London. Ini tentang membangun jembatan, antara budaya, rasa, pengalaman, dan kebiasaan,” kata Devi Trianna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *