IHSG Berpotensi Volatil Akibat Sentimen Dalam dan Luar Negeri

Pergerakan IHSG yang Volatil Didorong oleh Berbagai Faktor



Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari Kamis diperkirakan akan bergerak volatil. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai sentimen baik dari dalam maupun luar negeri. Pada awal perdagangan, IHSG dibuka dengan kenaikan sebesar 47,99 poin atau 0,76 persen ke posisi 6.366,49. Sementara itu, Indeks LQ45 juga mengalami kenaikan sebesar 4,28 poin atau 0,68 persen ke posisi 634,96.

Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas menyatakan bahwa IHSG diperkirakan masih akan bergerak volatil dalam jangka pendek. Hal ini didasarkan pada berbagai faktor yang memengaruhi pasar saham.

Sentimen Dalam Negeri

Dari dalam negeri, IHSG sempat mengalami rebound menjelang pidato Presiden Prabowo Subianto di DPR. Namun, sentimen pasar berubah menjadi negatif setelah adanya pernyataan pemerintah terkait rencana tata kelola ekspor satu pintu untuk komoditas strategis melalui BUMN ekspor. Kebijakan ini memicu kekhawatiran investor terhadap potensi intervensi pemerintah dan perubahan mekanisme perdagangan. Selain itu, ada risiko penurunan fleksibilitas pelaku usaha, terutama pada sektor batu bara dan minyak kelapa sawit (CPO).

Kebijakan BI yang Mempengaruhi Pasar

Di sisi makro, Bank Indonesia (BI) melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) secara mengejutkan menaikkan BI-Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25 persen. Tujuan dari kebijakan ini adalah stabilisasi rupiah di tengah tekanan eksternal dan meningkatnya volatilitas global akibat tensi geopolitik Timur Tengah. Meskipun kebijakan ini berhasil mendorong penguatan nilai tukar Rupiah, kenaikan suku bunga juga meningkatkan kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi domestik dan biaya pendanaan korporasi.

Pengaruh dari Luar Negeri

Dari luar negeri, penurunan harga minyak lebih dari 5 persen terjadi setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai kemajuan negosiasi AS dengan Iran. Hal ini memicu harapan meredanya risiko geopolitik Timur Tengah dan berpotensi menurunkan tekanan inflasi global. Kondisi tersebut juga mendorong yield Treasury AS tenor 10 tahun turun lebih dari 9 bps, setelah sebelumnya mencapai level tertinggi multi-tahun akibat kekhawatiran inflasi dan potensi kebijakan moneter The Fed yang lebih hawkish.

Meski sentimen pasar saham AS membaik, risalah rapat The Fed tetap menunjukkan nada hawkish. Mayoritas pejabat membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan jika inflasi tetap tinggi akibat konflik geopolitik dan kenaikan harga energi.

Kondisi Pasar Global

Secara keseluruhan, penguatan bursa Wall Street memberikan ruang positif bagi aset berisiko global. Namun, volatilitas diperkirakan tetap tinggi seiring ketidakpastian arah suku bunga AS, geopolitik Timur Tengah, serta sustainability euforia AI global.

Pada perdagangan Rabu (20/5) kemarin, bursa saham Eropa kompak menguat. Di antaranya, Euro Stoxx 50 menguat 2,09 persen, indeks FTSE 100 Inggris menguat 0,99 persen, indeks DAX Jerman menguat 1,38 persen, serta indeks CAC 40 Prancis melemah 1,70 persen.

Bursa AS Wall Street juga kompak menguat pada Rabu (20/5), diantaranya Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 1,31 persen, indeks S&P 500 menguat 1,08, dan indeks Nasdaq Composite menguat 1,66 persen.

Kondisi Pasar Regional Asia

Bursa saham regional Asia pagi ini juga menunjukkan kenaikan. Antara lain, indeks Nikkei menguat 2.158,59 poin atau 3,61 persen ke 61.963,00, indeks Shanghai menguat 31,79 poin atau 0,76 persen ke 4.193,97, indeks Hang Seng menguat 29,88 poin atau 0,12 persen ke 25.681,00, dan indeks Strait Times menguat 19,92 poin atau 0,39 persen ke 5.064,83.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *